Syukur Aku Memberi Yang Dia Minta
SYUKUR KARENA AKU MEMBERI APA YANG DIA MINTA
Mengenang Osias Si Kaki Palsu
Tahun 2002 selepas aku menyelesaikan studiku di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang-Jawa Timur. Momentum yang tidak pernah luntur di sanubariku adalah, peristiwa Jumat, 20 September 2002 dimana disaksikan oleh sekian pasang mata apalagi oleh orang tua yang harus berjuang menantang arus lautan dari Timor guna menjadi saksi cinta momentum itu. Hari itu bersama teman-teman seangkatan kuncir (tali toga) dipindahkan dari kiri ke kanan oleh rektor IPI saat itu, seorang pribadi yang mudah senyium dia adalah Paulus Mudjijo’
Malam itu, adik–adik yang turut berbahagia bersama kami diam-diam telah menyiapkan acara yang sangat mengesankan. Saya sendiri sangat bahagia karena peristiwa puncak perjuangan saya disaksikan oleh Kakak Paulinus, kk Rin dan anak Nusrila. Nusrila saat itu baru berusia 2 tahun.
Setelah segala urusan di kampus beres, saya kembali ke Timor mengikuti keluargaku yang telah duluan ke Timor-NTT. 3 Januari 2003 saya tercatat sebagai staf pengajar di SMPK Sta.Theresia Kupang. Oleh Sr.Amanda,SSpS (ortu angkat) aku diminta menemani Adelino di RSS Liliba-Kota Kupang. Setahun tiap pagi jembatan Liliba menjadi saksi bisu PP Santhers-Liliba.
Dari Liliba saya pindah ke Perumnas, diperumnas (Batu Kristal) setahun aku menjadi warga perumnas, akhirnya tahun 2005 pindah lagi ke Gua Lordez (Lasikode), di rumah berdinding bebak itu sepertinya kami sangat kerasan. Meskipun medannya sangat sulit, air menjadi barang langka namun 7 tahun saya bersama adik Paulus bersama keluarganya kami menempati rumah berdinding bebak itu, malah meski masih misa muda saya terpilih menjadi ketua KUB Sta.Roswita, Paroki St,Yosep Naikoten. Malah di tempat itulah ari-arinya Amanda Klara putri kedua dari Paulus dikubur (Amanda lahir)
Aku Bersyukur Karena Aku Memberinya
Adalah (almarhum) Osias, seorang pemuda catat fisik, berpostur pendek, berkulit hitam dan berambut keriting berasal dari satu kabupaten di NTT ini. Alm.Osias tidak normal, ia tidak memiliki kaki kanan. Untuk menopang tubuhnya yang mungil itu ia dipasangi kaki palsu. Osias tidak berkeluarga, dalam keterbatasanya ia terus bekerja sebagai tukang bangunan untuk membiayai ponaaan-ponaannya, ada yang SMA dan ada yang kuliah.
Hari itu pukul 15.00 udara kota karang masih panas, muncullah si Osias bersama seorang ponaannya yang kuliah. Rasa kantukku belum juga hilang. Ketika mengetahui kedatangan mereka aku bergegas keluar dari kamar tidur sederhanaku. Mama Bet menyuguhkan kopi untuk mereka berdua. Ternyata tujuan mereka ke rumah adalah untuk meminjam uang karena besok batas akhir pembayar uang kuliah sang ponaannya. Saya memang agak berat untuk memberinya uang saat itu karena uang yang ada ditangan saya tidak seberapa dan lagi itu uang milik anak-anak wali saya.
Saya akhirnya memberi uang seperti yang mereka minta. Tak disangka dua minggu kemudian kami dapat kabar kalua Osias telah meninggal dan dikuburkan di kampung halamannya. Saya menyesal mengapa kami tidak dikabari soal kematian Osias itu. Namun saya lebih bersyukur dua minggu lalu mereka ke rumah dan apa yang dia minta saya berikan. Saya tahu bahwa Osias kini berbahagia di surga dan dia tidak pernah bosan mendoakan saya dan keluarga kecilku serta mereka yang mengenalnya secara baik. Bahagialah di disurga saudara Osias.
Sayang beribu sayang, saya tidak memiliki foto sosok Osias..
Bello, 16 Oktober 2020

Komentar
Posting Komentar