Elias Esme ?
ELIAS ESME?
(Ketika Gaung Lonceng Gereja Dan Lilin Altar Mati Suri)
Judul tulisan ini kedengarannya asing ditelinga kita dan bagi
orang Timor,(Dawan) judul ini sepertinya menggelikan.
Ia, judul tulisan ini memang asing dan lucu. Elias esme? Satu kalimat tanya yang hanya terdiri dari dua kata yaitu elias dan esme. Elias mewakili jutaan koster diseluruh penjuru dunia, Elias adalah koster kami di Kapela St.Agustinus Bello, Paroki St.Fransiskus Assisi Kolhua Kupang, Keuskupan Agung Kupang.
Om Elias biasa kami menyapa sang koster ini, ia telah menjadi koster sejak usia 17 tahun dan kini telah berkepala lima, berarti bapak Elis telah menjalani tugas luhurnya sebagai koster hampir 40 tahun. Selain menjadi koster, om Elias juga menjadi karyawan di Biara SSpS Bello Kupang.
Esme kata yang diambil dari bahasa dawan (Timor) yang berarti ‘dimana”.
Kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, berarti elias dimana atau elias
ada dimana.
Hari itu, 20 Maret 2020, Jumat, ketiga dalam masa prapaskah yang
semestinya jutaan orang diseantero dunia menjalani ibadat jalan salip.
Pada pukul 08.20 menit Jumat, 20 Maret 2020, penulis mendapat
informasi berikut ini :
Kepada yth. Para
penasihat DPP, Para pengurus DPP, Ketua Wilayah, KUB dan semua umat Paroki St.
Fransiskus dari Assisi Kolhua, Di Tempat.
Salam jumpa dalam
Kasih Tuhan Yesus. Melalui media yang terhormat ini, selaku Pastor Paroki, saya
mau Informasikan utk kita semua tentang suara gembala dari YM. Bapak Uskup
Agung Kupang yang Isinya sbb:. 1. Utk devosi jalan salib di wilayah KAK untuk
sementara di jalankan masing-masing di rumah. 2. Untuk misa hari munggu khusus
di kota pun sementara ditiadakan sementara di pedalaman lihat kemungkinan. 3.
Kita tentu terus berdoa dan berharap agar wabah virus ini cepat berlalu dari
kita. 4. Jangan takut yang berlebihan tetap ada dalam kewaspadaan dan pengharapan
kepada Tuhan. Demikian suara gembala ini atas perhatian dan kerjasamanya saya
ucapkan terimakasih.
Salam hormat PASTOR
PAROKI ST. FRANSISKUS DARI ASSISI KOLHUA RD. FREDERIKUS S.A TAMELAB.
NB: Mohon informasi
ini diteruskan kepada umat di KUB.
Informasi dari pastor paroki ini, dalam sekejap telah diketahui oleh umat. Lain halnya dengan Om Elis dan nenek Theresia keduanya belum tahu informasi penting ini. Pukul 16.00 om Elis telah membunyikan lonceng kapela pertanda sebentar lagi ibadat jalan salib dimulai.
Pada saat membunyikan lonceng gereja, ada yang mengInformasikan tentang jalan salib di rumah masing-masing. Nenek Theresia bergegas menuju kapela ternyata kapela sunyi, ia duduk di tempat biasa ia duduk sebelum masuk kapela. Elias esme? Tanya nenek Theresia pada seorang pemudi, nin kini feta mpinan (lilin belum menyala).
Setelah diinformasikan tentang dihentikannya jalan salib, nenek Theresia akhirnya kembali dan terus bertanya mengapa tidak ada jalan salib.
Corona telah mengubah segalanya, sampai-sampai ada yang berucap “ dalam sejarah baru terjadi pertama kali, bersatu kita runtuh/mati, berpisah kita selamat/hidup”.
Tanta corona telah memaksa para abdi Negara dengan pakaian seragam beraktifitas di rumah. Ibu corona telah memaksa mama-mama dirumah menjadi guru untuk putra/i-nya.
Corona telah memaksa miliaran manusia dibumi melaksanakan ibadat jalan salib sendiri dirumah, corona memaksa jutaan manusia dibumi tidak menerima komuni suci diminggu prapaskah IV 22 Maret 2020. Semoga lonceng gereja kembali mengaum dan lilin altar kembali hidup tanpa rasa takut.
Sampai kapan lonceng gereja dan lilin altar terlelap tidur?
Seperti nenek Theresia, akupun rindu kembali bersama – sama umat di stasi Bello merayakan ekaristi bersama di kapelaku tercinta St.Agustinus Bello. Semoga Tuhan Yesus yang aku dan pembaca imani seperti pada saat menghardik badai dan gelombang dapat menghardik corona dari muka bumi.
Bello, Sabtu, 28 Maret 2020 (Sabtu terakhir bulan Maret)
Tanus Korbaffo (Katekis)

Komentar
Posting Komentar