Bisikan Angin Malam

 BISIKAN ANGIN MALAM !



Angin sepoi-sepoi basah di sekitar pondok kami membawa kesejukan bagi kami sekeluarga. Belum lagi pondak kami yag berdiri kokoh di atas bukit, apalagi dikelilingi pepohan nan hijau membuat suasana semakin adem ayem.

Angin malam itu, 16 Juli 2026 benar-benar mengiringi kami menikmati indahnya malam. Pondok kami berada di kelurahan Bello, sebuah kelurahan di pinggiran kota Karang(Kota Kupang)

Kelurahan Bello saat ini tidak seperti dulu lagi, dengan hadirnya para developer yang membangun perumahan siap huni di sekitar Bello, membuat kelurahan Bello ramai dan semakin hari semakin padat. Meskipun demikian ada wilayah disekitar Bello, termasuk wilayah disekitar pondok kami masih asri.

Malam ini, saya duduk di teras pondok kami sambil memainkan jari di atas tuts laptop di iringi angin sepoi-sepoi basah. Dari kejauhan terdengar nyanyian jangkrik di balik pepohan atau dedaunan kerang membuat suasana semakin adem. Sesekali terdengar bunyi kendaran dari kejauhan pertanda masih ada orang yang belum masuk rumah.

Angin malam ini bertiup perlahan seolah sedang berhenti sejenak untuk membisikan sesuatu di telingiku. Bisikan angin malam ini terdengar samar-samar dan membutuhkan kepekaan tingkat dewa untuk mencerna apa yang di bisikan. Saat saya berjuang mendengar bisikan angin itu, si setia sang security di pondok kami menggonggong, mengisyaratkan kalau ada yang lewat.

Saya bertanya lagi pada angin apa yang dibisikan, angin tidak marah, malah ia meminta saya mendengar dengan hati bukan dengan telingi. Saat itu saya sadar bahwa bisikan angin malam ini hanya bisa di pahami manakala saya mendengar dengan hati bukan dengan telingi.

Angin berbisik bahwa ketika matahari kembali keperaduannya, pada hakekatnya manusia memasuki suasana malam yang sunyi, saat itu anda di berikan ruang privasi untuk beristirahat dan mengevaluasi diri. Ada keberhasilan, ada kegagalan, ada rencana yang tertunda dan ada yang diselesaikan, semua mestinya dikembalikan pada Sang Empunya Hidup.

Angin melanjutkan bisikannya, bahwa hidup ini indah kalau anda pandai menikmatinya. Jangan anda memaksakan diri menjadi orang lain, jadilah diri sendiri, karena anda adalah anda mereka adalah mereka, anda tidak mungkin mengukir sejarah hidupmu di atas kanvas milik orang lain. Orang lain memiliki sejarah hidupnya sendiri dan andapun demikian.

Teruslah menulis karena ketika apa yang anda tulis bukan milikmu tetapi anda meluliskan apa yang dititpkan. Tulisanmu adalah harta karun tak ternilai bagi generasi yang akan datang.

Angin malam ini berbisik, dunia ini sedang tidak baik-baik saja, dunia sedang sakit kronis, teruslah bersuara meski suaramu mungkin hilang diantara dedaunan, namun itu bukan halangan bagimu untuk berhenti bersuara. Goreskan titipan itu untuk mereka yang memiliki wewenangan untuk menyembuhkan penyakit kronis yang sedang di derita bangsa ini.

Angin berbisik “ dunia ini memang tidak adil” ada yang kayaraya bahkan  tidur diatas tumpukan harta, ada yang hidup di bawah garis kemiskinan dan ingatlah bahwa banyak orang tidak memiliki tabungan untuk hari tua, karena untuk makan saja hari ini sulit apalagi simpan untuk hari tua. Ada yang memiliki tabungan mungkin triliunan bahkan bank tidak sanggup menyimpan kekayaannya, sehingga harus simpan uang tunai triliunan di rumah dengan batangan emas yang begitu banyak.

Angin mala mini masih ingin terus berbisik, namun saya meminta dengan halus agar bisikannya disudahi dan akan dilanjutkan hari esok.

 ----bersambung-------

Bello, Kamis 16 Juli 2026, pukul 21.30 Menit

Salam & doaku

Tanus Korbaffo

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Panjang Paroki St.Fransiskus Assisi Kolhua Kupang, Dari 1 KUB Sampai Menjadi Satu Paroki

Untukmu Eja Kompol Cosmas Kaju Gae

Refleksi Akhir Tahun 2025 & Menyongsong 2026