Selamat Jalan Ibu Guru Rosalia
Rerek Sogen
Semoga Darahmu
Menyuburkan Benih Perdamaian Di Tanah Papua
Tidak seorang manusiapun di dunia ini yang tahu kapan, dimana
dan dengan cara apa dia mati, kecuali mereka yang merencanakan bunuh diri.
Kematian adalah misteri yang tak seorangpun tahu. Karena kematian adalah misteri maka kedatangannya ibarat pencuri.
Ya ! siapa sangka hari itu Jumat 21 Maret 2025 sekira pukul 16.00 WIT kematian itu datang menjemput Rosalia Rerek Sogen, di usia 30 tahun. Perempuan asal Desa Bantala, Flores Timur, NTT itu yang sejak kecil bercita-cita menjadi seorang biarawati, harus tewas ditangan mereka yang haus darah.
Ros sang bunga dari kampung Bantala meninggalkan kampung halamannya dengan semua yang di cintainya ke pedalaman Papua. Ia hadir tanpa embel – embel politik, ia hadir dengan misi agar para bocah-bocah nan lugu di pedalaman Papua bisa membaca, menulis dan menghitung. Ros bersama teman-temannya, hadir dan menuliskan kata-kata cinta di papan lusuh dan diikuti para bocah menirukan tulisannya dikertas sobek agar habis gelap lahirlah terang untuk bocah-bocah yang ia ajar.
30 Tahun silam darah itu mengalir mungkin di sebuah puskesmas
pembantu tatkala mamanya Valentina Weli Hewen melahirkannya. Kini darah itu mengalir
deras di pedalaman Papua.
Ketika mendengar kabar duka ini, satu pertanyaan muncul di sanubariku,
sampai kapan darah harus mengalir di tanah Papua, ?
Semoga darah sang ibu guru Rosalia Rerek Sogen menyuburkan benih perdamaian di tanah Papua.
Bello, 26325
(Tanus Korbaffo)

Komentar
Posting Komentar