Pastor Bonus

 

Pastor Bonus

( Refleksi Atas Hari Minggu Panggilan 11 Mei 2025)


Bersama anak-anak calon sambut baru Stasi Noesines seusai pembinaan
Minggu, 11 Mei 2025

Di pondok kami saya beternak kecil-kecil. Ada merpati, ada babi, ada ayam, anjing dan kucing. Para piaraan saya ini sudah hafal benar suara saya. Di pagi atau sore hari ketika pintu samping di buka dan mendengar suara saya, babi babi akan berteriak, hal yang sama merpati akan turun dari kediamannya dan mendekati saya, piaraan saya ini dekat sekali dengan saya.

Saat saya beri jagung dan ketika ada orang baru termasuk seisi rumah yang tidak biasa beri makan semua akan terbang menjauh. Peristiwa ini mengingatkan saya akan peristiwa 40-an tahun silam saat masih remaja di kampung. Tempoe itu, piaraan di lepas bebas. Di senja hari saat hendak di beri makan, ada yang pukul tempat makannya dan ada yang memanggil dan benar saat mendengar suara itu akan berlari menuju tuannya dan diberi makan atau segera di masukan ke kandang.

Judul tulisan ini adalah Pastor bonus (gembala yang baik)

Gembala adalah orang yang memelihara ternak kambing, domba, sapi, dan lembu. Antara gembala dan hewan piaraannya terjalin relasi yang dekat. Seperti kisah saya di atas, sang gembala mengenal hewan piaraannya: warna bulunya, namanya, dan lain sebagainya. Dan sebaliknya, hewan piaraannya juga mengenal gembala atau tuannya, suaranya, kode-kodenya, dan mungkin baunya. Apabila hewan ternaknya mendengar suara khas tuannya, ia akan berlari mendekat kepada yang memanggilnya. Jika suara itu asing baginya, maka hewan itu tidak akan datang, bahkan menjauh atau menyerang orang yang memanggil. Dan masih banyak lagi.

Hari ini kita merayakan Minggu panggilan, dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus menyebut diri Gembala baik. Selain menggambarkan relasi yang dekat  antara Yesus  dengan domba-domba-Nya , Yesus juga memberi jaminan hidup kekal kepada mereka yang percaya kepada-Nya.


Saat memberi pembinaan bagi anak calon sambut baru di Stasi Noesines
Minggu, 11 Mei 2025

Jaminan hidup kekal mengisyaratkan agar kita senantiasa peka dan setia mendengarkan suara Sang Gembala Agung. Suara itu dapat kita dengar dalam doa, Sabda-Nya.

Jadilah gembala yang baik paling tidak untuk diri sendiri, keluarga dan orang sekitar kita. Jadilah pribadi yang kehadiran kita dirindukan,bukan malah tidak diharapkan kita hadir. Dan kalau tokh tidak bisa menjadi gembala yang baik paling tidak menjadi domba yang setia. Akan lebih mulia kalau kita menjadi gembala berbau domba.

 

Bello, 11 Mei 2025

Tanus Korbaffo

(Ketua Ikatan Katekis Paroki St.Fransiskus Assisi Kupang)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOAL – SOAL PERSIAPAN UJIAN AKHIR KELAS IX MATA PELAJARAN PEND.AGAMA KATOLIK & BUDI PEKERTI SMP KATOLIK ST.THERESIA KUPANG TAHUN 2025

Perjalanan Panjang Paroki St.Fransiskus Assisi Kolhua Kupang, Dari 1 KUB Sampai Menjadi Satu Paroki

Setelah 22 Tahun Mengabdi, Hari Ini Berakhir !