Membaca Tanda-Tanda Alam Ala Atoen Meto

 

Alam Selalu Berkomunikasi Jika Manusia Peka Dan Memperhatikannya.

(Membaca Tanda-Tanda Alam Ala Atoen Meto)

Penulis bersama pangeran kami di kebun saat menikmati jagung muda

Negara memiliki BMKG yang berperan penting sebagai garda terdepan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia. Peran ini diwujudkan melalui penyediaan peringatan dini cuaca ekstrem, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta edukasi untuk memperkuat ketahanan iklim masyarakat.

Namun jauh sebelumnya adanya BMKG,Atoen meto di pah Timor–NTT telah mengandalkan alam dalam urusan ini.

Bagi Atoen Meto, alam adalah buku besar yang selalu memberikan tanda yang dapat menjadi petunjuk bagi mereka, dalam melakoni kehidupan sehari-hari. Sebut saja awan nan pekat menandakan hujan lebat atau badai akan datang, sementara arah angin dan gerakannya sering menjadi sinyal perubahan cuaca.

Dalam tulisan saya tentang kalender musim dalam tatanan masyarakat atoen meto, disana tertulis jelas bahwa seorang atoen meto memilki kalender kerja yang tertata rapi. Dalam menjalankan kalender kerjanya atone meto wajib hukumnya membaca dengan seksama tanda-tanda alam.

Kol ulan (Burung Sempur Hujan) saat mengeluarkan suara melengking yang khas,terutama di area semak-semak hutan seorang atoen meto akan bergeming apalagi ladang belum siap, karena kol ulan saat suaranya melengking pertanda akan segera hujan.

Atoen meto dalam hal tertentu ahli dalam membaca perubahan perilaku hewan, baik hewan piaraan maupun hewan liar. Atone meto sadar bahwa  banyak hewan memiliki insting lebih tajam terhadap kondisi lingkungan sekitar. Sebut saja burung yang terbang rendah pertanda cuaca sedang tidak baik-baik saja.

Sapi atau kerbau di kandang tiba-tiba gelisah, pertanda mungkin akan terjadi gempa bumi. Ketika hal ini terjadi atoen meto akan berucap “ nat lek lek nainunse he nem”.

Air sungai yang tiba-tiba keruh, Atoen Meto akan berucap “ oele naleke, ait naijane noka “ (air keruh menjadi pertanda longsor di hulu)

Selain binatang, tumbuhan juga memberikan tanda tentang keadaan alam. Oteon meto biasanya bilang “ati, mael nat lal” ketika melihat tanaman seperti mael menunduk tanda kelembapan udara berubah drastis.

Atoen meto juga ahli dalam mengamati tanda alam di langit dan fenomena optik di atmosfer. Misalkan, munculnya cincin cahaya di sekitar matahari dan bulan,pertanda dalam waktu dekat kemungkinan akan turun hujan. Biasanya atoen meto akan berusaha menyelesaikan persiapan ladang dan kalau dalam perjalanan akan cepat pulang ke rumah.

Atoen meto Jika kabut tipis bergerak ke atas, Atoen meto akan tenang karena mereka yakin cuaca akan tetap cerah. Dan sebaliknya jika seorang Atoen meto memandang kabut tebal di pagi hari, mereka akberucap “Neno ia maputu (hari ini akan panas). Sehingga Atoen Meto memanfaatkannya untuk jemur.

Dengan mempelajari tanda-tanda alam seperti ini, seorang atoen meto dapat lebih siap menghadapi bencana, menjaga keselamatan, serta memahami bahwa alam selalu berkomunikasi jika Atoen Meto peka dan memperhatikannya. 

Akhir kata, alam adalah buku besar yang menjadi petunjuk yang dapat membantu manusia atoen meto (hit/kita) membaca kondisi cuaca, memprediksi potensi bencana, dan atau mengenali arah.

 

Bello, 1 Juli 2026, Pukul 20.32

Tanus Korbaffo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Panjang Paroki St.Fransiskus Assisi Kolhua Kupang, Dari 1 KUB Sampai Menjadi Satu Paroki

Untukmu Eja Kompol Cosmas Kaju Gae

Refleksi Akhir Tahun 2025 & Menyongsong 2026