In Memoriam Ambrosius Oki

 

IN MEMORIAM

 BAPAK AMBROSIUS OKI



Ambrosisus Oki demikian orang memanggil dan mengenalnya. Sosok sederhana dari sebuah kampung kecil di pedalaman kabupaten TTU, Bakitolas namanya. Ia menghabiskan hidup sebagai seorang guru Bahasa Indonesia di SMP Katolik Sta.Theresia Kupang.

Senin, 24 Februari 2025 merupakan hari dimana lembaran terakhir buku kehidupannya di tutup. 

Semasa hidup banyak karya ia tulis dan untuk mengenangnya sebagai teman guru, saya merangkum dan mengedit 30 karyanya sebagai kenangan indah.

Karya indah yang dimuat di sini diambil dari akun FB dalam rubric Cerita Warung Pojok. Selamat membaca, semoga Bpk.Ambros Bahagia di surga dan keluarga yang ditinggalkan mendapat kekuatan ini.

 SMPK Sta.Theresia Kupang 

25 Februari 2025 

Kayetanus Kolo

1. Lampu

Dulu aku sangat dibutuhkan di mana-mana oleh siapa saja, terutama mereka yang berada di alam pedesaan. Aku selalu disanjung-sanjung. Bila aku tiada, mereka dalam suasana gulita malam. Namun, itu dulu.

Kemudian datanglah yang bernama petromak atau di alam pedesaan mereka sebut lampu gas. Lalu aku sama sekali dilupakan. Maklum terangku tidak seterang yang namanya lampu gas. Tentang di Lampu gas ini ada sebuah cerita. Ceritanya sebagai berikut.

Ada seseorang yang tergolong orang cukup berada. Maklumlah ia punya kedudukan di zaman Portugis yang Sefi.

Suatu ketika si Sefi ini membeli sebuah lampu gas. Malam pertama ia mencoba membakar lampu gas itu. Kita tau bahwa untuk membakarnya digunakan yang namanya seperitus yang berada di bawah tiang lampu. Biasanya seperitus itu dibakar lalu dibiarkan beberapa saat sampai bola lampu gas itu menyala lalu dipompa. Saat seperitus dibakar, nyalanya cukup tinggi sampai keluar dari atas lampu.

Si Sefi ini melihat nyala begitu tinggi ia terkejut dan takut nanti rumahnya yang disebut sonaf terbakar, ia mengambil alu lalu menghancurkan lampu gas tersebut sambil katanya,"Ho upma bijae mese ho he mout maen kau sonaf," yang artinya hargamu hanya seekor sapi tapi mau bakar buang sonafku. Itu kisah cerita si penggantiku.

Lampu gas penggantiku ini pun tak bertahan lama. Ia pun digantikan dengan yang namanya Tante Lis. Tante Lis ini jauh lebih praktis karena tinggal tekan on menyalalah si Tante Lis. Cuma, sayang disayang, Tante Lis suka ngambek. Ngambeknya dengan selalu mati suri. Kalau sudah mati suri bisa berjam-jam bahkan berhari-hari. Itu si Tante Lis. Padahal, kita harus bayar belisnya setiap bulan. Belis Tante Lis ini tak akan pernah habis sampai turun temurun. Kalai hanya 250 juta kita bayar setiap bulan 300rb mungkin hanya 5-10 tahun belis Tante Lis sudah lunas. Ini tidak akan pernah lunas belis Tante Lis walaupun bayar setiap bulan 10 jutaan.

Liliba, 220225

2.    Aku Bunglon

 

Setiap orang di muka bumi ini mengenal aku. Mereka menamaiku BUNGLONG. Aku hanya seekor binatang melata. Tubuhku mungil dan memiliki ekor.

Aku BUNGLON. Warna tubuhku selalu aku sesuaikan dengan warna lingkungan tempat di mana aku berada. Bila aku berada di dedaunan pohon; warna tubuhku sudah pasti hijau seperti daun pohon tersebut. Bila berada di batu berwarna coklat warna tubuhku pun coklat. Akulah satu-satunya makhluk yang paling pandai berkamuflase.

Aku BUNGLONG. Bila aku berada di sofa berwarna putih warnaku pun putih. Tapi warna sofa coklat warna tubuhku coklat. Bila warna sofanya biru warna tubuhku pun biru. Hebat kan aku ini.

Cuaca di bumi ini sedang tidak menentu. Selalu berubah setiap saat. Oleh karena itu, warna tubuhku pun harus sesegera mungkin berubah warna sesuai cuaca saat itu.

Aku BUNGLON. Dunia sekarang dipenuhi segala macam perubahan, termasuk perubahan anggaran negara di negeri KONOHA. Ada pemangkasan anggaran demi efesiensi. Ya, demi efisiensi. Aku di BUNGLON ingin mengubah warna tubuhku. Namun, aku sendiri bingung mau warna tubuh warna apa. Aku mencoba merenung sepanjang waktu untuk.memilih warna tubuh. Aku mau pilih warna abu-abu. Mungkin ini warna yang pas untukku.

Apalagi baru saja pelantikan gubernur dan wakilnya, bupati dan wakilnya, walikota dan wakilnya.

Aku lihat-lihat pakaian kebesaran mereka semua berwarna putih. Aku si BUNGLONG ingin sesuaikan warnaku dengan warna pakaian kebesaran mereka, yakni putih. Namun, aku rasa itu warna melambangkan kesucian tapi ingat bukan kecucian.

Aku BUnglon. Pingin nyusup masuk untuk ikut RETRET di Magelang. Hanya ingin tau apa yang disampaikan di sana. Sekarang bingung aku masalah penyesuaian warna tubuh jadi masalah besar. Karena saat di Magelang kemungkinan besar warna pakaian para peserta adalah putih menyeluruh. Celana dan baju semuanya putih.

Aku si BUNGLONG apa pun yang terjadi harus ikut RETRET itu. O, aku ingat sekarang yakni warna meja kursi di sana pasti ada yang coklat. Jadi alangkah bagusnya warna tubuh aku pilih coklat. Mau pilih oranye nanti aku ketahuan. Nanti mereka bilang aku ini tahanan yang menyusup masuk. Susah juga ya jadi BUNGLONG. Namun, enaknya bisa masuk di mana saja.

Liliba, 220225

 3.    Rintihan Seorang Gadis

 

Malam itu terasa begitu hening. Di tengah kehinangan malam dari kejauhan terdengar suara rintihan seorang gadis di tengah malam yang sunyi. Rintihan gadis itu menyayat hati.

Am Tonis yang sendiri dalam pondok kebun bangun dari tidurnya. Ia memasang telinga untuk mendengar dengan jelas arah datangnya rintihan itu. Ternyata suara rintihan itu datangnya dari sebatang pohon beringin besar yang berada tak jauh dari kebunnya.

Am Tonis bangkit dari pembaringannya. Ia duduk di tepi tempat tidur yang terbuat dari belahan bambu. Kemudian ia turun dan mendekati tunggu api. Ditaruhnya beberapa potong kayu agar api di tungku itu dapat menerangi pondoknya itu.

Anjingnya yang bernama Toas matanya terus tertuju keluar pondok. Rupanya anjing itu pun mendengar suara rintihan gadis tersebut. Am Tonis mengambil tempat sirihnya. Diambilnya sirih dan pinang serta kapur. Ia memamah sirih.

Suara yang tadinya terdengar lirih kini tidak terdengar lagi. Tetiba anjing melompat keluar dari pondok. Ia menggonggong seperti melihat seseorang. Am Tonis tetap duduk tenang sambil berdiang api.

Tak berapa lama kemudian, Am Tonis melongok keluar. Dilihatnya seorang gadis berdiri di depan pondok sambil menatap Toas. Am Tonis melihat kaki gadis tersebut tidak sampai ke tanah.

Am Tonis sudah tau bahwa gadis tersebut bukanlah manusia biasa. Ia makhluk halus. Ia yang sudah biasa bertemu makhluk semacam itu tidak takut sedikit pun. Diambilnya rosario lalu ia berdoa. Ia memohon perlindungan dari Tuhan lewat Malaikat Agung Santu Mikhael.

Sehabis berdoa, Am Tonis semakin percaya diri. Ia yakin benar bahwa Santu Mikhael sebagai Panglima Tentara Surgawi akan melindunginya. Sedangkan di luar Toas teruslah menggonggong. Ia seperti hendak menerkam gadis itu.

Tetiba terdengar,"Asu," usir gadis itu. Akan tetapi Toas terus merangsek maju. Ditariknya rok panjang gadis tersebut, lalu terdengar lengkingan suara,"Asuuuu," lalu beranjak pergi dari sana.

Setelah kepergian gadis tersebut dari depan pondok, Toas kembali masuk ke dalam pondok. Anjing itu datang mendekati Am Tonis tuannya sambil mengibas-ibaskan ekornya. Am Tonis merangkul anjingnya sambul mengelus-elus tubuhnya.

Beberapa saat kemudian Am Tonis kembali tidur. Keesokan harinya Am Tonis ia merasa seperti tidak terjadi apa-apa semalam.



3. Pelantikan


Hari ini dilantiknya para gubernur dan wakil, bupati dan wakil, serta wali kota dan wakil yang terpilih di Jakarta oleh presiden Prabowo. Pelantikan ini tentu membuat segelintir manusia farisi mulai menjalankan aksinya.

Mereka yang itu hari berseberangan dengan gubernur dan wakil, bupati dan wakil serta wali kota dan wakil yang terpilih mulai malam tidur tidak nyenyak. Apalagi mereka yang sekarang duduki jabatan. Mereka mulai beraksi mula-mula ikut posting foto. Ketika mereka pulang dari Jakarta, orang-orang itu yang pertama kali datang ucapkan selamat.

Kita berharap mereka yang terpilih jadi gubernur dan wakil, bupati dan wakil serta wali kota dan wakil sungguh memperhatikan penembatan orang dalam jabatan. Jangan melihat dari mereka itu Timses dan lain sebagainya. Namun benar-benar berdasarkan kompetensi, skill, kinerja. Lihat pula trackrecord mereka.

NTT ini merupakan lahan subur terjadinya korupsi. BUMD semua dijadikan lahan utk perkaya diri. Seperti isu yang kami dengar entah benar atau tidak katanya Bank NTT 50% saham sudah jatuh ke tangan Bank Jatim. Kita berharap ini hanya isu semata.

5.    Anak Desa

 Kami ini anak desa. Hidup jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Kami dibesarkan dalam suasana alam pedesaan yang tenang dan damai. Kami hidup menyatu dengan alam. Kami dibesarkan dalam tatanan adat budaya kami.

Kami anak desa. Kami pewaris budaya leluhur kami. Di dalam darah kami mengalir darah leluhur. Bati, tais, dan pilu adalah identitas kami.

Tarian kami bukannya dansa bukan pula disco. Tari kami adalah tari ronggeng yang diiringi pukulan gong yang bertalu-talu. Atau likurai dan bidu.

Zaman boleh berubah. Namun kami tetap kami yang hidup dalam budaya peninggalan leluhur kami. Kami hidup seturut "Hai Faot Kanaf ma Oe Kanaf."

6.    Aku dan Kau

Panggung ini merupakan impian setiap remaja Indonesia. Akan tetapi, untuk menginjakkan kaki di atas panggung nan megah ini butuh perjuangan.


Hari aku pemuda dati Indonesia Timur, lebih tepat Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Belu telsh merasakan panasnya panggung yang spektakuler ini. Semenjak kecil hanya aku nonton mereka yang bertarung di atss panggung ini. Dalam impian, aku sekali waktu bisa ikut merasakan panasnya panggung ini. Dan kini telah kubuktikan. Semua ini terjadi karena atas kehendak Tuhan, dukungan orangtuaku, dan semua orang yang tak pernah meninggalkan aku di atas panggung ini.


Aku dari timur dan dikau dari barat. Tuhan mempertemukan kita di atas panggung ini. Semua kita tak saling mengenal walaupun demikian akhirnya kita saling kenal. Kita saling suport.


Perlahan namun pasti ada benih-benih cibta yang mulai tumbuh di hati kita berdua. Akan cinta itu akan mempersatukan timur dan barat? Hanya sang waktu yang menjawab.


Aku seorang pemuda dari sebuah kota krcil namanya Atambua. Di kota ini aku dilahirkan dan dibesarkan. Dan di kota ini aku habiskan waktu remajaku. Mencoba menyulam impian. Dan kini impian itu kian nyata. Dikau dari belahan Indonesia barat. Dikau seorang gadis cantik jelita. Suaramu tinggi mendayu mengundang decak kagum bagi mereka yang menyaksikan penampilanmu.

Masih adakah cerita dj antara kita terus berlanjut? Ataukah akan berakhir dengan berakhirnya penampilan kita di atas panggung ini?

Berbulan kita bersama. Banyak cerita yang tercipta di antara kita. Banyak cerita konyol. Dan cerita-cerita itu akan terus kukenang sampai rerumputan hijau menyemak di atas pusaraku.

Liliba, 200225

7.    Dua Anak Desa

Ada dua orang anak desa. Mereka memiliki beberapa ekor kerbau. Kerbau-kerbau itu amat jinak. Dan kerbau-kerbau itu jadi sahabat mereka berdua.

Kedua anak itu beradik kakak. Si kakak bernama Afoan dan si adik bernama Tabean. Keduanya biasanya menggembalakan kerbau-kerbau itu di padang yang luas.

Sia Afoan dan Tabean sore hari kembali menggiring kerbau-kerbau itu kembali ke kandang. Ada dua ekor kerbau jantan yang dijadiksn tunggangan untuk menggiring yang lainnya ke kandang.

Setiba di kandang kerbau-kerbau betina yang beranak dikeluarkan dari kandang sedangkan anak mereka tetap di dalam kandang. Nanti keesokan harinya dimasukkan indukan kerbau satu persatu. Dan anaknya menyesui lalu beberapa saat kemudian diperah susunya. Susu itu akan dibawa pulang untuk mereka makan dengan nasi.

Si Afoan dan Tabe merupakan anak-anak yang rajin. Setiap hari pulang sekolah, mereka sudah pergi padang untuk menggembalakan ternaknya.

Apabila alam menghijau. Sapi-sapi menikmati rerumputan hijau di padang hati siapakah yang tak bergembira melihat panorama seperti itu? Tentu kita semua rasa bahagia. Akan tetapi untuk memiliki alam yang indah permai tentu butuhkan perhatian kita bersama. Kita harus menjaga dan melestarikan alam sekitar kita. Kita harus ingat bahwa alam sekitar kita bukan milik kita tapi milik anak cucu kita sebagai warisan kita kepada mereka.

Tahun ini curah hujan begitu tinggi. Akibatnya, terjadi banjir dan tanah longsor di mana-mana. Banyak jalan terputus karena terjadi tanah longsor. Kita jangan salahkan alam. Cobalah kita refleksi diri kita bahwa apa kita sudah menjaga dan.melestarikan alam sekitar kita.

8.    Mungkinkah Sudah Kau Lupa

Lima empat musim telah berlalu. Hari ini di awal bulan November 2025 gemuruh guruh kembali terdengar. Ini pertanda musim kelima sebentar lagi kita masuki.

Jejak-jejak langkah kita di pesisir Pantai Tanjung Bastian telah hilang sirna ditelan ombak pantai. Hanya saja tawa manjamu masih terus mengiang di telingaku ini. Lembutnya gayutan manja di bahu terus kurasakan.

Hari ini aku kembali ke sini ke Pantai Tanjung Bastian. Kembali telusuri jejak-jejak langkah kita empat tahun lampau. Akan tetapi, yang kudapatkan hanya luka. Luka yang kau torehkan di hati ini.

Semua kenangan yang tercipta di Pantai Tanjung Bastian mungkinkah sudah kau lupakan. Tentu saja sudah ksu lupakan. Tetapi tidak bagiku. Kenangan itu akan terus kukenang sampai rerumputan hijau menyemak di atas pusaraku. Dan batang kamboja bunga berlumut tua.

Liliba, 180225

9.    Desa Bakitolas

Ada satu upacara adat yang dilakukan setiap awal tahun di Desa Bakitolas, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara adalah Fua Ton. Upacara Fua Ton ini diadakan sebagai ucapan syukur pada Tuhan atas berkat pada tahun yang lampau dan memohon kiranya Tuhan memberikan hasil yang berlimpah tahun ini.

Upacara ini biasabya diadakan di ng -tempat tertentu. Salah satu tempat itu disebut Abas. Abas ini berada di pinggiran kampubt. Di tempat ini ada dua batu yang oleh masyarakat Bakitolas melambangkan alat kelamin perempuan dan laki-laki.

Alat kelamin perempuan berada di bawah berupa lubang. Sedangkan alat kelamin laki-laki di atas menikam turun ke lubang kelamin perempuan. Sebagai tanda bahwa hujan tahun ini berjalan bagus dan hasil akan melimpah alat kelamin laki-laki dan perempuan akan bertemu. Bila hujan tidak berjalan bagus kedua batu yang berupa alat kelamib tersebut tdk akan bertemu. Kepercayaan ini sudah merupakan warisan turun temurun.


10. Eno dan Suni

Eno dan Sani berasal dari kampung yang sama. Mereka teman sepermainan semasa kecil sampai masuk SD. Eno seorang gadis kecil berusia 8 tahun dan Sani berusia 10 tahun.

Mereka sekolah di SD yang sama di kampung mereka. Karena rumah mereka berdekatan, mereka pergi ke sekolah dan pulang sekolah selalu bersama. Sani sebagai seorang anak laki-laki selalu melindungi Eno bila diganggu anak yang lain.

Semasa kecil Eno dan Sani bermain rumah-rumahan bersama. Sani membuat rumah mereka dari dedaunan pisang. Sedangkan Eno memasak pasir di tempurung kelapa. Nanti kemudian disajikannya di atas daun pisang yang dikelar di tanah.

Sani dan Eno termasuk siswa yang rajin, ramah, dan sopan serta cerdas. Mereka merupakan siswa yang patuh dan taat pada orangtua, guru serta aturan sekolah. Tugas yang diberikan guru, saat pulang dari sekolah setelah makan siang dikerjakannya tugas tersebut sesudah itu baru keduanya bermain.

Eno dan Sani juga merupakan siswa yang gemar membaca. Di sekolah saat istirahat, keduanya pasti berada di perpustakaan sekolah. Banyak buku yang ada di sana telah mereka baca. Bila belum habis dibaca, mereka pinjam untuk dibawa ke rumah. Malam hari setelah makan mereka pasti duduk membaca buku yang dipinjamnya itu.

Bila sudah dibaca, saat keduanya bertemu, setiap orang kembali menceritakan kembali isi buku yang dibacanya dengan bahasanya sendiri.

Sani dan Eno juga suka menulis cerita terutama apa yang dialami setiap hari. Cerita-cerita mereka dipajangkan di majalah dinding sekolah. Banyak teman mereka yang suka membaca cerita mereka yang dipajang di Mading. Guru-guru mereka amat senang. Mereka terus dimotivasi untuk menulis.

Suatu ketika Sani menulis satu cerita tentang seorang guru. Ia seorang ibu guru. Ibu guru ini amat cantik. Ia pun amat ramah terhadap para siswanya sehingga ibu guru cantik itu menjadi guru idola di sekolahnya.

Suatu saat ibu guru yang bernama Ibu Sisca jatuh sakit. Selama dua hari tidak masuk sekolah. Sani dan Eno bersama teman-temannya sekeluar sekolah, mereka mendatangi rumah ibu Sisca.

Tiba di rumah ibu Sisca, ia sedang duduk bersama orang tetangganya. Ibu Sisca terkejut melihat kedatangan para siswa dibawa komando Sani. Ibu Sisca menerima mereka dengan hari riang gembira. Mereka dipersilakan duduk. Lalu ibu Sisca membuatkan mereka teh. Mereka minum sambil cerita. Kata ibu Sisca bahwa ia hanya demam biasa. Sekarang ia sudah sembuh dan besok sudah masuk sekolah lagi. Mendengar itu semua siswa amat gembira karena besok sudah kembali bertemu ibu guru idola mereka.

Liliba, Feb. 2025

11. Pagi Datang Menjelang

Pagi datang menjelang. Mentari pagi masih di balik bukit. Sinar keemasan telah terpencar ke mana-mana. Memberikan pada dunia bahwa fajar pagi telah tiba.

Seorang gadis petani duduk di pematang sawah. Seakan menanti datangnya mentari pagi. Butiran mutiara pagi bertengger di indah di pucuk-pucuk pagi. Kian tinggi mentari pagi, butiran-butiran mutiara lenyap.dati pandangan mata.

Gadis desa itu bangkit berdiri merengganfkan tubuhnya hilangkan rasa dinginnya pagi hari. Burung-burung berkicau riang menyambut mentari pagi. Suasana pagi begitu indah.

Udara di alam pedesaan terasa begitu damai. Udara yang sejuk melegakan hati yang risau. Kepulan asap dari perkampungan menambah panorsma kian memikat hari.

Para petani berbenah turun ke sawah. Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum riang melihat padi sawahnya kian subur. Di dalam hati berdoa semoga tahun ini panenannya melimpah.


12. Pernikah Zaman Dulu dan Sekarang

 

Zamam dulu pasangan hidup seorang gadis atau pemuda bukan ditentukan sendiri. Atau dengan katakan bukan karena suka sama suka tetapi ditentukan orangtua. Seorang gadis tidak diberikan kebebasan untuk.menentukan pilihan sendiri. Apa yang sudah disetujui orangtua tidak boleh ditolak oleh si gadis. Walaupun pernikahan mereka masa itu karena diperjodohkan orangtua, hanya zaman itu kasus perceraian boleh dikatakan hampir tidak ada. Berbeda dengan pernikahan pada zaman sekarang. Pernikahan itu terjadi karena suka sama suka. Artinya mereka saling mencinta. Akan tetapi pernikahan didasarkan pada saling mencintai, kasus perceraian dari tahun ke tahun terus meningkat tajam. Pernikahan dalam agama Kristen terkhusus Katolik yang berbunyi,"Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat diceraikan manusia kecuali oleh maut,"apakah sekarang hanya sekadar pemanis bibir? Mari kita renungkan bersama.

13. Suka Duka

Inilah kami guru di pelosok. Hujan badau melanda tidak menghentikan lanfkah kamu untuk bertemu para siswa kami. Kami jalan berlumpur. Kami tak mungkin kenakan sepatu kami. Kalau kenaksn sepatu berarti hanya sehari sepatu sudah harus dipensiunkan. Kami kenakan sepatu saat tiba di sekolah.

Kami tidak mampu beli mantel. Hanya mampu beli payung plastik biasa. Namun apalah arti payung itu bila angin badai datang menerpa.

Musim hujan seperti sekarang ini lumpur jadi teman akrab kami. Seragam basah kuyup walaupun demikian kami tetap masuk mengajar dengan keadaan bsju dan celana basah kuyup. Para siswa pun demikian.

Di musim panas, buksn lagi lumpur jadi teman kami melainkan debu. Jalanan penuh debu. Bila angin debu beterbangan ke mana-mana. Tiba di sekolah rambut penuh debu. Namun,kami tetap semangat demi menyiapkan generadi muda bangsa ini. Walaupun nasib kami seperti si Umar Bakri

Rotiklot merupakan sebuah bendungan yang terletak Kabupaten Belu. Bendungan Totiklot sebuah bendungan yang besar. Bendungan ini sekarang sudah menjadi sebuah destinasi wisata yang menarik.minat para wisatawan dari berbagai daerah datsng ke sana semats untuk.memiati panorama alam indah ini. Bahkan mereka kemudian melanjutkan perjalansn mereka ke pantai Gurita. Pantai Gurita merupakan wisata Rohani. Di sana di atas bukit berdiri Patung Bunda Maria dengan viewnya yang amat menarik pula.

14. Sang  Pelangi

Di belakang ketiga bocah ini tampak terlihat pelangi. Pelangi itu berwarna warni. Karena warna warni itulah pelangi terlihat begitu indahnya.

Ketiga bocah perempuan itu memandang ke depan seakan melihat masa depan mereka yang penuh warna warni sehingga terlihat begitu memesona. Akan tetapi, untuk mencapai masa depan yang penuh warna warni yang memikat itu sangat dibutuhkan perjuangan yang tidak tanggung-tangung. Jalan yang ditempuh menuju ke sana, berlika liku, terjal dan curam, banyak onak dan duri. Di sini butuh keberanian, keteguhan hati, tekad, dan semangat menyerah.

Apabila seluruh rintangan itu dapat mereka atasi mereka akan tiba di lembah nan landai, tanahnya subuh, airnya melimpah. Di sana mereka mendapatkan madu dan susu. Mereka akan menikmati hidup bahagia, aman dan damai.

Hamparan sawah membentang luas. Anakan padi mulai bertunas. Bila pagi tiba, anakan padi beriang ria menyambut fajar pagi.

Sang pemilik berdiri di atas pematang membuang pandangan ke tengah sawah. Di dalam hsti ia berdoa semoga padiku tumbuh subur dan memberikan hasil yang melimpah rua.

Setiap malam mereka terus memanjatkan doa memohon pada Sang Maha Kuasa untuk terus menurunkan curah hujan yang melimpah. Dari hari ke hari mereka terus memantau perkembangan anakan padinya di sawah. Bila terus tumbuh dan hijau membentang bagai permadana hijau hati mereka girang menyambut tibanya padi menguning terbentang luas bagai perada emas.

Di depan mereka dulu merupakan sebuah kolam yang kedalamannya mencapai 3-4 meter. Kolam itu disebut Totani. Nama ini punya cerita yang menarik yang generasi sekarang tidak tau kisah penamaan kolam tersebut.

Totani ini berasal datu dua kata, yakni To dari kata Tokan yang artinya leher. Tani artinya tali. Menurur cerita dulu kolam tersebut amat dalsm. Ada seorang lelaki mati tenggelam mati dalam kolam tersebut. Karena tidak ada orang yang berani masuk uuntuk mengambil jenazahnya, mereka gunakan tali lalu dijeratnya jenazah itu di leher dan ditarik ke tepi kolam tersebut. Oleh karena itu, kolam itu dinamai Totani.

Kisah lainnya, kolam ini dulu juga digunakan untuk sumpah adat untuk.menentukan siapa yang jujur diapa yang tidak. Mereka akan menyelam ke dasar kolam. Siapa yang tidak bisa bertahan lama di dasar kolam dan keluar duluan berarti dialah yang berbohong. Hal ini dilakukan bila orang mencuri dan tidak mau mengaku atad perbuatannya dilakukan sumpah adat dengan menyelam ke dalam dasar kolam dan hrs bertahan sekian lams. Dulu para orangtua belum mengenal jam tangan. Jadi mereka hanya gunakan hitungan. Siapa yang hitungannya terlama berada di dasar kolam berarti dia tidak melakukan tindakan kejahatan.

Melihat kain yang dikenakan pasangan ini pasti orang sudah tau terutama orang Kecamatan Naibenu. Melihat wajah pasangan si lelaki kita pun sudah tau bahwa wajah orang TIMOR. Apalagi rambutnya keriting. Bagi orang Bakitolas pasti kenal baik si lelaki. Dia dulu geng Manu Hau. Haaa haaan. Jangan marah dulu dong ini cuma kelakar.

Lalu bagaimana menurut pendapat orang Bakitolas, pasangan perempuannya asal dari mana? Dari wajahnya bukan orang Bakitolas bukan? Jelas bukan dong. Dari wajah si perempuan jelas di perempuan Jawa, asal Banyuwangi.

Aku sedang dong karena si hitam keriting asal Manu Hau bisa menaklukkan hati mbak asal Banyuwangi. Aku sebagai kakak bangga dong. Walau semasa kecil di Manu Hau adeku cuma mainnya sikaholo dengan noa beba ternyata bisa menaklukkan hati ade perempuan. Haaa haaa.

Ade perempuanku mengenakan tais timor semakin cantik ni. Bagaimana perasaan ade kalau mengenakan kain tais? Senang tidak. Ayo, jawab dong.

15. Ardy dan Bony

Beberapa bulan lalu ada pertandingan.bola kaki antara dua SMP, yakni SMPN20 dan SMPN

18. SMPN 20 dikomandani oleh Ardy sedangkan SMPN 18 dikomandani oleh Bony.

Dalam pertandingan tersebut, Ardy sempat berseteru dengan Boni karena Ardy menyikut Boni di ulu hatinya. Perseteruan itu dapat diredam oleh wasit. Dan pertandingan tersebut dimenangi oleh SMPN 20. Boni merasa amat kesal selain kekalahan itu juga oleh sikutan Ardy di ulu hatinya. Seminggu kemudian Ardy bertemu dengan Boni di jalan. Boni singgah sengaja menyenggol Ardy. Kemudian, ia balik melihat Ardy. Sambil menatap wajah Ardy, kata Boni,"Lu mau apa?"

Semula Ardy tidak.menanggapi tantangan Boni. Akan tetapi Boni terus mengejek Ardy katanya,"Sekarang kalau lu berani maju," tantang Boni lagi.

Ardy hanya diam sambil berusaha menahan emosi. Ia masih berusaha sabar. Namun, Boni datang mendekati Ardy lalu mendorongnya sampai Ardy hampir terjatuh ke dalam got.

Ardy pun mulai terpancing emosi. Ia tudak terima perlakuan Boni. Ia pun mendorong Boni sampai hampir terjatuh pula. Boni lalu mengayungkan pukulan ke arah wajah Ardy. Ardy menepis pukulan Boni. Boni semakin naik pitam. Ia melakukan tendangan ke arah perut Ardy. Ardy mampu menghindari tendangan itu. Ia tidak mau membalas pukulan dan tendangan Boni.

Emosi Boni memuncak. Ia melakukan pukulan sekali lagi ke arah pelipis Ardy. Ardy dengan sigap mengelaki pukulan itu. Boni menyerang lagi dengan tendangan kaki kanan ke arah perut Ardy. Ardy menangkap kaki Boni. Tapi kemudian dilepasnya kembali. Ada beberapa orang datang melarai mereka berdua. Lalu mereka didamaikan.

Pertanyaan kami adalah ,"Apa penyebab perkelahian Boni dan Ardy? Apakah karena Boni menyenggol Ardy atau karena dendam Boni terhadap Ardy? Siapa yang tau silakan berpendapat.

 16. FBPRO

 

Perkembangan zaman begitu pesat. Begitu pula perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Perkembangan dan perubahan zaman telah sangat memengaruhi perilaku kita manusia. Rasa perikemanusia telah tergerus habis oleh pengaruh teknologi.

Apalagi dengan hadirnya FBPRO, orang lebih mengejar target flower daripada peduli ajan sesama yang sedang mengalami kesusahan. Ini bisa kita saksikan ketika orang celakan lalu lintas. Orang kerumuni korban bukannya menolong melainkan sibuk mengambil foto terhadap si korban lalu segera disebarkan di medsos. Mereka berusaha agar jadi orang pertama yang menyebarkan foto si korban daripada berusaha menolongnya.

17. Malam Kian Larut

 Malam kian larut. Alam pedesaan di kaki Gunung Mutis diselimuti kabut putih yang turun. Suasana amatlah sunyi. Jauh di sana ada sebuah rumah yang jauh terpencil di kaki gunung. Depan rumah tampak remang-remang karena hanya diterangi lampu 5 watt. Dari rumah itu sayup-sayup kudengar sebuah lagu ambon tempo dulu. Alunan musik ambon tersebut membawa anganku berlanglang buana ke masa lalu. Masa ketika masih usia remaja. Lagu yang kudengar tersebut terdengar lewat RRI atau juga karena diputar di tape recorder.

Lagu terus mengalun lembut. Kelembutan alunan lagu itu mengingatkan aku akan sebentuk wajah, yakni wajah seorang gadis hitam manis berambut keriting yang tinggi semampai. Di ujung bibirnya selalu dihiasi senyuman menawan. Bibirnya merah tapi bukan karena lipstik melainkan karena sering mengunyah sirih pinang. Harap maklum, ia seorang gadis desa.

Gagis bernama Fotis. Anak seorang tua adat yang amat disegan di kampung kami. Kecantikan, keramahtamahan, dan kesopanan membuat banyak pemuda tertarik padanya. Akan tetapi semuanya ditolaknya dengan halus dengan mengatakan bahwa ia belum berpikir untuk menikah

Suatu ketika ada pesta adat di kampung kampung kami. Pesta adat itu disebut Hel Lian Feto. Pesta yang diadakan untuk memberi makan secara adat kepada pihak saudari. Pesta ini amat ramai karena ada tarian gong yang disebut leku sene dan bonet.

Fotis seorang gadis yang sangat mencintai budaya leluhurnya. Ia amat pandai menari gong yang bagi kami untuk kaum perempuan disebut Talel. Ia pandai Nalel. Kebetulan aku pun pandai menari gong yang oleh kaum lelaki disebut Tabso.

Saat istirahat Fotis mengajakku duduk bersama pada sebuah bangku. Aku memujinya bahwa ia menari amat bagus. Ia pun balik memujiku. Saat gong kembali berbunyi, ia menarik tanganku untuk masuk. Aku turuti kemauannya. Kami berdua turun ke arena.

Semua mata tertuju pada kami berdua. Para penari lain tidak mau ikut turun. Sorak sorai terdengar ketika aku menari mengelilingi Fotis, gadis cantik itu, sambil menghunuskan pedang dari sarungnya. Ia tak mau kalah, ia pun menghunus pedangnya.

Teriakan tak kunjung hentik. Tanpa kami sadari bapak tua adat bapaknya Fotis yang bernama Am Tebi pun masuk ke arena. Ia pun menari mengelilingi aku dan Fotis. Suasana semakin marak. Teriakan membahana di malam. Tak lama Ena Suni mamanya Fotis pun ikut turun.

Dalam arena, hanya aku, Fotis, Am Tebi, dan En Suni. Banyak yang berbisik-bisik bahwa Am Tebi dan En Suni menyetujui apabila aku mempersunting anak gadis. Saat istirahat, kami berempat duduk.di 2 bangku yang disediakan.

Aku duduk di samping kanan Am Tebi sedangkan Fotis duduk di samping kiri En Suni. Am Tebi mengajakku bercerita. Semula aku amat canggung. Maklum, aku berhadapan dengan seorang tokoh adat yang amat disegan di kampungku. Akan tetapi, Am Tebi memegang tanganku sambil katanya,"Nanti ada waktu main-main ke rumahnya." Ajakan Am Tebi membuatku kaget. Karena selama ini aku hanya datang ke sana bila ada upacara adat. Dan itu biasanya dengan para orang tua semua. "Ya, Anunu. Datang main-main di rumah,"sambung En Suni. "Nanti kalau aku ada waktu baru main-main ke rumah, Pah.""Benar, ya, Anunu. Aku tunggu,"kata Fotis yang sedari tadi hanya jadi pendengar.

Gong kembali berbunyi bertalu-talu. Am Tebi menarik tanganku untuk turun bersama. Ajakannya tidak kutolak karena itu kesukaanku. Tak lama kemudian, Fotis dan En Suni pun ikut turun. Kami berempat menguasai arena. Am Tebi menari sambil menghunus pedangnya dan menari mengelilingi En Suni. Sedangkan aku mengeliling Fotis.

Sehabis pesta itu satu sore aku bertamu ke rumah Am Tebi tokoh adat yang amat disegan itu. Di sana aku diterima oleh Am Tebi dan En Suni di lopo. En Suni memanggil Fotis untuk menyediakan minuman untuk kami.

Kami duduk sambil bercerita. Tak lama kemudian, Fotis membawa minuman kopi 3 gelas lalu disajikan di atas meja.

Am Tebi dan En Suni menyuruh Fotis membawa minumannya ke lopo untuk minum bersama- sama di lopo. Fotif pun menuruti suruhan kedua orangtuanya. 

Tetiba aku ditanya Am Tebi,"Uis ana, nansa es hit feka taem ahanat he nahan kit?" "Hai mail kit hita huk benas ma tofa tahin ne,"sambung En Suni.

Aku hanya merunduk diam."Kalu hita loim moba hit ana Fotis," sambung Am Tebi.

Aku amat terkejut dengan tawaran Am Tebi tua adat yang amat berpengaruh dan disegani itu. Sebelum aku jawab, Fotis sudah kembali dengan membawa minumannya."Fotis, mtok meuba Anunu ina bnapan. Au he utonan ko."pinta Am Tebi.

Fotis pun duduk di samping kiriku. Lalu ia menatap wajah kedua orangtuanya bergantian. Ia seperti kebingungan."Fotis, ho mloem he msao Anunu?"tanya Am Tebi tanpa basabasi.Fotis mengarahkan pandangannya padaku. Ia tersenyum lalu katanya,"Fotis loim kalau Am tok En Suni tloim."

Sejak saat itu terjalinlah hubunganku dengan Fotis gadis cantik di kampungku anak seorang tokoh adat yang amat disegani.

Hanya Tuhan berhendak lain. Sebelum kami sampai ke jenjang pernikahan, gadis idamanku itu jatuh sakit. Kala itu rumah sakit hanya ada di ibu kota kabupaten. Tidak ada Puskesmas seperti sekarang yang ada di mana. Sakit malam sekira pukul 20.00. Pukul 03.00 pagi maut menjemput Fotis gadis yang aku sangat cintai. Alunan Lagu yang malam ini kudengar itu merupakan lagu kesayangannya. Walaupun sudah puluhan tahun berlalu tapi lagu itu bila kudengar selslu membangkitkan kenangan lama itu.

Liliba, 080225

18. Pagar Laut

 Awal tahun 2025 bangsa Indonesia dihebohkan dengan munculnya pagar laut. Pagar laut itu berada di Tangerang. Panjangnya 30 kilometer. Pagar itu terbuat dari bambu mungkin ratusan ribu batang bambu.

Panjang pagar 30 Km ini tentu pembuatannya memakan waktu yang cukup lama. Anehnya, pengerjaan pemagaran tersebut tidak diketahui pemerintah kelurahan setempat, kecamat an setempat, kabupaten setempat.

Laut yang dipagari itu sudah memiliki sertifikat sebanyak dua ratusan lebih sertifikat. Sebenarnya, dari sertifikat-sertifikat itu sudah dapat diketahui siapa pelaku pemagaran laut itu dan dijadikan tersangka. Namun, sampai saat ini belum ada seorang pun yang dijadikan tersangka.

Kalau dilihat berarti ini sebuah konspirasi yang melibatkan banyak orang mulai dari tingkat kelurahan sampai tingkat yang paling atas. Konspirasi kuat dugaan kita sebagai rakyat jelata melibatkan orang-orang kuat atau berpengaruh di negeri ini. Orang-orang yang punya kekuasaan.

Masa ada orang yang mengambil kayu dua tiga potong dari hutan larangan cepat ditangkap lalu diadili. Namun, panjang pagar laut 30 Km tidak diketahui siapa pelaku. Ini aneh bin ajaib.

 19. Zaman dulu

Saman dulu saat seperti saat ini merupakan musim paceklik. Musim warga masyarakat susah mendapatkan makan, terutama jagung. Lalu apa yang mereka makan? Zaman dulu saat ini makanan utama warga masyarakat antara lain

1.Up pesi, yakni sejenis kacang yang berpolong di dalam polong ada 1 sampai 6 isi. Isinya ini direndam paling bagus 2 malam. Sesudah itu direbus utk pisahkan kulit ari dgn isinya. Kemudian biji-biji dalamnya ditaburi dengan abu dapur lalu dibiarkan semalam. Besoknya dicuci sampai bersih. Nanti warna berubah dari putih jadi hitam. Lalu dimasak paling sedikit 5 kali ganti setiap kali habis mendidih kurang 15-20 menit. Kalau sudah 5 X sudah bisa dimakan boleh dengan gula air/madu.

2.   Koto pesi

Ini juga sejenis kacang berbuah polong. Di dalam polong itu ada 1-5 biji yang bijinya lebih kecil dari ipe. Ini proses memasaknya secara langsung tidak seperti ipe. Hanya saja prosesnya jauh lebih lama dari ipe. Harus 10-11 X ganti air. Bila tidak kita bisa mabok parah.

3.   Kiu fua

Kiu fua ini adalah biji asam. Biji asam digoreng kemudian ditumbuh untuk.memisahkan biji dari kulit arinya yang biasanya berwarna merah. Ketika digoreng harus sampai agak gosong. Ini selain untuk memudahkan pemisahan biji dari kulit ari juga untuk kemudian kita merendamnya selama semalam. Nanti dimakan terasa lembut. Bahkan jauh lebih enak daripada kacang tanah.

4.Ubi kayu dan ubi jalar. Ubi jalar biasanya langsung direbus lalu dimakan. Sedangkan ubi kayu bisa dikupas lalu direbus dan dimakan. Atau diiris dijemur jadi gaplek. Gaplek ini dipatah-patah kemudian direbus dicampur daun pepaya; bunga pepaya atau buah pepaya atau jenis sayuran lainnya yang diambil dari hutan yang musim hijan seperti sekarang amat melimpah. Atau gsplek ditumbuk jadi tepung tapioka kemudian dikukus dicampur dengan kelapa parut dan gula merah yang disebut laku tobe. Atau ubi mentah sehabis dikupas dicuci lslu dipotong kecil-kecil lalu dimasak dengan santan kelapa yang sekarang kita sebut kolak. Kolak dulu cukup potongan-potongan kecil ubi kayu yang langsung dimasak.dgn santan tanpa tambahan lainnya seperti sekarang.

Beberapa jenis makanan tradisional yang disebutkan di atas amat cocok dimakan saat hujan- hujan seperti sekarang ini.

5.   Jagung.

Jagung langsung dimasak dicampur dengan berbagai sayuran dan kacang-kacangan yang kita sebut jagung katemak. Bagi warga NTT jagung katemak ini tidak asing lagi. Atau jagung ditumbuk utk.pisahkan kulit arinya dan hasilnya yang kita sebut jagung bose. Jagung bose ini dapat dimasak dicampuri dengan berbagai sayuran dan kacang-kacangan. Hasil masakan tetap kita sebut jagung bose.

Masalah nasi zaman dulu sangat susah kita makan. Di kampung kecuali ada pesta adat baru kita dapat makan. Mengapa? Karena zaman dulu hanya harap padi ladang atau sawah yang hasilnya sangat tergantung pada curah hujan. Sedangkan beras tidak diperjualbelikan di toko-toko atau pasar. Apabila musim paceklik ini cukup parah, kita hanya makan putak yang dipotong lalu direbus berjam-jam kemudian kita makan. Bila kita tarik biji mata mau lari keluar karena serabutnya itu. Ada yang dipotong kecil-kecil kemudian dijemur berhari-hari. Sudah kering baru ditumbuh lalu pisahkan dari serabutnya kemudian dibuat put laka.

20. Gadis Manis

 

Mery seorang gadis tinggi semampai. Berambut keriting. Berwajah oval. Kulitnya hitam manis. Ia seorang gadis kota.

Mery berkenalan dengan seorang pemuda desa bernama Anton yang biasanya dipanggil Tonce oleh teman-teman. Tonce seorang guru honor di sebuah SMP.

Perkenal mereka kemudian membawa mereka dalam dunia percintaan. Tonce bersama Mery sering berkunjung ke rumah orangtua Mery. Tonce diterima dengan baik oleh bapak dan mama Mery. Bahkan kakak adiknya pun demikian.

Hubungan mereka sudah berjalan 6 tahun lamanya. Tonce seorang pemuda yang setia. Banyak gadis yang secara terang-terangan menyatakan cintanya pada Tonce sang guru honorer itu. Namun, semuanya ditolaknya dengan halus. Bahkan ia mengatakan bahwa ia sudah memiliki pacar dan ia akan dijadikan istrinya.

Mery ternyata menjalin hubungan pula dengan seorang pemuda dari kota tanpa diketahui oleh Tonce. Ternyata hubungan mereka sudah melampaui batas. Akibatnya, Mery pun hamil. Untung pemuda itu mau bertanggung jawab.

Karena sudah hamil, orangtua kedua belah pihak segera menikahkan mereka. Pernikahan itu sampai juga ke telinga Tonce. Tonce semula memang amat marah. Namun akhirnya ia menyadari bahwa mencintai seseorang tidak selamanya harus memilikinya. Tapi kita harus merelakannya untuk hidup dengan orang lain asalkan mereka hidup bahagia.

Saat pernikahan Mery dan pemuda yang bernama servas, Tonce yang tidak diundang pun hadir saat pemberkatan. Mery terkejut saat melihat Tonce hadir dalam misa pemberkatannya padahal, ia tidak diundang. Saat keluar dari gereja, Tonce secara gentel datang mengucapkan selamat pada pasangan mempelai.

Malam resepsi diadakan di rumah orangtua Mery. Tonce bersama Markus dan Frans kedua sahabat karibnya pun hadir. Tonce terlihat tidak tampak kesedihan di wajahnya. Justru sebaliknya, ia tampak gembira.

Mereka memasuki tempat resepsi, Tonce berjalan di depan. Mereka berbaris dengan tamu lainnya untuk maju bersalaman dengan kedua mempelai.

Akhirnya, tiba juga giliran Tonce dan kedua temannya untuk bersalaman. Tonce mendekati pengantin pria lalu disalaminya kemudian bergeset ke pengantin wanita. Mery menyambut uluran tangan Tonce. Digenggamnya kuat-kuat dan cukul lama sampai Frans sengaja menendang kaki Tonce utk segera melepaskan tangan Mery. Terlihat dari mata Mery ada jatuh butiran air mata. Mery menyeka air matanya dengan tisu yang ada di tangannya.

Tonce, Markus, dan Frans kembali ke tempat duduk mereka. Mery menyambut uluran tangan tamu yang lain tetapi matanya masih terus mengikuti Tonce. Air matanya terus jatuh membasahi gaun pengantinnya.

Setiba di tempat, tanya Markus,"Ko.Tonce terlihat tidak sedih sama sekali. Malah tampak kamu bahagia sekali."

"Ya, Tonce amat bahagia karena pemuda itu mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Tonce akan lebih sedih apabila ia tidak mau bertanggung jawab. Syukur bahwa Mery tidak disia-siakan oleh lelaki itu,"kata Tonce penuh percaya diri.

Lalu tanya Frans,"Seandainya lelaki tidak bertanggung jawab, apakah yang Tonce lakukan?" "Tonce akan bersedia menikahi Mery walaupun nanti dapat cibiran dari banyak orang. Biar orang katakan Tonce lelaki yang tidak laku Yonce tidak akan pusing,"jawab Tonce."Berarti Tonce begitu mencintai Mery, ya?"tanya Frans.

"Cinta sejati butuh pengorbanan. Lihat Sang Juru Selamat kita, karena begitu besar cinta-Nya pada kita Ia rela dicambuk, memikul salib sampai ke puncak Golgota lalu disalibkan dan Ia Wafat di atas salib yang dipikul-Nya sendiri."jawab Toncen.

Kedua sahabatnya hanya mengangguk-anggukkan kepala. 

Liliba, 290125 

22  Kehidupan Di Tanah Misi Papua

Pater Lionel Oktarianus seorang Misionaris muda. Ia berasal dari Desa Sunsea, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Misionaris muda ini sekarang menjadi pastor Paroki di Paroki St. Paulus Kali Iya Bamgi, Kevikepan Bade, Keuskupan Agung Marauke.

Paroki St. Paulus Kali Iya Bamgi terdiri atas 14 stasi. Keempat belas stasi dilayani sendiri oleh Misionaris muda ini tanpa pastor pembantu atau Stopper. Padahal, ada stasi yang dapat dijangkau selama 4 jam perjalanan dengan speedboat. Apalagi Paroki ini juga terdiri atas 2 wilayah besar.

Secara kewilayahan, paroki ini terletak di 4 distrik atau kecamatan, yakni Distrik Bamgi, yang terdiri atas 5 stasi. Distrik Syahcame Kali Iya 7 stasi, Distrik Yakoma 1 stasi, dan Distrik Pusat Paroki di Asset.

Dari keempat belas 14 itu, hanya 4 stasi yang dapat dijangkau dengan motor dengan kondisi jika lewat jalan itu harus kita sport jantung. Sedangkan stasi lainnya hanya dapat dijangkau dengan speedboat. Dan untuk tiba di setiap stasi memakan waktu berjam-jam. Umat seluruhnya di paroki tersebut sebanyak 3.567 jiwa. Biaya perjalan untuk mengunjung satu stasi adalah 5 juta lebih. Biaya ini harus dicari sendiri oleh pastor paroki. Biaya ini di luar makan minum.

Bila kita di sini, seorang pastor mengunjungi stasi, masalah makan minum ditanggung umat. Di sana tidak pastor paroki tanggung sendiri. Jadi ke stasi pastor paroki harus membawa memang bekal. Cerita ini sama seperti cerita seorang suster asal Belu. Ketika ke sebuah stasi. Ia dengan seorang suster lagi. Mereka kira seperti kita di sini yakni nanti dilayani oleh umat. Malam itu kedua suster tunggu-tunggu untuk diundang makan malam tapi juga tidah ada. Akibatnya, keduanya tidur tanpa makan. Keesokan hari kedua suster amat lapar. Suster dari Belu jalan-jalan ketemu sebuah warung milik seorang muslimah. Muslimah lihat suster ini pucat dan tampak amat lemah. Lalu oleh mbak suster ini diberi makan dan makanan untuk dibawa pulang buat temannya.

Menurut cerita Misionaris muda kita, ia bersama umatnya mulai membuka lahan untuk tanam padi ladang. Hanya saja sebelum itu harus gali parit hampir sedalam 2 meter untuk keringkan rawa-rawa terlebih dahulu baru dijadikan ladang untuk tanam padi.

Tunggu cerita berikutnya

22. Senja Di Kota Sari

Sore itu hujan mengguyur kota Sari dari jam 4 sore sampai jam 5 pun hujan belum juga belum reda. Banyak orang berlindung di dalam Warung Pojok. Termasuk Am Tebe dan Am Kefi. Mereka berdua duduk di salah satu pojok. Pojok warung itu merupakan tempat sudah seperti milik mereka berdua.

Mereka duduk sambil menikmati kopi asli TTU yang sudah amat familiar bagi seluruh warga BIINMAFFO yakni Kopi eban. Mereka menikmati kopi hangat dan cerita ke sana ke mari.

Tetiba am Tebi tanya,"Ama sudah pernah ke pantai Tanjung Bastian, pantai Oe Bubun, dan pantai Tua Mese atau belum?"

"Ama, saya hanya dengar tentang pantai-pantai itu. Katanya sekarang pantai-pantai itu sudah jadi destinasi wisata yang ramai. Tiap minggu dibanjiri para pengunjung."jawab am Kefi. "Saya juga sama. Belum pernah ke sana, am Kefi,"sambung am Tebi.

"Ya, satu kali waktu kita harus ke sana. Jangan kita hanya dengar cerita saja,"kata am Tebi. "Ama, saya hanya khawatir jangan jangan laut-laut yang di pantai-pantai tersebut sudah dipagari karena sudah bersertifikat,"kata am Kefi dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Ama, masa laut juga jadi milik pribadi orang sehingga bersertifikat. Tidak mungkinlah,"kata am Tebi.

"Ama dengar tidak tentang pantai yang ada di Tangerang sana. Sudah dipagari sepanjang 30 kilometer karena sudah disertifikat. Sertifikat itu sebanyak 200-san. Belum lagi di Sidoharjo dan Surabaya,"sambung am Kefi.

"Begitu ko ama?"tanya am Tebi dengan nada heran.

"Wa, ama ini ketinggalan berita. Pagar sepanjang itu sedang dibongkar oleh Angkatan Laut atas perintah presiden Prabowo,"terang am Kefi.

"Wa, kita harus hati-hati. Takut lama lama bukan hanya laut yang dijual ke investor tapi kita juga ikut dijual, ni,"ujar am Tebi.

Liliba, 250125

23. Dulu VS Sekarang

Zaman telah begitu maju. Hal-hal yang dulu dianggap barang amat mewah sekarang hilang ditelan masa. Dulu orang kirim berita hanya lewat telegram. Kemudian telegram digantikan dengan surat yg dikirim lewat kantor pos. Di sana harus beli pranko. Dulu kantor amat ramai sekarang tampak sepi. Pranko sudah kita tidak temukan lagi. Kamera kodak dulu menguasai pasar dunia sekarang pabriknya telah ditutup dengan hadirnya hp kamera. Dan masih banyak lagi.

Sekarang segala sesuatu dinilai dengan uang. Uang sekarang menjadi raja dalam kehidupan manusia. Memasuki pasar untuk membeli sesuatu harus bawa uang. Akan tetapi, pasar Wulandoni adalah sebuah pasar yang ada di Lembata. Pasar ini memiliki keunikan. Karena di pasar ini terjadi transaksi memang tapi hanya lewat barter. Barang ditukar dengan barang bukan dengan uang.

Pasar Wulandoni sebuah pasar yang tetap eksis di tengah arus zaman modern. Menurut kami, sistem.barter ini di NTT hanya ada di pasar Wulandoni. Ataukah masih ada di tempat lain tolong disebutkan ya.

24. Jatuh Cinta

 Jerimy seorang pemuda. Ia anak seorang pengusaha kaya. Hidupnya dipenuhi kemewahan. Walaupun demikian, ia tidak merasa bahagia di tengah hidupnya yang penuhi kemewahan itu. Jerimy ingin hidup tenang dari hiruk pikuk kehidupan kota. Ia ingin mencari ketenangan


hidup di alam pedesaan yang tenang dan damai. Alamnya masih asri. Udaranya tidak terkontaminasi polusi.

Jeremy akhirnya meninggalkan kota. Ia hendak.mencari desa untuk.bisa tinggal di sana. Jauh dari segala kebisingan kota. Jauh dari segala yang serba instan. Ia mulai petualangannya. Daerah yang dituju adalah sekitaran kaki Gunung Mutis. Akhirnya sampailah Jeremy di sebuah desa. Waktu itu sudah malam sekira jam 6.30 dengan menumpang bus dari Kota Kefamenanu.

Saat turun dari bus, Jeremy bingung malam itu.mau tidur mana. Ini di desa tidak.mungkin ada hotel atau penginapan lainnya. Jeremy berdiri di tepi jalan yang diterangin lampu listrik. Ia memegang koper yang dibawanya. Tiba-tiba ia disapa seorang bapak"Selamat malam, pak. Pak kita mau ke mana?"sambil ulurkan menyalami Jeremy.

Jeremy menyambut tangan dan katanya,"Jeremy. Saya dari Kupang."

"Saya om Thomas.Pak mau cari siapa di sini?"tanya om yang perkenalkan diri namanya om Thomas itu.

"Saya tidak cari siapa-siapa di sini karena tidak punya keluarga di sini, bapak Thomas,"lanjut Jeremy.

"Kalau begitu mari kita ke rumah saya saja. Malam ini biar tidur di rumah om saja. Nanti besok baru pak teruskan perjalanan,"ajak om Thomas.

Jeremy memperhatikan wajah om Thomas. Di sana tampak telulusan hati om Thomas. Melihat seperti masih ada keraguan di wajah Jeremy lanjut om Thomas,"Pak, saya ini RT di sini. Jadi pak tak perlu takut."

"Apakah di sini tidak ada penginapan?"tanya Jeremy.

"Pak, di desa terpencil seperti ini mana ada penginapan. Sebaiknya malam ini tidur saja di rumah om saja. Hanya maaf Pak rumah om itu amat sederhana. Bagaimana pak?"tanya om Thomas.

Akhirnya Jeremy menerima ajakan om Thomas. Ketika Jeremy mau mengangkat kopernya, kata om Thomas,"Biar saya yang bawa saja."

Semula Jeremy tidak mau tapi om Thomas terus mendesak untuk membawa koper Jeremy. Rumah om Thomas tidak jauh dari situ. Sambil berjalan Jeremy mulai tanya nama kampung tersebut. Om Thomas katakan kampung ini namanya kampung Tefu. Desa ini jauh dari kota. Bila ke kota menumpang bus. Dulu hanya satu bus. Sekarang sudah tambah satu lagi. Tapi bila bus sudah ful penumpang kedua bus itu berarti keberangkatan kita tertunda sampai besok.

Mereka pun tiba di rumah om Thomas. Istri om Thomas terkejut ketika melihat suaminya pulang bersama seorang yang tidak dikenalnya.

"Ma, ini pak Jeremy dari Kupang. Tadi bapak lihat turun dari bus kebingungan di jalan. Jadi, bapak ajak datang ke sini. Biar malam ini pak Jeremy tidur di sini."kata om Thomas.

Istri om Thomas yang bernama tante Bety dan Ros putrinya datang mendekati Jeremy sambil ulurkan tangan menyalami Jeremy. Ia sebutkan namanya. Begitu pula Ros dan Jeremy. Desudah itu Jeremy dipersilakan duduk.

Jeremy duduk. Ia mengambil rokoknya dari dalam saku jaket dan disodorkannya pada om Thomas. Sedangkan tante Bety dan Ros putrinya itu segera menyiapkan kopi. Kopi itu kopi asli yang disebut kopi eban. Kemudian Ros membawa dua gelas kopi ke depan. Aroma kopi asli itu menyebar ke seluruh ruang tamu. Ros sajikan kopi di atas meja dan persilakan bapaknya dan Jeremy mencicip kopi itu. Dindinnya malam menambah semakin nikmatya kopi itu.

Ros kembali ke belakang. Ia membantu mamanya di dapur. Ia bersama ibunya membunuh seekor ayam jantan yang selama ini diikat di dapur. Ros dan mamanya sibuk di dapur menyediakan makanan untuk makan bersama Jeremy yang dianggap sebagai tamu agung mereka malam itu.

Jeremy saat perkenalan ia terkejut melihat kecantikan Ros seorang gadis desa. Ros tampil apa adanya malam itu. Tanpa polesan apapun. Ia bandingkan dengan gadis-gadis yang ia kenal, gadis desa ini jauh lebih cantik. Ia selama ini dikejar banyak gadis tapi ia tidak pedulikan mereka. Ia muak melihat wajah mereka. Namun malam ini hatinya bergetar saat pertama kali mihat wajah gadis desa itu. Ia bertanya dalam hati apakah ini yang namanya jatuh cinta. Entahkah.

Om Thomas dan Jeremy duduk di ruang tamu. Duduk sambil menikmati kopi hangat buatan Ros. Jeremy merasa kopi itu amat nikmat saat diteguk perlahan. Om Thomas tanya tujuan kedatangan Jeremy. Jeremy katakan bahwa ia sudah bosan hidup di kota. Jadi, ia ingin hidup di desa. Ia ingin hidup tenang. Suasananya tidak bising. Dan udaranya masih bersih. Om Thomas mengatakan bahwa besok bisa temani Jeremi untuk melihat keadaan di Kampung Tefu ini.

Tak berapa lama kemudian, Jeremy dan om Thomas diajak untuk makan malam. Om Thomas mengajak Jeremy menuju kamar makan. Di atas meja telah terhidang nasi dan


beberapa lauk. Kata Ros putri om Thomas,"Pak Jeremy, makanan di Kampung ya seperti ini. Tidak seperti di kota."

Jeremy menatap wajah Ros dan katanya,"Dek, makanan di kota memang enak bahkan enak sekali tapi itu karena kebanyakan bumbu. Lambat atau cepat akan menimbulkan berbagai penyakit yang belum ada obatnya. Kalau di desa makanan tidak seenak di kota tapi semuanya alami jauh lebih menyehatkan karena tidak ada zat pengawet." Ujar Jeremy.

"Pak Jeremy, sebenarnya mau ke mana?"tanya Ros saat mereka makan bersama di meja makanan.

"Adek, saya ini sudah bosan hidup di kota. Saya mau cari tempat yang cocok untuk tinggal. Ingin hidup tenang. Menyatu dengan alam."jawab Jeremy. "Pak Jeremy apa bisa betah hidup di kampung?"tanya Ros lanjut.

"Soal itu tergantung pada pribadi setiap orang. Bagi saya, tidak jadi masalah besar."terang Jeremy.

"Maksud bapak besok mau temani pak Jeremy jalan-jalan keliling kampung kalau itu pak Jeremy mau,"ujar om Thomas.

"Dengan senang hati jika om Thomas mau temani saya jalan-jalan keliling kampung. Apabila suasananya seperti saya inginkan saya akan cari tanah untuk beli dan bangun rumah kemudian tinggal di sini,"jawab Jeremy.

Usai makan, om Thomas dan Jeremy kembali ke ruang tamu. Sedangkan Ros bersama mamanya merapikan meja makan. Sesudah itu mereka menyusul ke ruang tamu. Di sama duduk cerita. Jeremy banyak bertanya tentang keadaan dan suasana di kampung Tefu. Dengan telaten, om Thomas, tante Bety dan Ros melayani setiap pertanyaan Jeremy secara terang benderang.

Tak terasa sudah jam 11 malam. Ros membawa koper Jeremy ke kamar yang telah ia siapkan. Ia mempersilakan Jereny untuk tidur karena tentu capai sekali setelah melakukan perjalanan panjang.

Mereka pun tidur. Suasana begitu sunyi. Hanya terdengar nyanyian jangkerik malam yang terdengar seperti sebuah simfoni yang mengalun merdu. Seringa dari kejauhan terdengar suara burung hantu yang ditingkahi lolongan anjing. Di kamar, Jeremy tak dapat nyenyak tidurnya. Wajah Ros gadis desa itu memenuhi alam lamunannya. Tutur katanya yang lembut amat menyenangkan hati. Ia baru jatuh tertidur jam 3 subuh.

Jam 5 subuh ia terbangun dari tidurnya. Membuka jendela kamar dan melihat keluar. Kabut putih turun menyelimuti alam. Suasana terasa amat dingin.

Pagi itu Jeremy disambut kabut putih dan Embun pagi yang tampak berkilauan di pucuk- pucuk muda. Kupu-kupu yang berwarna warni terbang dari setangkai bunga yang satu ke tangkai bunga yang lain. Sungguh suasana pagi yang begitu indah.

Jeremy merenggangkan tubuhnya. Kemudian keluar dari kamar. Ia mendengar suara Ros dan tante Bety dari dapur. Jeremy mendekati mereka di dapur dan ucapkan selamat pagi. Ros dan mamanya terkejut karena mereka berpikir ia masih tidur. Jeremy menuju ke ruang tamu. Di sana ia temukan pintu telah terbuka. Namun, ia tidak temukan om Thomas di sana. Ia kembali ke dapur dan menanyakan keberadaan om Thomas. Kata Ros bahwa bapaknya ada pergi keluar sapi-sapi dari kandang. Sedikit lagi sudah kembali.

Di dapur Jeremy melihat Ros sedang merebus ubi kayu dan ubi jalar. Aroma ubi memenuhi dapur. Jeremy menghirup aroma itu dengan sekuat tenaga. Karena aroma itu tidak pernah ditemui di kota. Di kota memang ada ubi kayu dan ubi jalar. Namun, setelah dimasak digoreng lagi sehingga bila dimakan rasanya amat jauh berbeda dengan ubi yang hanya direbus lalu dimakan.

Karena tak terbendung rasa ingin mencicipi, Jeremy meminta izin untuk mengambil sepotong ubi kayu. Ros mengambil dua potong ubi kayu dan dua isi ubi jalar ditaruhnya di piring lalu diberikanya pada Jeremy. Dengan cekatan dibuatkan segelas kopi eban lalu hendak dibawa ke ruang tamu. Akan tetapi, Jeremy tidak mau. Ia lebih suka duduk di dapur untuk bisa ngobrol dengan Ros dan mamanya.

Di dapur ada bangku kecil yang biasa digunakan tante Ros dan Ros saat memasak sebagai tempat duduk. Semula Jeremy mau menunggu om Thomas pulang baru minum bersama. Namun Ros dan tante Bety katakan tidak usah tunggu. Minum lebih dulu.

Jeremy minum sambil makan ubil. Ia merasa begitu nikmati. Satu kenikmatan yang belum pernah ia rasakan. Kopi belum habis keempat potong ubi sudah habis. Melihat itu,"Tanya Ros mau tambah? Inilah roti kami di kampung. Kalau di kota mau apa saja ada." Ujar Ros. "Memang benar di kota semua jenis kue dan roti itu ada. Tetapi apakah itu higienis? Belum tentu. Kalau di sini sudah pasti higienis karena semuanya masih alami."

Ros memandang wajah Jeremy. Begitu pula Jeremy. Ros tersenyum. Sebuah senyuman penuh arti. Begitu pula senyuman Jeremy di mata Ros, ia merasa seperti sebuah magnet. Di antara keduanya seperti sefrekuensi.

Jeremy belum tau bahwa gadis yang ada di depannya itu seorang mahasiswi semester akhir sebuah universitas negeri kota Sari. Karena keasyikan ngobrol tanpa disadari Jeremy telah menghabiskan 8 potong ubi rebus. Ia merasa malu terhadap Ros dan tante Bety.

Melihat itu perubahan pada wajah Jeremy, kata Ros,"Pak Jeremy jangan malu. Anggap saja di rumah sendiri. Tapi maaf pak Jeremy inilah keadaan kami."

"Adek jangan panggil saya pak. Panggil Jeremy.'

"Pak Jeremy tidak pantas Ros hanya panggil dengan nama. Bagi kami itu tidak sopan,"kata tante Bety yang sedari tadi hanya diam.

"Mama Bety, bagi Jeremy tidak apa-apa. Dengan begitu, tidak ada kecanggungan di antara kita,"sambung Jeremy. "Ade Ros, bisa Jeremy tanya?"tanya Jeremy. "Mau tanya apa saja boleh ko. Silakan."jawab Ros. "Ade Ros kuliah, ya?"tanya Jeremy.

"Ya, Ros kuliah di Unimor. Ambil jurusan pertanian. Sedang kerja tugas akhir."

"Wa, sebentar lagi sarjana. Tapi kenapa ambil pertanian bukan jurusan lain?"tanyanya lanjut. "Orangtuaku petani. Punya lahan yang cukup luas. Tapi pengolahannya masih secara tradisional. Padahal, di sini daerahnya cukup subur dan bisa tanam apa saja, seperti pisang, ubi kayu, ubi jalar, dan masih banyak lagi."urai Ros.

"Ade Ros bisa tidak sebentar dengan bapak Thomas kita jalan-jalan keliling untuk lihat-lihat keadaan di sini?"tanya Jeremy lagi.

"Bisa tapi tunggu bapak Thomas kembali. Nanti setelah sarapan pagi baru kamu bertiga boleh jalan-jalan."potong tante Bety.

"Seandainya daerah ini sesuai impian saya nanti saya mau beli tanah di sini. Pertama-tama tanah untuk bangun rumah dulu. Nanti baru beli lagi tanah untuk usaha,"sambung Jeremy. "Kalau hanya untuk buat rumah tidak usaha beli tanah. Nanti buat saja rumah di sini. Tanah kita ini luasnya hampir satu hektar,"potong tante Bety.

Liliba, 250125

25. Am Tebi dan Am Kefi

Hari itu dua orang sahabat yang sudah lama tidak ketemu karena kesibukan di musim hujan, yakni.mulai dari pagar kebun, tanam dan tofa rumput. Kedua sahabat itu adalah Am Tebi dan Am Kefi. Hari berada tempat favorit mereka yakni Warung Pojok.

Ketika berada di sana tiba-tiba hujan turun amat lembat. Warung pojok itu letaknya menghadap ke Terminal Kota Sari. Dari dalam warung tercium aroma yang amat sedap dari tumpukan sampah. Sampah sebagian besar terhanyut air ke mana-mana.

Tiba-tiba am Tebi nyeletuk katanya,"Ama, ini terminal ataukan TPS alis tempat pembuangan sampah?"

Jawab am Kefi,"Ya, terminallah ama."

"O,ya, kira tempat pembuangan sampah karena sampah menumpuk tinggi. Dan sekarang lihat sampah berserakan di mana-mana karena terhanyut air ketika hujan."kata am Tebe lagi. "Begitulah kondisi terminal kita. Karena orang-orang buang sampah sembarangan. Padahal, kata orang kota bilang tau jaga kebersihan sehingga sedikit sedikit mereka bilang kamu seperti orang kampung saja."sambung am Kefi.

"Ama, apakah tumpukan sampah yang ada di terminal ini dibuang oleh kita kita ini yang berasal dari kampung?"tanya am Tebe. "Nanti coba kita tanya pada butiran-butiran hujan yang jatuh ke bumi. Liliba,240126


26. MUNTABER


Di sebuah pesta pernikahan di Kota Sari, ada seorang perempuan cantik. Tinggi semampai. Berambut sebahu. Berwajah oval. Kulitnya langsat. Ia mengenakan baju yang menawan. Perempuan muda itu bernama Angela tapi biasanya dipanggil Enjel.

Malam itu semua pemuda mata tertuju pada perempuan muda itu. Saat acara bebas, musik mulai berdentum, setiap pria muda berebutan untuk berdansa dengan Angela. Orang pertama yang mendapatkan giliran pertama adalah Anton. Anton amat bangga karena ia orang pertama untuk berdansa dengan Angela, perempuan muda nan jelita itu.

Sementara dansa, Anton mulai tanyakan nama dan status Angela. Angela menyebutkan namanya dan status. Angela berterus terang bahwa ia dulu kecelakaan. Dan ia sekarang anaknya seorang perempuan berusia satu tahun tanpa ayah karena laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab. Betapa kecewanya hati Anton. Setelah itu Anton hanya berbasa basi demi menjaga perasaan Angela. Anton yang mula-mula menggebu-gebu tampak seperti bunga yang layu di siang hari. Anton pun muntaber alias mundur tanpa berita walaupun sudah kantongi nomor WA Angela.

Lagu kedua dimulai, Dony menang. Ia yang lebih dulu mengambil Angela. Ia pun sama seperti Anton. Tanya nama dan status serta minta nomor WA Angela. Angela menyebutkan nama dan berterus terang tentang statusnya. Dony pun sama seperti Anton. Sungguh kecewa karena tak menyangka bahwa status Angela seperti itu. Lagu selesai Dony melepas Angela dan dengan wajah yang dipenuhi kekecewaan. Walaupun sudah dapat nomor WA, ia tak pernah kontak seusai pesta itu. Dony juga muntaber alias mundur tanpa berita.

Lagu-lagu berikutnya, Erick, Markus, Lukas, Johny. Semua kwluar dari arena dansa dengan wajah kusut seperti orang kalah judi. Mereka juga sama muntaber. Dan yang terakhir itu adalah Hery.

Hery seorang pemuda tampan berwajah kebarat-barat. Hidungnya pun mancung. Kulitnya putih dan berambut air. Ia seorang pengusaha muda yang sukses.

Saat dansa Hery juga menanyakan hal yang sama. Sesudah itu kedua cerita sambil tertawa. Anton dan yang lainnya merasa heran. Bahkan seusai lagi, Hery dan Angela duduk bersama. Tampak mereka cerita dan tertawa lepas. Kadang terlihat Angela tertawa sambil memukul bahu Hery.

Selepas malam itu, Hery selalu VC dengan Angela. Itu bisa berjam-jam Mereka cerita.

Suatu ketika Hery datang mengunjungi Angela di kampungnya. Ia bertemu kedua orangtua Angela. Ia menyampaikan bahwa akan segera melamar Angela. Orangtua Angela katakan bahwa apa bisa terima keadaan Angela seperti itu. Kata Hery bahwa ia terima keadaan Angela apa adanya. Ia juga mengatakan bahwa setiap orang pasti pernah buat kesalahan. Akan tetapi sebagai manusia berakal budi dan ber-Tuhan, ia akan sadar dan bertobat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kuda binatang yang bodoh saja ketika teratuk pada sebuah batu saat mengikuti jalan yang sama ia tdk akan teratuk pada batu yang sama karena ia tetap ingat kejadian waktu lalu.

Seminggu kemudian, Hery datang melamar Angela. Dan dua bulan kemudian mereka pun menikah. Hery menerima anak Angela dan menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Kini keduanya sudah memiliki dua anak lagi dan semuanya laki-laki. Kedua anak ini sangat menyayangi kakak tirinya.

Liliba, 210125

27. Elegi

Masih sepagi ini Hari kehilangan keceriaan Angin pagi kehilangan candaannya Kupu-kupu kehilangan kuntum bunga tempat mengisap nektar Adalah sebuah elegi Hari ini tinggal sebuah cerita usang tentang kita Cerita usang penuh romantika Pagi ini kembali kupandang selembar potret kita dulu di pesisir pantai Senyuman mesra terpencar dari wajah tirusmu Adalah luka yang tak tersembuhkan Dengan langkah gontai kudekati mawar yang pernah dikau tanam lama tak terawat Di atas tanah ada kuntum yang jatuh terhempas angin musim Butiran mutiara lepas dari sarangnya tanpa kusadari

Hari ini tinggal kenangan Pagi ini kukatupkan jemari di depan Kulantunkan sepenggal doa penuh harap Semoga bahagia di alam sana

Liliba, 220125

28. Heny seorang gadis cantik.

Ia memiliki tubuh proporsional. Berambut air sebatas bahu. Ia gadis yang ramah dan amat sopan terhadap.siapa saja baik tua maupun muda. Ia juga seorang sarjana.

Seusai menyelesaikan pendidikannya, Heny pulang kembali ke daerah asalnya. Ternyata Heny memiliki bakat di bidang tarik suara sehingga selalu diundang untuk menyanyi di setiap pesta pernikahan. Dan semakin hari ia semakin terkenal di daerahnya sebagai seorang artis lokal. 

Suatu ketika di sebuah pesta pernikahan, Heny diundang untuk menyanyi. Pesta malam itu dihadiri banyak pula seorang pemuda. Namanya Beny. Beny seorang pemuda tampan dengan wajah yang menawan. Anak seorang pejabat. Malam itu Beny sangat tertarik dengan Heny. Ia selalu berusaha mencari kesempatan untuk berkenalan dengan Heny. Lewat seorang teman Heny, namanya Dina, ia diperkenalkan dengan Heny.

Dalam perkenalan itu, Beny dan Heny bertukaran nomor WA. Seusai pesta, Beny selalu DM dengan Heny. Lalu Beny menyatakan cintanya pada Heny. Semula Heny tidak langsung menerima pernyataan cinta Beny. Karena Heny masih ingin mengembangkan talenta yang dimilikinya. Namun, Beny tidak berputus asa. Ia terus mengejar cinta Heny.

Heny bukanlah gadis murahan. Sudah puluhan pemuda yang cinta mereka ditolak. Padahal, di antara pemuda itu ada yang sudah PNS, ada pula dari keluarga yang berada. Heny bukan melihat dari status sosial ekonomi pemuda itu. Melainkan ia melihat dari ketulusan hati, kesetiaan danbtanggung jawab sang pemuda tersebut.

Beny menggunakan berbagai cara untuk menaklukkan hati Heny. Akan tetapi, Heny melihat bahwa Beny memang ganteng dan tampan. Beny juga seorang putra seorang pejabat di daerahnya. Hanya menurut penglihatan Heny, Beny seorang pemuda play boy yang suka mempermainkan para gadis. Selain itu, mungkin karena anak seorang anak pejabat, Beny itu arogan, sombong dan tidak tau menghargai orang lain. Apalagi mereka yang berlatar belakang petani. Termasuk orangtuanya yang hanya petani. Oleh karena itu, Heny menolak cinta Beny.

Beny penuh percaya diri bahwa suatu ketika ia akan menaklukkan benteng pertahanan Heny. Ia terus berusaha. Hampir setiap minggu Beny datang ke rumah Heny dengan selalu berganti-ganti mobil. Akan tetapi, Heny tidak silau dengan semuanya itu. Dalam hati, Heny mengatakan bahwa yang dipamerkan itu adalah milik orangtua Beny. Bukan hasil usahanya sendiri. Terakhir Beny mundur secara teratur. Beny merasa frustrasi karena selama ini belum pernah seorang gadis pun yang menolak cinta. Akan tetapi, sehabis manis sepah dibuang. Sekarang Beny baru sadar bahwa ini hukum karma yang harus diterimanya. Padahal, saat ini ia benar mencintai Heny. Beny berpikir bahwa bila Heny menerima cintanya ia akan mengakhiri petuangan cintanya. Hanya realita yang dihadapi tidak sesuai harapannya.

Di lingkungan tempat tinggal Heny, ada seorang guru honorer. Namanya pak Jack. Ia seorang guru yang ramah, sopan, tau tata krama. Ia selain mengajar di sebuah SMP yang ada di situ, pak Jack seorang pekerja keras. Ia menanam berbagai jenis sayuran. Ia memelihara puluhan ekor ayam buras yang dikandangkan. Ia juga beberapa ekor babi.

Bila keluar sekolah, pak Jack sibuk dengan tanaman sayurnya kalau tidak membuat sibuk dengan ayam-ayam piaraannya. Untuk pakan ayam dan babi ia buat sendiri. Hasil sayuran ia jual sekeliling situ pagi hari sebelum pergi ke sekolah. Kalau tidak pada sore harinya. Dari hasil penjualan sayur, selain untuk memenuhi kebutuhannya, ia masukkan ke koperasi. Begitu pula hasil penjualan ayam dan babinya.

Dari situ pak Jack tidak tergantung pada honornya yang tak seberapa itu. Sekarang ia sudah bisa membeli motor. Hidupnya boleh dikatakan lumayan bagi seorang guru honorer.

Selain itu, pak Jack dikenal sebagai seorang MC yang banyak diundang untuk jadi MC. Ia selalu diundang bersama Heny. Heny diundang sebagai penyanyi sedangkan pak Jack sebagai MC. Oleh karena itu keduanya cukup akrab.

Heny sekarang sudah lulus tes CPNS. Jadi ia sekarang seorang pegawai di sebuah instansi pemerintah. Bahkan sudah menduduki salah satu posisi yang lumaya.

Heny sebenarnya sudah lama menyimpan rasa cinta pada pak Jack. Hanya sebagai seorang perempuan tak mungkin terlebih dahulu mengungkapkan perasaannya itu. Perasaannya itu hanya diungkapkannya lewat perhatian semata. Hanya pak Jack rupanya kurang peka rasa. Suatu sore Heny datang ke kebun sayur pak Jack. Ia sengaja hendak membeli sayur dan telur. Di sana ia bertemu dengan pak Jack. Pak Jack sedang sibuk melayani mereka yang datang membeli sayur secara langsung. Melihat Heny datang pak Jack datang menemuinya. Ia menanyakan maksud kedatangan Heny. Heny katakan ia juga hendak membeli sayur dan telur tetapi ia meminta pak Jack untuk terlebih dahulu layani yang lain dulu.

Setelah semua dilayani, pak Jack mengambil kantong plastik yang selalu disiapkan di situ. Ia mencabut sepuluh pohon sayur lalu dimasukkan ke kantong plastik. Kemudian dibawa menuju Heny.

Pak Jack menyerahkan kantong berisi sayur itu kepada Heny. Ketika Heny hendak membayar, pak Jack tidak mau. Walaupun dipaksa Heny, pak Jack tetap tidak mau terima uang tersebut. Ia katakan bahwa ia tidak mungkin miskin dengan sayur sepuluh pohon itu diberikan gratis itu.

Mentari telah memerah jingga di ufuk barat. Pertanda sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. Ayam-ayam mulai mencari dahan untuk mengaso. Heny dan Pak Jack masih duduk di kebun sayur. Mereka bercerita yang sering diiringi tawa kedua.

Ketika mentari terbenam, pak Jack mengajak Heny untuk pulang dan singgah rumah untuk ambil telur. Keduanya berjalan bersisian sambil cerita. Tak berapa lama mereka tiba di rumah pak Jack yang sederhana tapi bersih dan rapi.

Heny amat kagum karena walaupun pak Jack bujangan tapi rumahnya bersih dan rapi.

Pak Jack menyuruh Heny duduk. Ia masuk ke dalam lalu membuatkan dua gelas kopi. Kemudian dibawanya keluar. Disajikan di atas meja lalu dipersilakannya Heny minum. Keduanya minum sambil cerita. Heny menatap wajah pak Jack dengan tatapan penuh arti. Melihat ia ditatap, pak Jack agak tertunduk lalu pamit untuk mengambil telur di kandang.

Pak Jack menuju ke kandang ayam tanpa disadari ia diikuti Heny dari belakang. Mendengar derap langkah ia berbalik. Ia melihat Heny mengikutinya. Ia katakan;"Bu Heny, ini kotor nanti kaki bu kotor."

"Tidak apa. Saya mau lihat berapa banyak ayam yang pak Jack piara,"kata Heny. "Hanya 75 ekor, bu Heny. Enam puluh ekor betina dan 15 ekor jantan."jawab pak Jack. "Wa, banyak sekali itu. Pakan beli di toko, ya?"tanya Heny.

"Pakan ayam dan babi saya buat sendiri. Tambahan baru beli,"jawabnya lagi. "Apa bisa saya belajar buat pakan ayam dan babi di sini?"tanya Heny.

"Ibu sudah PNS dan jadi MC terkenal untuk apa belajar buat pakan ayam dan babi. Ini kecuali buat kami ini horor Rp 250 ribu per bulan dan terima 3 bulan sekali. Sedangkan ibu terima tiap bulan belum lagi dari MC,"kata pak Jack.

"Pak Jack kenapa tidak cari pendamping sudah?"Heny alihkan topik pembicaraan.

"Ibu Heny, apa ada yang mau dengan saya yang hanya guru honorer?"tanyanya sambil menatap wajah Heny.

"Masa tidak ada yang mau. Pasti ada,"kata Heny meyakinkan pak Jack.

"Ibu Heny, nona-nona sekarang mau hanya dengan mereka yang ber-NIP. Sedangkan NIP saya kebun sayur, kandang ayam dan babi."terang pak Jack.

"Jangan panggil saya ibu. Panggil saja Heny. Seandainya ya ini seandainya seseorang mau menerima kamu apa adanya mau tidak?"tanya Heny.

"Bu Heny..."

"Sudah saya bilang jangan panggil ibu. Kalau panggil saya ibu saya rasa seperti seorang perempuan yang sudah beranak cucu,"potong Heny.

"Ya, tapi itu tata sopan santun. Nanti saya dianggap tidak sopan,"kata pak Jack berdalih. "Saya bukan gila hormat. Cukup panggil Heny bisa juga panggil...."ia menggantung ucapannya. "Kalau bukan panggil Heny panggil apa lag?" Heny terjebak dengan ucapannya itu.

"Ya apalah terserah kamu?"

Melihat wajah Heny bersemu merah, dengan nada kelajar kata pak Jack,"Atau saya panggil sayang saja,"katanya sambil tertawa.

"Dasar laki-laki yang tidak peka rasa,"kata Heny sambil memukul lengan Pak Jack. Pak Jack sengaja meringgis kesakitan.

Heny cepat memegang tangan pak Jack sambil menatap wajahnya. Tiba-tiba pak Jack tertawa. Heny merasa gemas. Dipegang kedua pipi pak Jack dan katanya,"Jack Heny sudah lama memendam rasa cinta ini terhadap kamu. Tapi Heny sebagai perempuan tak mungkin ungkapkan perasaan terlebih dahulu. Heny tunjukkan lewat perhatian. Tapi kamu bersikap biasa saja,"ungkap Heny panjang lebih.

"Heny, sebenarnya saya juga sama. Tapi saya tau diri siapa diri saya ini. Heny itu sarjana, cantik, PNS dan MC terkenal. Dan saya tidak mungkin bersaing dengan mereka yang mendekati Heny. Mereka itu PNS, ada yang jaya atau anak pejabat,"ungkap Pak Jack.

"Jack, pemuda kaya tapi itu milik orangtua ya bukan hasil usahanya sendiri. Tidak seperti Jack pekerja keras, penuh tanggung jawab, sopan dan atau etika. Nikah dengan pemuda kaya nanti tidak menganggap orangtua kita yang hanya petani."ungkap Heny.

"Apa benar-benar Heny mencintai saya apa adanya?"tanya pak Jack.

"Jack, tadi Heny hanya sengaja mau beli sayur dan telur. Karena desakan perasaan di dalam hati maka Heny ke situ. Karena Heny harus ungkapkan perasaan yang sudah lama terpendam dalam hati. Sekarang segala beban perasaan itu hilang setelah tau bahwa Jack pun punya perasaan yang sama dengan Heny. Artinya Heny tidak bertepuk satu tangan."kata Heny sambil memegang kedua tangan pak Jack.

Pak Jack mengecup ubun-ubun Heny penuh rasa sayang. Kemudian Pak Jack mengambil telur sepuluh butir dibawa serta. Mereka masuk. Kopi yang tadi tinggalkan sudah dingin. Dan jam di hp telah menunjukkan pukul 19.00. Heny meminta pak Jack untuk mengantarnya pulang.

Tiba di rumah mereka disambut kedua orangtua Heny dengan penuh keramahan. Kata tante Sintha,"Katanya mau beli sayur. Kami tunggu-tunggu untuk bawa sayur untuk kita buat sayur tapi jam begini baru pulang bawa sayur,"sambil melihat pak Jack sambil tersenyum.

"Silakan duduk nak Jack. Sudah lama tidak main-main ke sini,"kata om Don ayah Heny.

"Mau datang bagaimana, bapak, kalau tiap hari sibuk urus ayam-ayam, babi, dan sayur,"kata Heny sambil menatap wajah Pak Jack sambil tersenyum.


"Mau bagaimana bapak kalau tidak seperti tidak mungkin Jack harapkan honor yang tidak seberapa itu,"kata Jack.

"Bapak salut pada kamu, nak Jack. Nak Jack orang yang rajin, tekun, tidak mudah menyerah. Itu baru laki-laki sejati,"sambung om Don.

Malam itu pak Jack diajak makan bersama. Kemudian mereka cerita. Dan kata tante Sintha,"Nak Jack belum mau cari pasangan kenapa?"

Heny melihat ke arah pak Jack. Kemudian melihat ke arah kedua orangtuanya sambil tersenyum.

"Sudah nak Jack, kamu dengan Heny saja. Kamu dua ini sudah lama berkenalan. Sudah saling tau kepribadian masing-masing. Bagaimana?"tanya om Don.

"Mama juga setuju, bapak. Bagaimana nak Jack?" Pak Jack melihat ke arah Heny. Heny tersenyum mesra. "Tadi kami sudah bicarakan itu, bapak dan mama."kata Heny.

"Bagus itu kalau memang kamu dua sudah bicarakan itu. Bapak dan mama setujui."sambung om Don. Mulai malam itu resmilah hubungan Heny dan Jack. 

Liliba, 210125

22.  Gita Pencint Sejati Bunda Maria

Tempat itu jauh dari keramaian. Tempatnya sunyi. Suasana begitu tenang. Di bawah rerimbunan pohon ada sebuah gua. Di dalam gua tersebut ditahtakan sebuah patung Bunda Maria.

Ada seorang gadis kecil namanya Gita. Ia berusia 8 tahun sedang duduk di bangku SD kelas

Gita seorang gadis pencinta sejati Bunda Maria.

Sejak usia enam bulan, mamanya selalu membawanya ke gua itu untuk melakukan novena. Itu dilakukan setiap sore jam 6.

Mulai memasuki usia lima tahun, Gita selalu datang ke sana untuk berdoa tanpa ketahuan kedua orangtuanya. Mamanya tante Yudith bingung karena lilin yang dibeli biasanya dapat dipakai untuk berdoa hampir dua minggu akhir-akhir ini tidak hanya seminggu.

Suatu sore baru jam 5.30 Gita sudah mandi. Setelah itu, berpakaian lalu ambil lilin lalu pergi ke Gua Maria. Sampai jam 6.30 Gita belum juga pulang. Tante Yudith mencarinya ke mana- mana tidak ditemukan. Tanya teman-temannya pun mereka tidak tau Gita ke mana.

Tante Yudith panik. Ia terus mencari Gita ke mana-mana. Termasuk ke rumah Lory. Di sana pun Gita tidak ada. Ketika pulang dari rumah di tengah jalan tante Yudith berpapasan dengan Yuli seorang gadis yang baru pulang berdoa di gua tersebut. Tante Yudith tanya apakah ia lihat Gita. Yuli katakan bahwa Gita masih berdoa di Gua Bunda Maria. Tadi Yuli ajak untuk pulang sama-sama tapi Gita bilang ia masih mau berdoa. Tante Yudith mulai merasa lega.

Gua itu letaknya di pinggir perkampungan tapi tidak terlalu jauh dari rumah Gita. Selain itu, di sana sudah dipasang lampu listri. Jadi suasananya terang. Juga gua tersebut tidak pernah sepi sampai jam 12 malam. Banyak orang yang datang ke sana untuk melantunkan doa kepada bapak di surga lewat perantaraan Bunda Maria.

Tante Yudith merasa lega. Ia pun pulang kembali ke rumah. Jam 7 baru Gita pulang. Ketika ditanya ia menjawab bahwa ia baru pulang dari gua. Ia pergi berdoa di sana. Tante Yudith tanya lagi,"Apa yang kamu minta dalam doa tadi?" Jawabnya," Mohon Gita diberi kerendahan hati agar Gita rendah hati seperti Bunda Maria."

Tante Yudith merasa begitu merasa terharu mendengar jawaban Gita putrinya. Kemudian tanyanya lagi,"Berarti selama ini Gita yang ambil pergi doa di sana, ya?" Jawabnya,"Ya, Gita minta maaf karena ambil tidak beri tau mama. Gita pikir kalau minta nanti mama tidak kasih,"katanya polos.

Tante Yudith memeluk putrinya lalu mengucup ubun-ubunnya dan katanya,"Mama tidak akan marah kalau minta. Mama senang sekali kalau tiap sore Gita pergi berdoa di sana. Mama sekarang tiap sore sibuk jadi tidak bisa temani Gita ke sana." Kata Gita,"Gita bisa sendiri ko. Biasanya sore banyak orang yang datang berdoa di sana."

Tante Yudith kian erst memeluk sang putrinya. Ia bersyukur bahwa yang ditanamkan dulu sekarang jadi kebiasaan putrinya.

Mumpung masih ada waktu buat kita itulah penggalan lagu yang menyentuh hati. Mumpung masih ada waktu buat kita menikmati alam Bendungan Rotiklot yang amat menawan hati.

Kalau pemandangan di Bendungan di Rotiklot menawan hati yang tertawan. Memerah jingga di ufur barat menandakan sebentar lagi akan malam.pun tiba. Namun hati inj belum puas menikmati semilir angin dan indahnya pemandangan Bendungan Rotiklot.

Siulan burung-burung seperti sebuah lagu perpisahan mengalun merdu. Dedaunan pohon bermanja dalam pelukan semilir angin senja menghantar mentsri senja tenggelam di ufuk barat. Dengan hati berat aku harus tinggalkan suasana yang begitu indah.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOAL – SOAL PERSIAPAN UJIAN AKHIR KELAS IX MATA PELAJARAN PEND.AGAMA KATOLIK & BUDI PEKERTI SMP KATOLIK ST.THERESIA KUPANG TAHUN 2025

Perjalanan Panjang Paroki St.Fransiskus Assisi Kolhua Kupang, Dari 1 KUB Sampai Menjadi Satu Paroki

Setelah 22 Tahun Mengabdi, Hari Ini Berakhir !