Ikatan Katekis Assisi - BKSN 2024bRegio Nustra


 


BKSN 2024

REGIO NUSA TENGGARA

 

 

 


 

GAGASAN PENDUKUNG

 

ALLAH SUMBER KEADILAN

Kitab Nahum dan Kitab Habakuk

Dr. R.F. Bhanu Viktorahadi Pr.

 

 

I. SITUASI HIDUP DAN PERTANYAAN ORANG BERIMAN

Dunia dan kehidupan manusia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Pada penghujung 2023 dunia rusuh akibat terjadinya sejumlah perang. Salah satu yang paling menimbulkan kontroversi adalah perang antara Israel dan Palestina. Imbasnya sampai ke aneka macam wilayah kehidupan manusia, terutama wilayah keyakinan. Alam pun sepertinya ingin berpartisipasi meramaikan rusuhnya kondisi kehidupan. Sejumlah gempa terjadi. Cuaca ekstrem melanda beberapa daerah.

Sejumlah kondisi tidak baik-baik saja itu juga ikut merebak. Antara lain, situasi geo-politik di Indonesia menjelang dan pada saat Pemilu 2024. Adanya ancaman inflasi yang mulai terasa sepanjang 2023, sehingga dikhawatirkan terjadi resesi ekonomi pada 2024. Ada juga fenomena ‘stunting’ alias pengerdilan. Fenomena ini menjadi isyarat sekaligus bukti bahwa terjadi proses yang tidak semestinya dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia. Manusia yang seharusnya tampil sebagai makhluk yang sempurna karena diciptakan secitra dengan Allah justru pertumbuhannya terhambat dan bahkan tercemar aneka macam gangguan.

Hampir dapat dipastikan bahwa terjadinya sejumlah gangguan pada alam yang mengakibatkan gempa dan cuaca ekstrem itu tidak terjadi dengan sendirinya karena alam menghendakinya. Demikian pula fenomena buruk yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah buah dari kelalaian manusia dalam menjaga relasinya dengan dirinya sendiri, sesama, dan Allah. Singkatnya, yang menjadi penyebabnya adalah manusia. Manusia tidak pandai melestarikan, menjaga, dan merawat alam semesta.

Ketidakmampuan atau kelalaian manusia dalam melestarikan, menjaga, dan merawat alam semesta dan kehidupannya ini menghadirkan penderitaan. Dalam kondisi menderita ini muncul aneka macam pertanyaan terkait dengan Allah. Antara lain, apakah Allah sungguh adil, di mana peran Allah dalam menciptakan keadilan bagi manusia yang lemah, dan sejauh mana Allah memulihkan kemuliaan manusia yang hilang akibat ketidakadilan. Pertanyaan yang terkait dengan manusia juga bermunculan. Antara lain, bagaimana sikap umat beriman dalam menanggapi kondisi ketidakadilan dan disposisi batin macam apa yang harus dibangun untuk tetap beriman kepada Allah dalam situasi sulit itu.

Nabi Nahum dan Nabi Habakuk hadir dalam kondisi masyarakat yang sedang mengalami penderitaan dan menantikan keadilan Allah bekerja. Dengan melukiskan penghakiman Allah atas Niniwe, Nahum memandang penderitaan dalam wujud dan bentuk malapetaka sebagai ajakan untuk mengembangkan sikap beriman melawan aneka bentuk pembusukan dalam masyarakat. Kitab nubuat Nahum didominasi perasaan dan keyakinan kuat akan kebesaran dan kedaulatan Yahweh, Allah Israel serta perhatian-Nya yang penuh kasih kepada orang-orang yang lemah dan tertindas. Sementara itu, Habakuk mengungkapkan bahwa Allah akan mengakhiri ketidakadilan jika orang beriman sanggup menunjukkan kredibilitas, keadilan, ketegasan, dan kesetiaan dalam melakukan kebenaran yang berbasiskan pada kasih, kredibilitas, keadilan, ketegasan, dan kesetiaan untuk memenuhi kehendak Allah.

Nabi Nahum dan Habakuk memang tidak menawarkan solusi-solusi praktis atau jawaban-jawaban konkret untuk mengatasi penderitaan dan menegakkan keadilan. Akan tetapi, kedua nabi kecil itu menawarkan suatu disposisi batin atau sikap iman yang tepat dalam menghadapi aneka macam kondisi negatif yang berpotensi menjauhkan umat beriman dari Allah. Disposisi batin atau sikap iman yang tepat ini niscaya akan membantu umat beriman untuk memahami Allah sebagai sumber keadilan, terutama di saat-saat mengalami penderitaan.

 

II. MENDALAMI TEKS KITAB SUCI

Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2024 mengajak umat beriman Katolik di Indonesia untuk mendalami tema ‘Allah sumber keadilan’. Kitab Nahum dan Kitab Habakuk menjadi sumber inspirasi dalam pendalaman tema ini. Pada zamannya masing-masing, kedua nabi kecil itu berjuang bersama umatnya untuk mengenali dan memahami cara Allah memulihkan dan menegakkan keadilan. Guna mengenali dan memahaminya umat akan mendalami empat sub tema yang mengambil inspirasinya dari teks-teks pilihan dari Kitab Nahum dan Kitab Habakuk.

 

2.1 Nabi Nahum

Judul kitabnya memberi keterangan bahwa Nahum adalah orang Elkos (Nah.1:1). Akan tetapi, di luar kitabnya, tidak satu pun teks Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memakai nama Nahum. Salah satu analisis menjelaskan bahwa nama ‘Nahum’ berasal dari akar bahasa Ibrani ‘nḥm’. Artinya, ‘melipur’ atau ‘menghibur’. Dua makna ini dapat memberi keterangan bahwa ‘Nahum’ memiliki makna ‘si pelipur’ atau ‘si penghibur’. Dari situ dapat juga dipahami makna nama Nahum sebagai ‘orang yang dapat menghibur’. Terkait ‘melipur’ atau ‘menghibur’ ini, pesan pengharapan sebenarnya sudah tampak sejak awal kitabnya.

“TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa-Nya, tetapi sekali-kali Ia tidak membebaskan orang bersalah dari hukuman. TUHAN berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya. TUHAN itu baik; tempat perlindungan pada waktu kesusahan; Ia memperhatikan orang-orang yang berlindung pada-Nya” (Nah. 1:3, 7).

Pesan pengharapan pada awal kitab ini tampak dalam keseluruhan kitab yang memuat tiga bab ini. Pengharapan itu muncul secara dramatis dan optimis. Munculnya pesan pengharapan dalam kitab ini memastikan bahwa yang menjadi konteksnya adalah situasi dan kondisi ancaman yang menimbulkan tanggapan atau reaksi keras terutama terhadap ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh kekuatan asing (Nah. 1:13; 2:2.13-14; 3:1).

Kekuatan asing yang dimaksud adalah bangsa Asyur yang terkenal karena kekerasan dan kekejamannya. Terhadap penindas yang keras dan kejam ini, sang nabi menunjukkan perlawanannya sebagai representasi sikap dari orang sebangsanya. Seiring dengan itu, sang nabi juga menyampaikan suatu kesadaran bahwa penindas ini terlalu kuat untuk dilawan rakyat kecil Yehuda. Oleh karena itu, ia terus menyampaikan pesan optimismenya dengan memperlihatkan Allah sebagai panglimanya. Sebagai Panglima, Allah menjadi pejuang yang berupaya untuk memulihkan dan menegakkan keadilan bagi umat-Nya.

 

2.2 Nabi Habakuk

Judul kitab ini tidak memberi informasi kepada pembaca, baik asal-usulnya, maupun nama ayahnya. Periode waktu hidup dan aktivitasnya pun gelap. Kenyataan bahwa konteks dan latar belakangnya sangat gelap ini menjadi sesuatu yang sangat mengherankan karena Habakuk justru hadir secara utuh dan penuh pada semua bagian kitab sebagai seorang nabi yang bergelut dengan dinamika zamannya. Akan tetapi, ketiadaan informasi konteks dan latar belakangnya dapat menjadi simbol bahwa nabi ini adalah seorang tokoh yang melampaui lingkup sejarah dan masanya.

Habakuk menjadi gambaran sosok yang sanggup menyibukkan dirinya ke dalam setiap keprihatinan historis masanya sekaligus berusaha menangkap dan menghadirkan kehendak Allah dalam setiap kesempatan hidupnya. Berdasarkan komposisinya, para ahli memperkirakan bahwa kitab ini berada pada konteks waktu antara akhir abad ketujuh dan awal abad keenam. Acuannya adalah sejarah terkait penindasan Babilonia yang mengakibatkan kerusakan tak terperikan. Penindasan ini ditanggapi Habakuk dengan mengobarkan ancaman bagi para penindas dalam bentuk doa bernada ratapan (Hab. 3:1-19).

Habakuk adalah seorang anak zaman. Dalam bentangan waktu yang cukup panjang, sang nabi membatasi dirinya pada aktivitas menangkap, mendengarkan, dan mewartakan Sabda Allah. Seperti nabi sezamannya, Yeremia, Habakuk mengambil inisiatif dengan bertanya kepada Allah, menuntut jawaban, dan membuka cakrawala harapan. Nubuat-nubuatnya mewujud dalam dialog antara dirinya sebagai nabi dan Allah. Dialog itu mendatangkan pengajaran untuk orang-orang sezamannya dan untuk generasi masa depan. Nubuatnya bagaikan buah permenungan, refleksi, dan doa yang tak berkesudahan. Nubuatnya memang singkat tetapi menjadi salah satu nubuat yang paling mendalam dari Perjanjian Lama. Hanya melalui dialog dengan Allah, aneka macam pertanyaan, keberatan, sikap iman, dan keterbukaan terhadap semua harapan untuk dapat mengenali dan memahami cara Allah memulihkan dan menegakkan keadilan akan diperoleh seorang beriman.

 

III. PERTEMUAN

Sepanjang Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2024 umat beriman mendapat kesempatan untuk mengenal sosok Nabi Nahum dan Nabi Habakuk. Keduanya termasuk dalam kategori nabi-nabi minor atau nabi-nabi kecil yang kiprahnya seringkali kurang dikenal. Umat beriman mendapatkan kesempatan berkenalan dengan keduanya, sekaligus mendalami nubuat-nubuat mereka tentang Allah sebagai sumber keadilan. Guna mengenali sosok dan nubuat-nubuat kedua nabi itu umat beriman mendapat kesempatan untuk menggelar empat kali pertemuan. Setiap pertemuan ada sub-tema yang dapat didiskusikan dan direnungkan bersama-sama. Keempat sub-tema adalah sebagai berikut:

(1) Allah dasar pengharapan dalam kesulitan (Nah.1:1-8)

(2) Allah memulihkan kemuliaan manusia (Nah. 2:1-2)

(3) Menjadi manusia yang benar supaya tidak mengalami hukuman (Hab. 2:1-5)

(4) Menjadi manusia yang bersukacita karena Allah yang adil (Hab. 3:1-19)

Pada pertemuan pertama, dengan bantuan nubuat Nahum (Nah.1:1-8) umat beriman dapat melihat bahwa kehendak Allah bekerja dengan merusak segala bentuk ketidakadilan. Setelah segala wujud dosa yang menyebabkan ketidakadilan itu dihalau dan dihancurkan, Allah membangun dan menata kembali kehidupan yang menghadirkan keselamatan.

Pada pertemuan kedua, didiskusikan ketidakadilan yang membuat kemuliaan manusia hilang. Supaya kembali pada martabatnya, manusia harus merebut kembali dan memulihkan kembali kemuliaannya. Untuk itu, manusia beriman harus memohon Allah untuk membantunya dalam memulihkan kemuliaannya yang hilang. Melalui nubuatnya Nahum mengungkapkan bahwa Allah akan memulihkan kemuliaan manusia sebagaimana Ia memulihkan kemuliaan Yakub, seperti kemuliaan Israel (Nah. 2:1-2).

Pada pertemuan ketiga, dengan bantuan nubuat Habakuk umat beriman mengenali gagasan ‘orang benar’. Dengan mengenali dan memahaminya, orang beriman akan sampai pada suatu kehidupan yang dilandasi oleh imannya (Hab. 2:1-5). Guna mendapatkan pemaknaan yang tepat atas ide ‘orang benar’, Rasul Paulus memberi bantuan dengan permenungannya atas nubuat Habakuk itu dalam pewartaannya tentang ‘Orang benar akan hidup oleh iman’” (Rm. :17).

Pada pertemuan keempat atau terakhir, diungkapkan pengalaman-pengalaman positif akan Allah. Pengalaman-pengalaman semacam itu akan membangkitkan optimisme dalam diri manusia beriman bahwa hidup yang dijalaninya adalah berkat dan rahmat dari Allah yang terus-menerus menghendaki hidup manusia berada dalam kondisi damai sejahtera dan adil. Nubuat Habakuk membantu orang beriman dalam memahami Allah yang adil (Hab. 3:1-19).


 

PERTEMUAN PERTAMA

 

ALLAH MENJADI DASAR PENGHARAPAN

DALAM KESULITAN

(Nah.1:1-8)

 

Tujuan:

1. Peserta memahami bahwa Allah merupakan dasar pengharapan di tengah kesulitan hidup.

2. Peserta mampu mengandalkan Allah dalam segala situasi kehidupannya.

 

Gagasan Pokok :

§  Dalam perikop Nah 1:1-8, Nabi Nahum menggambarkan kepedulian TUHAN Allah Israel akan kesusahan dan kesulitan yang dihadapi umat-Nya yang sedang berada di bawah kekuasaan Asyria. Gambaran kepedulian Allah itu ditunjukkan lewat kemarahan Allah kepada bangsa Asyria yang menjadi lawan atau musuh umat pilihan-Nya. Terhadap para musuh-Nya, TUHAN digambarkan sebagai Allah yang cemburu dan pembalas serta penuh kehangatan amarah. Allah bertindak adil terhadap mereka, dengan memberi hukuman yang setimpal dengan kejahatan mereka. Selain itu Allah juga menunjukkan kebaikan-Nya kepada bangsa pilihan-Nya. Kebaikan Tuhan tersebut digambarkan melalui ayat berikut: “Tuhan itu baik; tempat perlindungan pada waktu kesusahan; Ia memperhatikan orang-orang yang berlindung pada-Nya, bahkan dalam banjir yang melanda. Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya dihalau-Nya ke dalam gelap” (Nah 1:7-8).

§  Situasi hidup manusia tidak terlepas dari aneka bentuk kesulitan. Kesulitan-kesulitan itu terjadi dalam berbagai bidang kehidupan seperti dalam bidang ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, politik, kesehatan, dll. Ada kesulitan yang timbul karena kesalahan manusia itu sendiri, maupun juga karena ditimpakan oleh pihak lain secara tidak adil. Dalam situasi ini, manusia kerap kali mengalami putus asa, tidak berdaya, pasrah pada nasib, kompensasi pada hal-hal yang tidak sehat, mempersalahkan Tuhan dan sesama, bahkan bunuh diri.

§  Berhadapan dengan situasi ketidakberdayaan, umat Regio Nusra diharapkan mampu untuk selalu mengandalkan Tuhan. Saat mengalami kesulitan dalam kehidupannya, umat hendaknya senantiasa percaya kepada Allah sebagai sumber pengharapan, dan sumber kekuatan untuk berjuang mengatasi aneka kesulitan hidup. Sikap mengandalkan Tuhan membuat umat tidak terjebak dalam keputusasaan dan kepasrahan kepada nasib, melainkan percaya bahwa dengan kekuatan rahmat Tuhan, mereka sanggup mengatasi kesulitan hidup.

 

PELAKSANAAN PERTEMUAN

 

I. PEMBUKAAN

01. Lagu Pembuka (Lagu yang sesuai)

02. Tanda Salib dan Salam

P   : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

U  : Amin

P   : Semoga Tuhan beserta kita

U  : Sekarang dan selama-lamanya

 

03. Kata Pengantar

P   : Bapak Ibu dan saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, kita kembali memasuki Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Sepanjang Bulan Kitab Suci Nasional 2024 ini, kita, umat beriman, mendapat kesempatan untuk mengenal sosok Nabi Nahum dan Nabi Habakuk. Keduanya termasuk dalam kategori nabi-nabi kecil yang kiprahnya seringkali kurang dikenal. Terinspirasi dari Nabi Nahum dan Habakuk, umat diajak untuk merenungkan tema Umum BKSN 2024: “Allah Sumber Keadilan”, dengan empat sub tema yang akan digumuli dalam empat kali pertemuan:

(1)   Minggu Pertama:Allah Menjadi Dasar Pengharapan dalam Kesulitan (Nah. 1:1-8).

(2)   Minggu Kedua: Allah Memulihkan Kemuliaan Manusia (Nah. 2:1-2).

(3)   Minggu Ketiga: Menjadi Manusia yang Benar Supaya Tidak Mengalami Hukuman (Hab. 2:1-5).

(4)   Minggu Keempat: Menjadi Manusia yang Bersukacita karena Allah yang Adil (Hab. 3:1-19).

Pada hari ini kita akan mendalami tema Minggu yang Pertama yaitu Allah Menjadi Dasar Pengharapan dalam Kesulitan (Nah 1:1-8). Sumber inspirasinya berasal dari Kitab Nahum. Kisah Nabi Nahum dalam pertemuan pertama ini mengajak kita untuk memahami dan merenungkan bahwa dalam situasi kesulitan hidup, Allah tetap menjadi dasar pengharapan bagi bangsa pilihan-Nya.

Mari kita mengawali pertemuan ini dengan doa.

 

04. Doa Pembuka

P   : Marilah kita berdoa

Allah Bapa sumber pengharapan, kami bersyukur atas rahmat kehidupan yang Engkau anugerahkan kepada kami. Perjalanan hidup kami diwarnai dengan suka dan duka, silih berganti. Ketika dalam situasi suka, hidup kami penuh semangat namun ketika dalam situasi sulit, kami sering merasa putus asa dan kehilangan semangat. Ampunilah kami karena seringkali tidak tahan dalam penderitaan. Kami mohon bukalah hati dan pikiran kami, sehingga melalui pewartaan Nabi Nahum ini, kami dimampukan untuk menjadikan Engkau sebagai satu-satunya sumber pengharapan dalam kehidupan kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dan Roh Kudus Allah sepanjang segala masa.

U :  Amin 

 

II.         LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN

 

A.   LECTIO = MEMBACA

05. Membaca Teks Kitab Suci (Nah.1:1-8)

(Fasilitator meminta seorang peserta untuk membacakan teks Kitab Suci dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dari Alkitab masing-masing.)

         

Bacaan dari Kitab Nahum

1Ucapan ilahi tentang Niniwe. Kitab penglihatan Nahum, orang Elkos. 2TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kobaran amarah. TUHAN itu pembalas lawan-lawan-Nya dan pendendam kepada musuh-musuh-Nya. 3TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa-Nya, tetapi sekali-kali Ia tidak membebaskan orang bersalah dari hukuman. TUHAN berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya. 4Ia menghardik laut dan mengeringkannya, dan segala sungai dibuat-Nya gersang. Basan dan Karmel menjadi tandus dan kembang Libanon menjadi layu. 5Gunung-gunung berguncang di hadapan-Nya, dan bukit-bukit mencair. Bumi terungkit di hadapan-Nya, dunia serta seluruh penduduknya. 6Siapa dapat berdiri menghadapi geram-Nya? Siapa tahan terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala? Luapan amarah-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu roboh karena Dia. 7TUHAN itu baik; tempat perlindungan pada waktu kesusahan; Ia memperhatikan orang-orang yang berlindung pada-Nya, 8bahkan dalam banjir yang melanda. Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya dihalau-Nya ke dalam gelap.

Demikianlah Sabda Tuhan

(Umat menjawab: Syukur kepada Allah)

 

06. Mendalami Teks

(Fasilitator mengajak peserta untuk membaca ulang teks tersebut secara pribadi sambil membiarkan diri disapa oleh Sabda Tuhan. Setelah cukup waktunya, pemandu mengajak peserta untuk merenungkan sekaligus mendalami teks Kitab Suci bersama-sama misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun berikut ini.)

(1)   Tentang kota manakah nubuat Nahum ditujukan? (ayat 1)

(2)   Apa gambaran tentang murka Allah yang ditampilkan oleh Nahum? (ayat 2-3)

(3)   Apa sikap Allah terhadap kota Niniwe? (ayat 4-6)

(4)   Manakah gambaran tentang kebaikan Allah yang ditampilkan oleh Nahum? (ayat 7-8)

 

07. Rangkuman

(1)   Kitab Nahum memusatkan perhatiannya pada jatuhnya Niniwe, ibukota kekaisaran Asyur (tahun 612 SM). Sebagai seorang nabi, Nahum menafsirkan jatuhnya Niniwe sebagai wujud nyata tergenapinya pengharapan Israel yang sedang dalam kesulitan. Kenyataan bahwa pada akhirnya Niniwe sebagai pusat kehidupan kekaisaran Asyur jatuh menjadi suatu bukti nyata bahwa Allah mendengarkan pengharapan Israel yang sedang dalam kesulitan.

(2)   Pada awal kitabnya, nabi Nahum menegaskan bahwa meskipun bangsa Israel berada dalam penindasan bangsa Asyur, tetapi Allah menjanjikan pengharapan kepada bangsa pilihan-Nya, dengan menunjukkan kebaikan hati-Nya. Dengan itu Allah tidak membiarkan umat-Nya berada dalam penderitaan. Sikap Allah digambarkan dengan jelas, yaitu Allah menghukum orang yang melakukan penindasan, dan Allah membela orang-orang tertindas yang berharap kepada-Nya. 

(3)   Kitab nubuat Nahum didominasi oleh keyakinan dan perasaan kuat akan kebesaran dan kedaulatan Allah. Allah menjadi pembela orang-orang yang lemah dan tertindas. Untuk orang-orang semacam itulah Allah memelihara perasaan kelembutan dan kebaikan. Nahum yakin bahwa Allah menepati janji-janji yang dibuat untuk orang-orang yang percaya kepada-Nya (Nah. 1:7). Janji itu menjadi pemenuhan harapan bagi bangsa Israel yang sedang berada dalam kesulitan, terutama akibat ketidakadilan.

 

B.   MEDITATIO = MERENUNGKAN 

08. Merenungkan

(Setelah selesai tahap Lectio dan pendalaman, fasilitator mengajak peserta melangkah ke tahap meditatio atau merenung. Pertanyaan penuntun untuk permenungan dan sharing, direnungkan selama kurang lebih 3 menit, dalam suasana hening lalu disharingkan dengan tuntunan pertanyaan berikut ini. Tidak mesti semuanya dijawab satu per satu tetapi bisa sharingkan mana pertanyaan yang sesuai untuk setiap pribadi.)

(1)   Nabi Nahum menggambarkan kesulitan yang dialami oleh bangsa Israel di Niniwe. Apakah saya juga mengalami kesulitan tertentu yang sangat berat sampai menimbulkan rasa putus asa? Manakah kesulitan yang dihadapi?

(2)   Nabi Nahum menggambarkan juga kebaikan Allah terhadap bangsa pilihan-Nya di dalam kesulitan mereka. Apakah saya menyadari kebaikan Allah dalam kesulitan yang saya alami?

(3)   Nabi Nahum menggambarkan sikap mengandalkan Allah sebagai dasar pengharapan dalam menghadapi kesulitan. Bagaimana sikap saya dalam hal mengandalkan Tuhan ketika menghadapi kesulitan hidup?

 

09. Sharing Pengalaman Iman

(Fasilitator mengajak peserta untuk mensharingkan hasil permenungannya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan penuntun tadi. Agar tidak terlalu lama, maka sharing ini bisa dibatasi untuk beberapa orang saja. Fasilitator mengingatkan peserta agar di dalam sharing harus menggunakan kata “saya” atau “aku” dan bukan” kita”  atau  ‘kami” untuk menghindari kesan menggurui, mengajar atau mengkotbahkan orang lain. Fasilitator berperan mengatur jalannya sharing dan mencatat poin-poin penting dari sharing peserta untuk dijadikan bahan penegasan.)

 

10. Penegasan Fasilitator

(1)   Kehidupan manusia di dunia ini penuh dengan dinamika, ibarat roda berputar: kadang-kadang mengalami banyak kemudahan, kadang-kadang juga mengalami banyak kesulitan, kesusahan dan tantangan; kadang-kadang merasa sehat dan kadang-kadang sakit. Ada sukacita namun ada juga dukacita yang menghampiri kehidupan manusia. Di tengah kesulitan yang mendera kehidupan, manusia sering kali goyah imannya dan putus asa.

(2)   Sebagai murid-murid Kristus, kita dipanggil untuk selalu mengandalkan Tuhan sebagai dasar pengharapan dalam segala situasi kehidupan. Dalam situasi suka maupun duka kita harus tetap teguh dalam iman, karena Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa-Nya. Tuhan itu baik; tempat perlindungan pada waktu kesusahan; Ia memperhatikan orang-orang yang berlindung pada-Nya.

(3)   Hidup yang selalu mengandalkan Tuhan, membantu kita dalam berjuang menghadapi tantangan dan kesulitan hidup.

 

C.   ORATIO=DOA

(Setelah mendengarkan dan mendalami Sabda Tuhan dan mensharingkan pengalaman imannya, peserta diajak menanggapi Sabda Tuhan dengan menyampaikan doa permohonan. Fasilitator mengajak peserta untuk menyampaikan doa secara spontan sebagai tanggapan pribadi atas Sabda Tuhan. Setelah semua peserta menyampaikan doa-doa permohonannya, fasilitator mengajak para peserta  untuk mendoakan doa “Bapa Kami”.)

 

D.   ACTIO=AKSI ATAU TINDAK NYATA

(Fasilitator mengajak peserta untuk merencanakan aksi atau tindakan nyata)

P   :  Sesuai dengan sub tema Minggu Pertama, marilah kita merencanakan aksi bersama: Buat apa, siapa, bersama siapa, kapan, di mana dan bagaimana?

                       

III. PENUTUP

11.       Doa Penutup

P   : Marilah kita berdoa,

Allah yang Maha Baik, kami telah merenungkan Sabda-Mu melalui warta nabi Nahum. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah meneguhkan kami dengan Sabda-Mu sehingga kami tidak mudah putus asa dalam situasi sulit dan menderita. Kami percaya bahwa Engkau adalah sumber pengharapan dalam setiap kesulitan dan penderitaan yang kami alami. Semoga dengan inspirasi Sabda-Mu ini, kami selalu mengandalkan Dikau dalam segala situasi hidup. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami.

U  : Amin.

12. Tanda Salib

13. Lagu Penutup


 

PERTEMUAN KEDUA

 

ALLAH MEMULIHKAN KEMULIAAN MANUSIA

(Nah 1:12-2:2)

Tujuan:

1. Peserta memahami martabat dan kemuliaan manusia seturut pewartaan Nabi Nahum.

2. Peserta mampu menjaga, menghargai, menghormati martabat manusia.

 

Gagasan Pokok :

§  Dalam teks Nah 1:12-2:2, Nabi meramalkan kehancuran Niniwe dan Yehuda yang bersekongkol melawan Israel (Kerajaan Utara). Bahwa Allah akan membabat habis dan menghancurkan mereka. Bagi Niniwe, meskipun sebagai kerajaan yang besar, tetapi Allah akan menurunkan malapetaka yang akan menghancurkan mereka. Sementara untuk Yehuda, Allah akan memutuskan rantai keturunan dan ritual peribadatan mereka. Untuk Yakub/Israel, Allah akan memulihkan kebanggaan Yakub dan memberikan kemuliaan. Melalui nubuat ini, Nahum menegaskan kutukan dan hukuman bagi Niniwe dan Yehuda yang berkolaborasi melawan Israel. Sementara bagi Israel, Nahum menegaskan tentang ganjaran kemuliaan. Allah menghukum mereka yang menindas dan merendahkan martabat orang lain, sementara bagi yang ditindas, Allah akan memulihkan martabat dan menganugerahkan kemuliaan.

§  Pelecehan dan perendahan martabat manusia tidak hanya pengalaman masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian pengalaman Gereja masa kini. Ada berbagai persoalan perendahan martabat manusia yang terjadi dalam konteks Gereja Nusa Tenggara. Dalam konteks politik, pemilihan umum sebagai momen demokrasi, diwarnai dengan berbagai kecurangan. Rakyat tidak bebas menyatakan pilihannya karena adanya tekanan dan praktik uang. Kekurangan dan keterbatasan ekonomi membuat orang terjebak dalam migrasi yang masif dan perdagangan manusia dengan segala konsekuensinya baik positif maupun negatif. Praktik perdagangan manusia semacam ini merupakan kejahatan dan melanggar HAM karena korban tidak diperlakukan sebagai manusia seutuhnya tetapi hanya menjadi komoditas yang dijual untuk menghasilkan uang. Kenyataan sebagaimana digambarkan di atas menunjukkan bahwa, praktik pelecehan martabat manusia juga sedang terjadi dalam lingkup Gereja Nusra.

§  Kita adalah bagian dari Gereja Nusra. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton yang pasif, membiarkan pelecehan martabat manusia terus berlanjut. Sebagai tanggapan atas pewartaan Nabi Nahum, kita semua diajak untuk bertobat. Hal ini merupakan ajakan bagi kita untuk menjaga martabat dan eksistensi diri kita sebagai makhluk yang bermartabat. Selanjutnya, kita disadarkan untuk memberikan animasi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam kasus pelecehan martabat manusia baik itu pemerintah, aparat keamanan dan keluarga-keluarga kita. Gerakan animasi ini tidak semata berasal dari diri kita tetapi diinspirasikan oleh nubuat Nahum bahwa Allah selalu berpihak kepada mereka yang kecil, lemah dan tak berdaya.

 

PELAKSANAAN PERTEMUAN

 

I. PEMBUKAAN

01. Lagu Pembuka (Lagu yang sesuai)

02. Tanda Salib dan Salam

P   : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

U  : Amin

P   : Semoga Tuhan beserta kita

U  : Sekarang dan selama-lamanya

 

03. Kata Pengantar

P   : Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan

Minggu yang lalu kita telah mendalami sub tema pertama: “Allah Dasar Pengharapan Dalam Kesulitan (Nah. 1:1-8)”. Sebelum kita memulai pendalaman iman ini, kita dengarkan laporan aksi nyata yang sudah kita sepakati bersama. Mohon diinformasikan secara singkat.

(Fasilitator memberi kesempatan kepada seorang pengurus kelompok untuk memberikan informasi tentang pelaksanaan aksi nyata).

Sekarang kita hendak mendalami dan merenungkan sub tema minggu kedua Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yakni: “Allah Memulihkan Kemuliaan Manusia” (Nah. 1:12-2:2). Dalam pertemuan ini Nabi Nahum mengajak kita untuk merenungkan bahwa dosa yang dilakukan manusia itu merusak martabat sesama manusia sebagai citra Allah. Allah selalu memihak kepada mereka yang lemah dan tertindas. Mari kita hening sejenak untuk memohon kehadiran Tuhan dalam pendalaman iman BKSN ini..

 

04. Doa Pembuka

P   : Marilah kita berdoa

Allah Bapa sumber kekudusan, Engkau tidak berkenan kepada orang-orang yang melakukan kejahatan dan dosa, yang menindas sesamanya dengan kejam. Engkau akan bertindak dan mengenyahkan kejahatan karena Engkau adalah Allah yang Maha Adil. Saat ini kami ingin mendalami Sabda-Mu untuk memberikan pencerahan dan kekuatan bagi orang yang mencari Engkau dengan tulus. Kami mohon, hadirlah bersama kami agar kami memahami apa yang Engkau kehendaki dalam hidup kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dan Roh Kudus Allah, sepanjang segala masa.

U :  Amin 

 

II.         LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN

 

A.   LECTIO = MEMBACA

05. Membaca Teks Kitab Suci (Nah. 1:12-2:2)

(Fasilitator meminta seorang peserta untuk membacakan teks Kitab Suci dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dari Alkitab masing-masing.)

         

Bacaan dari Kitab Nahum

12Beginilah firman TUHAN: "Sekalipun mereka utuh dan begitu banyak jumlahnya, tetapi mereka akan hilang terbabat dan mati binasa; sekalipun Aku telah merendahkan engkau, tetapi Aku tidak akan merendahkan engkau lagi. 13Sekarang, Aku akan mematahkan gandarnya yang memberati engkau, dan akan memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat engkau." 14Terhadap engkau, inilah perintah TUHAN: "Tidak akan ada lagi keturunan dengan namamu. Dari rumah allahmu Aku akan melenyapkan patung pahatan dan patung tuangan; kuburmu akan Kusediakan, sebab engkau hina." 15Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang membawa berita, yang mengabarkan berita damai sejahtera. Rayakanlah hari rayamu, hai Yehuda, bayarlah nazarmu! Sebab tidak akan datang lagi orang dursila menyerang engkau; ia telah dilenyapkan sama sekali!

1Pendobrak maju terhadap engkau; jagalah benteng, awasilah jalan, ikatlah pinggangmu kuat-kuat, kumpulkanlah segala kekuatan! 2Sesungguhnya, TUHAN akan memulihkan kemuliaan Yakub, seperti kemuliaan Israel; sebab para perampas telah merampasnya dan membinasakan carang-carangnya.

Demikianlah Sabda Tuhan

(Umat menjawab: Syukur kepada Allah)

06. Mendalami Teks

(Fasilitator mengajak peserta untuk membaca ulang teks tersebut secara pribadi sambil membiarkan diri disapa oleh Sabda Tuhan. Setelah cukup waktunya, pemandu mengajak peserta untuk merenungkan sekaligus mendalami teks Kitab Suci bersama-sama misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun berikut ini.)

(1)   Kepada siapa nubuat yang disampaikan oleh Nabi Nahum? (judul perikop)

(2)   Apa isi nubuat yang disampaikan Nabi Nahum kepada Niniwe? (ayat 12-13)

(3)   Apa isi nubuat yang disampaikan Nabi Nahum kepada Yehuda? (ayat 14-15)

(4)   Siapakah yang dimaksudkan dengan “pendobrak” dalam bab 2 ayat 1? (Maksudnya adalah musuh bangsa Asyur, yaitu bangsa Babilonia. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 612 SM, bangsa Babel menghancurkan ibu kota Asyur yaitu Niniwe)

07. Rangkuman

(1)   Ramalan Nahum ini berkaitan dengan hukuman yang ditujukan kepada Niniwe dan Yehuda yang bersekongkol untuk melawan Israel. Persekongkolan jahat ini akan berdampak negatif baik bagi Niniwe maupun Yehuda yang akan mengalami kehancuran. Sedangkan bagi kerajaan Israel, Allah akan berpihak kepada mereka dan memulihkan kemuliaan serta martabat mereka. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kekuatan manusia itu terbatas dan lemah. Akibatnya, saat musuh yang datang menyerang lebih kuat, maka manusia seringkali tidak dapat bertahan. Pada akhirnya, manusia harus menyerah kalah. Satu-satunya yang dapat mengalahkan musuh yang kuat adalah Tuhan, Allah Israel (Nah. 2:2a).

(2)   Dalam kitab Nahum, Allah Israel kerapkali digambarkan sebagai Panglima Perang (Nah. 1:9.14; 2:13; 3:5-6). Sebagai Panglima Perang, Allah menurunkan semua senjata berupa  tanda-tanda alam, seperti puting-beliung, badai, dan gunung-gunung batu yang roboh (Nah. 1:3b-6). Gambaran meluluhlantakkan kekuatan-kekuatan besar itu menjadi cara untuk menghidupkan kembali semangat sekaligus mendorong mereka memiliki kepercayaan diri dalam merebut kemenangan melawan musuh, terutama di saat kesulitan dan keputusasaan. 

(3)   Pesan pengharapan Nahum tampak pada ungkapan “Tuhan akan memulihkan kemuliaan Yakub, seperti kemuliaan Israel”. Nama Yakub juga sering disebut sebagai Israel. Dalam hal ini, Yakub menunjuk pada nama diri seorang yang belum bersama Allah. Sedangkan Israel menunjuk pada nama diri orang yang sama setelah ia disertai Allah.

 

B.   MEDITATIO = MERENUNGKAN 

08. Merenungkan

(Setelah selesai tahap Lectio dan pendalaman, fasilitator mengajak peserta melangkah ke tahap meditatio atau merenung. Pertanyaan penuntun untuk permenungan dan sharing, direnungkan selama kurang lebih 3 menit, dalam suasana hening lalu disharingkan dengan tuntunan pertanyaan berikut ini. Tidak mesti semuanya dijawab satu per satu tetapi bisa sharingkan mana pertanyaan yang sesuai untuk setiap pribadi.)

(1)   Apakah saya juga, secara sadar atau tidak sadar, melakukan pelecehan atau perendahan terhadap martabat sesama saya?

(2)   Apa yang bisa saya buat untuk keluar dari tindakan saya melecehkan atau merendahkan martabat sesama saya?

(3)   Apa yang saya buat untuk memulihkan martabat manusia dari berbagai praktik pelecehan terhadap martabat manusia di sekitar saya?

 

09. Sharing Pengalaman Iman

(Fasilitator mengajak peserta untuk mensharingkan hasil permenungannya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan penuntun tadi. Agar tidak terlalu lama, maka sharing ini bisa dibatasi untuk beberapa orang saja. Fasilitator mengingatkan peserta agar di dalam sharing harus menggunakan kata “saya” atau “aku” dan bukan” kita”  atau  ‘kami” untuk menghindari kesan menggurui, mengajar atau mengkotbahkan orang lain. Fasilitator berperan mengatur jalannya sharing dan mencatat poin-poin penting dari sharing peserta untuk dijadikan bahan penegasan.)

 

10. Penegasan Fasilitator

(1)   Pelecehan martabat manusia sungguh-sungguh sedang terjadi di kalangan umat Nusra. Pelecehan itu muncul dalam berbagai bentuk seperti Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Migrasi dengan konsekuensi negatifnya, dan pelecehan seksual.

(2)   Menanggapi kasus pelecehan martabat manusia, dalam terang pewartaan Nabi Nahum, kita diajak untuk merintis jalan pertobatan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, kita perlu menyadari diri kita sendiri sebagai makhluk yang bermartabat. Secara eksternal, baik personal maupun kolektif, kita mengupayakan animasi tentang harkat dan martabat manusia.

 

C.   ORATIO=DOA

(Setelah mendengarkan dan mendalami Sabda Tuhan dan mensharingkan pengalaman imannya, peserta diajak menanggapi Sabda Tuhan dengan menyampaikan doa permohonan. Fasilitator mengajak peserta untuk menyampaikan doa secara spontan sebagai tanggapan pribadi atas Sabda Tuhan. Setelah semua peserta menyampaikan doa-doa permohonannya, fasilitator mengajak para peserta  untuk mendoakan doa “Bapa Kami”.)

 

D.   ACTIO=AKSI ATAU TINDAK NYATA

(Fasilitator mengajak peserta untuk merencanakan aksi atau tindakan nyata)

P   :  Sesuai dengan sub tema Minggu Pertama, marilah kita merencanakan aksi bersama: Buat apa, siapa, bersama siapa, kapan, di mana dan bagaimana?

                       

III. PENUTUP

11. Doa Penutup

P   : Marilah kita berdoa,

Allah yang Maha Rahim, kami telah merenungkan dan mendalami Sabda-Mu yang mengajak kami untuk bertobat dan memulihkan kembali martabat serta kemuliaan kami yang hilang akibat dosa kami. Kami mohon, berkatilah kami agar dalam hidup selanjutnya kami mampu bekerja sama dengan semua orang dan lembaga terkait demi mewujudkan pemulihan kemuliaan martabat manusia. Kami panjatkan permohonan ini dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami.

U  : Amin.

12. Tanda Salib

13. Lagu Penutup


 

PERTEMUAN KETIGA

 

MENJADI MANUSIA YANG BENAR

SUPAYA TIDAK MENGALAMI HUKUMAN

(Hab. 2:1-20)

 

Tujuan:

1. Peserta memahami bahwa orang benar tidak mendapat hukuman karena hidup oleh iman.

2. Peserta mewujudkan imannya secara benar dalam hidup sehari-hari.

 

Gagasan Pokok :

§ Perikop Hab. 2:1-20 menampilkan dialog antara nabi Habakuk dengan Allah. Habakuk menyampaikan beberapa pertanyaan dan keluhan secara terbuka kepada Tuhan sekaligus menantikan jawaban dari Tuhan. Habakuk akhirnya mendapat jawaban dari Tuhan bahwa orang yang membusungkan dada adalah orang yang tidak lurus hatinya, tetapi orang benar akan hidup oleh kepercayaannya kepada Tuhan (Hab. 2:4). Dalam perikop ini Tuhan juga mengecam para pemberontak yang berlaku tidak benar (Hab. 2:6.9.12.15.19). Senada dengan ini, Rasul Paulus mendukung ide tentang orang benar bahwa “orang benar akan hidup oleh iman” (Rm. 1:17; Gal. 3:11).

§ Gereja Katolik di Regio Nusra berhadapan dengan banyak peristiwa yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran. Salah satu yang paling menonjol adalah merebaknya berbagai kasus tindakan kekerasan, baik kekerasan fisik, verbal maupun penelantaran, misalnya, Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan di sekolah, kasus penganiayaan dan pembunuhan, penelantaran terhadap perempuan dan anak-anak, tekanan karena tuntutan belis yang tinggi, dan sebagainya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada jarak antara ‘kebenaran iman’ dan ‘perwujudan iman’ dalam kehidupan sehari-hari. Pelaku kekerasan cenderung hidup dalam konsep kebenaran menurut versinya sendiri, memaksakan kehendak, melihat orang lain sebagai pihak yang salah dan bertindak main hakim sendiri.

§ Sebagai umat Katolik, kita bisa belajar dari kisah nabi Habakuk. Melalui Habakuk, Allah memberikan gambaran tentang bagaimana menjalani hidup sebagai orang benar karena memiliki sikap percaya atau iman. Upaya menjadi orang benar dapat ditempuh melalui ketegasan atau keberanian untuk menolak tindakan kekerasan, memperjuangkan nilai kebenaran, keadilan dan damai serta penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.

 

PELAKSANAAN PERTEMUAN

 

I. PEMBUKAAN

01. Lagu Pembuka (Lagu yang sesuai)

02. Tanda Salib dan Salam

P   : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

U  : Amin

P   : Semoga Tuhan beserta kita

U  : Sekarang dan selama-lamanya

 

03. Kata Pengantar

P   : Bapak Ibu dan saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan,

Kita telah mendalami sub tema kedua yaitu: “Allah Memulihkan Kemuliaan Manusia” (Nah. 2:1-20). Dalam pendalaman tersebut kita telah bersepakat untuk melaksanakan aksi nyata secara bersama. Sejauh mana rencana tersebut telah dilaksanakan, mohon diinformasikan secara singkat.

(Fasilitator memberi kesempatan kepada seorang pengurus kelompok untuk memberikan informasi tentang pelaksanaan aksi nyata).

Setelah mendalami tentang nabi Nahum pada dua pertemuan sebelumnya, maka pada pertemuan ketiga dan pertemuan keempat nanti, kita akan mendalami tentang nabi Habakuk. Pada pertemuan ketiga ini, kita akan mendalami sub tema ketiga BKSN 2024 yaitu “Menjadi Manusia Yang Benar Supaya Tidak Mengalami Hukuman“ (Hab. 2:1-20). Dalam pertemuan ini, kita diajak untuk merenungkan bahwa Allah  menghendaki agar setiap orang beriman mampu menjalani hidup sebagai orang benar supaya tidak mengalami hukuman dari-Nya. Datanglah kepada Tuhan, percayakan hidup kita pada Tuhan; kita akan menjadi orang benar. Marilah kita mengikuti kegiatan pendalaman ini dengan tekun dan dalam suasana sukacita.

 

04. Doa Pembuka

P   : Marilah kita berdoa

Allah Bapa yang mahakasih, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau selalu menyertai perjalanan hidup kami. Namun terkadang kami kurang percaya kepada-Mu yang adalah Allah yang setia menyertai ke mana pun kami diutus. Maka kami mohon, utuslah Roh Kudus-Mu untuk membimbing dan menguatkan kami agar di manapun dan  dalam keadaan apapun kami tetap menjalani hidup sebagai orang benar sehingga dapat memperoleh keselamatan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dan Roh Kudus Allah, sepanjang segala masa.

U :  Amin 

 

II.         LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN

 

A.   LECTIO = MEMBACA

05. Membaca Teks Kitab Suci (Hab. 2:1-20)

(Fasilitator meminta seorang peserta untuk membacakan teks Kitab Suci dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dari Alkitab masing-masing.)

         

Bacaan dari Kitab Habakuk

1Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. 2 TUHAN menjawab aku, demikian, “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. 3Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. 4Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. 5Orang-orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia akan mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkanya.” 6Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya--berapa lama lagi? --dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian.  7Bukankah akan bangkit dengan sekonyong-konyong mereka yang menggigit engkau, dan akan terjaga mereka yang mengejutkan engkau, sehingga engkau menjadi barang rampasan  bagi mereka? 8Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau,  karena darah manusia  yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya  itu. 9Celakalah orang yang mengambil laba  yang tidak halal untuk keperluan  rumahnya, untuk menempatkan sarangnya  di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka! 10Engkau telah merancangkan cela  ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi  banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri. 11Sebab batu  berseru-seru dari tembok, dan balok menjawabnya dari rangka rumah. 12Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah  dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan. 13Sesungguhnya, bukankah dari TUHAN semesta alam asalnya, bahwa bangsa-bangsa bersusah-susah untuk api  dan suku-suku bangsa berlelah untuk yang sia-sia?  14Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan  TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut.  15Celakalah orang yang memberi minum  sesamanya manusia bercampur amarah, bahkan memabukkan dia untuk memandang auratnya. 16Telah engkau kenyangkan dirimu dengan kehinaan  ganti kehormatan.  Minumlah juga engkau dan terhuyung-huyunglah.  Kepadamu akan beralih piala  dari tangan kanan TUHAN, dan cela besar akan meliputi kemuliaanmu. 17Sebab kekerasan  terhadap gunung Libanon akan menutupi engkau dan pemusnahan binatang-binatang akan mengejutkan engkau,  karena darah manusia  yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. 18Apakah gunanya  patung  pahatan, yang dipahat oleh pembuatnya? Apakah gunanya patung tuangan,  pengajar dusta itu? Karena pembuatnya percaya akan buatannya, padahal berhala-berhala bisu belaka yang dibuatnya. 19Celakalah orang yang berkata kepada sepotong kayu: "Terjagalah!" dan kepada sebuah batu bisu: "Bangunlah! " Masakan dia itu mengajar? Memang ia bersalutkan emas dan perak,  tetapi roh tidak ada sama sekali di dalamnya.  20Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam  dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!

Demikianlah Sabda Tuhan

(Umat menjawab: Syukur kepada Allah)

 

06. Mendalami Teks

(Fasilitator mengajak peserta untuk membaca ulang teks tersebut secara pribadi sambil membiarkan diri disapa oleh Sabda Tuhan. Setelah cukup waktunya, pemandu mengajak peserta untuk merenungkan sekaligus mendalami teks Kitab Suci bersama-sama misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun berikut ini.)

(1)   Mengapa nabi Habakuk berdiri di tempat pengintaian dan bertahan di menara? (ayat 1).

(2)   Apa yang diperintahkan Tuhan kepada Habakuk sebagai jawaban atas seruannya? (ayat 2).

(3)   Hal apa yang membuat orang benar itu tetap hidup? (ayat 4)

(4)   Sebutkan kecaman Allah terhadap perbuatan manusia yang tidak benar! (ayat 6, 9, 12, 15, 19). 

07. Rangkuman

(1)   Perikop Hab. 2:1-20 mengisahkan dialog antara nabi Habakuk dengan Allah pada masa-masa sulit dan berat yaitu terjadi penyerangan oleh bangsa Babel dan mereka berada dalam pemerintahan raja Israel (raja Yoyakhim) yang berlaku jahat di mata Tuhan. Dalam situasi itu, ternyata Habakuk tetap menunjukkan iman yang kuat kepada Tuhan. Ia datang kepada Tuhan, menyampaikan keluhan dan tetap percaya menantikan jawaban dari Tuhan. Jawaban Tuhan menguatkan Habakuk bahwa “orang yang membusungkan dada tidak lurus hatinya, tetapi ‘orang benar’ akan hidup oleh percayanya” (Hab. 2:4). Ini juga bisa dikaitkan dengan nama Habakuk sendiri, yang berarti “seseorang yang memeluk” atau “seseorang yang bergantung”. Makna ini sesuai dengan sikap nabi Habakuk yang bergantung kepada Tuhan sebagai penolong dan penyelamatnya.

(2)   Tuhan juga memberikan tanggapan bahwa hukuman akan diberikan kepada Babel pada waktunya nanti. Karena itu, Habakuk tidak perlu kuatir (Hab. 2:6-20). Pada masanya, kesombongan dan kelaliman para penindas akan membawa mereka kepada kejatuhan, begitu pun sebaliknya kemenangan bagi yang tertindas (Hab. 2:9-20). Hal ini digambarkan dalam perikop dengan munculnya kata "celaka" sebanyak lima (5) kali yang berisikan kecaman Tuhan terhadap bangsa Babel yang tidak benar. Mereka adalah orang-orang yang korup (ayat 6), penjara (ayat 8), pengambil untuk yang rakus, penipu dan curang (ayat. 9-11), perampas berdarah dan pelaku tindakan ketidakadilan (ayat 12), manipulatif dan penghina kehormatan manusia (ayat 15-16) serta penyembah berhala (ayat 18-19). 

 

B.   MEDITATIO = MERENUNGKAN 

08. Merenungkan

(Setelah selesai tahap Lectio dan pendalaman, fasilitator mengajak peserta melangkah ke tahap meditatio atau merenung. Pertanyaan penuntun untuk permenungan dan sharing, direnungkan selama kurang lebih 3 menit, dalam suasana hening lalu disharingkan dengan tuntunan pertanyaan berikut ini. Tidak mesti semuanya dijawab satu per satu tetapi bisa sharingkan mana pertanyaan yang sesuai untuk setiap pribadi.)

(1)   Apakah ada pengalaman pribadi saya tentang Tuhan yang membela saya ketika saya berbuat yang benar?

(2)   Hal-hal mana saja yang membuat saya berada jauh dari sebutan sebagai orang benar?

(3)   Apakah hidup saya selama ini sudah benar sesuai dengan Firman Allah? Ceritakan pengalaman Anda!

(4) Upaya apa saja yang saya lakukan untuk membangun sikap iman yang tekun-setia bertahan supaya dapat menjadi orang benar?

 

09. Sharing Pengalaman Iman

(Fasilitator mengajak peserta untuk mensharingkan hasil permenungannya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan penuntun tadi. Agar tidak terlalu lama, maka sharing ini bisa dibatasi untuk beberapa orang saja. Fasilitator mengingatkan peserta agar di dalam sharing harus menggunakan kata “saya” atau “aku” dan bukan” kita”  atau  ‘kami” untuk menghindari kesan menggurui, mengajar atau mengkotbahkan orang lain. Fasilitator berperan mengatur jalannya sharing dan mencatat poin-poin penting dari sharing peserta untuk dijadikan bahan penegasan.)

 

10. Penegasan Fasilitator

(1)   Kadangkala kita mengalami bahwa meskipun kita berbuat benar, kita malah menderita atau diasingkan. Menjadi orang benar memang tidak mudah karena akan berhadapan dengan banyak sekali tantangan dunia. Namun, orang yang setia kepada Tuhan akan selalu mendapatkan bantuan atau perlindungan dari Tuhan. 

(2)   Praktik-praktik kekerasan ada dalam kenyataan hidup kita di Nusra. Seperti nabi Habakuk, kita dipanggil untuk berjuang melawan semua praktik ketidakadilan dan tindakan kekerasan  itu dengan datang berlindung (mencari jawaban) pada Tuhan. Kita juga diajak untuk mewujudkan jati diri sebagai orang benar dalam hidup setiap hari. Hal ini dapat kita lakukan dengan menunjukkan ketegasan atau keberanian untuk menolak segala bentuk tindakan kekerasan, memperjuangkan nilai kebenaran, keadilan dan damai serta penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.

 

C.   ORATIO=DOA

(Setelah mendengarkan dan mendalami Sabda Tuhan dan mensharingkan pengalaman imannya, peserta diajak menanggapi Sabda Tuhan dengan menyampaikan doa permohonan. Fasilitator mengajak peserta untuk menyampaikan doa secara spontan sebagai tanggapan pribadi atas Sabda Tuhan. Setelah semua peserta menyampaikan doa-doa permohonannya, fasilitator mengajak para peserta  untuk mendoakan doa “Bapa Kami”.)

 

D.   ACTIO=AKSI ATAU TINDAK NYATA

(Fasilitator mengajak peserta untuk merencanakan aksi atau tindakan nyata)

P   :  Sesuai dengan sub tema Minggu Pertama, marilah kita merencanakan aksi bersama: Buat apa, siapa, bersama siapa, kapan, di mana dan bagaimana?

                       

III. PENUTUP

11. Doa Penutup

P   : Marilah kita berdoa,

Allah Bapa yang Maha Baik, kami bersyukur kepada-Mu karena kami boleh diberi kesempatan untuk mendalami Firman-Mu pada pertemuan ketiga Bulan Kitab Suci Nasional ini. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau mengingatkan kami untuk selalu hidup secara benar sesuai iman kepada-Mu agar kami tidak mendapatkan hukuman, baik hukuman dari negara maupun hukuman dari-Mu sendiri. Kami mohon, sertailah dan kuatkanlah kami dengan rahmat-Mu agar dapat melaksanakan hidup sebagai orang benar. Kami mohon kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami.

U  : Amin.

12. Tanda Salib

13. Lagu Penutup


 

PERTEMUAN KEEMPAT

 

MENJADI MANUSIA YANG BERSUKACITA

KARENA ALLAH YANG ADIL

(Hab. 3:1-19)

 

Tujuan:

1.  Peserta memahami bahwa keadilan Allah itu mendatangkan sukacita.

2. Peserta mampu mewujudkan iman dengan sukacita akan Allah yang adil.

 

Gagasan Pokok :

§  Dalam teks Hab. 3:1-19, nabi Habakuk melukiskan bahwa keagungan Tuhan meliputi langit dan bumi. Allah yang adil tidak ingin manusia hidup dalam ketidakadilan, sehingga dalam doanya Habakuk melukiskan murka Allah kepada bangsa-bangsa yang berlaku tidak adil. Habakuk tidak tinggal diam dan putus asa, melainkan berjuang mencari keadilan ketika melihat bangsanya tertindas, di antara situasi diserang oleh bangsa Babel dan pemerintahan raja Yoyakim yang lalim. Habakuk menyampaikan doa kepada Allah agar orang-orang yang berbuat jahat itu segera dihukum dan ia mendambakan pemulihan secepat mungkin atas bangsanya. Allah menjawab doa Habakuk. Karena itu, Habakuk menutup nubuatnya dengan puisi doa kepada Allah yang adil. Habakuk menyatakan bahwa di tengah situasi yang buruk, ia tetap bersukacita dan percaya bahwa kebaikan dan kekuatan Allah yang menyelamatkan itu akan tetap menyertai bangsanya.

§  Persoalan ketidakadilan itu sering terjadi pada berbagai bidang kehidupan sosial di wilayah kita regio Nusra. Dalam bidang politik, misalnya terdapat banyak politik uang menjelang pemilihan umum dan pembagian bantuan sosial yang tidak merata. Dalam bidang perekonomian misalnya, terdapat pemberian upah kerja di bawah standar minimum. Selain itu dalam bidang budaya misalnya ada pesta yang berkepanjangan dan tuntutan belis pernikahan yang tinggi. Selain itu, masih terdapat juga persoalan ketidakadilan terjadi dalam bentuk perjudian, pencurian dan mental malas bekerja

§  Berhadapan dengan persoalan ketidakadilan tersebut, kita perlu belajar dari nabi Habakuk yang berjuang mengokohkan iman sembari memuji Tuhan yang Maha Adil. Kita perlu memiliki militansi iman dengan tidak mudah putus asa tetapi selalu tekun berdoa kepada Allah yang adil dan menumbuhkan semangat bekerja. Kita tetap memiliki keyakinan iman bahwa Allah tetap bertindak adil mendampingi kita sehingga kita bisa menjadi manusia yang bersukacita

 

PELAKSANAAN PERTEMUAN

 

I. PEMBUKAAN

01. Lagu Pembuka (Lagu yang sesuai)

02. Tanda Salib dan Salam

P   : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

U  : Amin

P   : Semoga Tuhan beserta kita

U  : Sekarang dan selama-lamanya

 

03. Kata Pengantar

P   : Bapak Ibu dan saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan.

Dalam pertemuan ketiga, kita  telah mendalami sub tema tentang: “Menjadi Manusia Yang Benar Supaya Tidak Mengalami Hukuman” (Hab. 2:1-5). Dalam pendalaman tersebut kita telah bersepakat untuk melaksanakan aksi nyata secara pribadi maupun secara bersama. Untuk mengetahui sejauh mana rencana tersebut telah dilaksanakan, mari kita dengarkan informasi singkat tentang pelaksanaannya.

(Fasilitator memberi kesempatan kepada seorang pengurus kelompok untuk memberikan informasi tentang pelaksanaan aksi nyata).

Pada hari ini kita akan mendalami dan merenungkan sub tema keempat dan terakhir yakni “Menjadi Manusia Yang Bersukacita Karena Allah Yang Adil” (Hab. 3:1-19). Dalam pertemuan ini, kita diajak oleh Nabi Habakuk untuk merenungkan bahwa Allah  itu Maha Adil. Untuk itu, sebagai orang beriman, kita pun selalu diajak untuk menjadi orang yang bersukacita. Sebelum kita membaca, merenungkan dan mendalami teks Kitab Suci, marilah kita mengawali pertemuan ini dengan doa.

 

04. Doa Pembuka

P   : Marilah kita berdoa

Allah Bapa yang Maha Kuasa dan Kekal, puji syukur kami haturkan ke hadirat-Mu atas berkat dan perlindungan-Mu terhadap kami. Saat ini kami hendak mendalami dan merenungkan Firman-Mu. Bukalah pikiran dan hati kami agar dapat memahami sabda-Mu yang mengingatkan kami akan keadilan-Mu sehingga kami pun bersukacita karena Engkau Allah yang Maha Adil. Pujian dan syukur ini kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Yesus Kristus Putra-Mu yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus Allah, sepanjang segala masa.

U :  Amin 

 

II. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN

 

A.   LECTIO = MEMBACA

05. Membaca Teks Kitab Suci (Hab. 3:1-19)

(Fasilitator meminta seorang peserta untuk membacakan teks Kitab Suci dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dari Alkitab masing-masing.)

         

Bacaan dari Kitab Habakuk

1Doa Nabi Habakuk. Menurut nada ratapan. 2TUHAN, telah kudengar   kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya TUHAN,   kukagumi!  Hidupkanlah  itu di zaman ini, nyatakanlah itu di zaman ini; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!  3Allah datang dari negeri Teman dan Yang Maha Kudus  dari pegunungan Paran. Sela. Keagungan-Nya meliputi langit, dan bumi penuh dengan pujian kepada-Nya.  4Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari tangan-Nya dan di situlah tersembunyi kekuatan-Nya. 5Di depan-Nya berjalan sampar dan wabah mengikuti jejak-Nya. 6Ia berdiri, dan berguncanglah bumi; Ia melihat dan bangsa-bangsa dibuat-Nya gemetar, hancur luluhlah gunung-gunung yang ada sejak purbakala, dan bukit-bukit yang berabad-abad menjadi rata. Itulah lintasan-Nya berabad-abad. 7Aku melihat kemah-kemah orang Kusyan di bawah tekanan, dan tenda-tenda tanah Midian bergetar. 8Terhadap sungai-sungaikah, ya TUHAN, terhadap sungai-sungaikah murka-Mu menyala-nyala? Atau terhadap lautkah amarah-Mu ketika Engkau mengendarai kuda-Mu dan kereta kemenangan-Mu? 9Busur-Mu telah Kaubuka telanjang, telah Kauisi dengan anak panah. Sela. Keluarlah sungai-sungai dari bumi yang telah Kaubelah. 10Melihat Engkau, gunung-gunung gemetar, air bah menderu lalu; samudra dalam memperdengarkan suaranya dan mengangkat tangannya. 11Matahari, bulan berhenti di tempat kediamannya, ketika cahaya anak-anak panah-Mu yang melayang laju, karena kilauan tombak-Mu yang berkilat. 12Dalam kegeraman Engkau menginjak-injak bumi, dalam murka Engkau mengirik bangsa-bangsa. 13Engkau bergerak maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan yang Kauurapi. Engkau meremukkan pemimpin kaum fasik melucuti bagian bawah sampai lehernya. Sela. 14Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala tentaranya, yang datang seperti badai untuk menyerakkan aku dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas secara tersembunyi. 15Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak-injak laut, timbunan air yang bergelora. 16Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, bergetarlah bibirku; rasa nyeri masuk ke dalam tulang-tulangku, dan langkah kakiku gemetar. Dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan menimpa bangsa yang menyerang kami. 17Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pokok anggur tidak berbuah, dan hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu dalam kandang, 18 aku akan bersukacita di dalam TUHAN, bersorak-sorai di dalam Allah Penyelamatku. 19ALLAH Tuhanku itu kekuatanku; Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membuat aku mampu berjalan di tempat tinggi

Demikianlah Sabda Tuhan

(Umat menjawab: Syukur kepada Allah)

 

06. Mendalami Teks

(Fasilitator mengajak peserta untuk membaca ulang teks tersebut secara pribadi sambil membiarkan diri disapa oleh Sabda Tuhan. Setelah cukup waktunya, pemandu mengajak peserta untuk merenungkan sekaligus mendalami teks Kitab Suci bersama-sama misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun berikut ini.)

(1)   Apa yang dikatakan Habakuk dalam doa dan harapannya kepada Tuhan? (ayat 2).

(2)   Apa simbol-simbol yang muncul dalam puisi doa Habakuk? (ayat 4-6.8-11.19).

(3)   Kata-kata mana saja yang sering diulang-ulang dalam puisi doa Habakuk? (cahaya, bumi, sungai, gunung, anak panah, gemetar/bergetar, murka).

(4)   Apa kata-kata Habakuk yang menunjukkan sikap harapan akan Tuhan Allah yang menyelamatkan? (ayat 17-19).

07. Rangkuman

(1)   Perikop ini berisi tentang doa berupa puisi dari nabi Habakuk untuk memuji keagungan Allah yang memakai kekuatan-kekuatan alam. Allah bersedia menghukum musuh dan menyelamatkan umat-Nya. Dengan puisi doanya, nabi Habakuk menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang berjuang melawan bangsa asing dan mengakhiri kekaisaran yang jahat. Habakuk menutup kitab nubuatnya dengan nada harapan. Ia melihat bahwa Allah terus-menerus mengusahakan yang terbaik untuk umat yang beriman kepada-Nya.  Harapan itu tumbuh dan berkembang bukan pertama-tama karena telah menerima aneka macam hal baik menurut sudut pandang manusiawi. Harapan itu tumbuh dan berkembang justru karena ada dialog secara terus-menerus dengan Allah, Sang Penyelenggara Kehidupan, sekaligus Sang Sumber Keadilan.

(2)   Doa Habakuk dalam bentuk puisi tersebut penuh dengan simbol-simbol alam, misalnya sampar berjalan dan wabah mengikutinya, matahari dan bulan berhenti di tempat kediamannya. Selain itu juga ada kata-kata tertentu yang diulang-ulang, seperti cahaya, bumi, sungai, dan sebagainya. Simbol-simbol alam tersebut mau menunjukkan keagungan Allah sebagai Pencipta dan Penyelamat. 

(3)   Doa merupakan usaha yang terus-menerus dari manusia untuk berdialog dengan Allah. Hanya melalui dialog dengan Allah, maka aneka macam pertanyaan, keberatan, sikap iman dan keterbukaan terhadap semua harapan untuk dapat mengenali, menafsirkan, dan memahami jalannya sejarah akan diperoleh seorang beriman.

(4)   Habakuk menunjukkan pengharapan dan sukacitanya akan Allah Maha Adil yang melimpahkan keselamatan. Terhibur dengan hal itu, maka nabi Habakuk menyerukan ayat-ayat terakhir dengan penuh harapan. Sekalipun bangsanya mengalami aneka kesulitan, namun Habakuk tetap berharap bahwa Allah adalah kekuatan mereka. Dan harapan Habakuk itu mampu mendatangkan sukacita iman.

 

B.   MEDITATIO = MERENUNGKAN 

08. Merenungkan

(Setelah selesai tahap Lectio dan pendalaman, fasilitator mengajak peserta melangkah ke tahap Meditatio atau merenung. Pertanyaan penuntun untuk permenungan dan sharing, direnungkan selama kurang lebih 3 menit, dalam suasana hening lalu disharingkan dengan tuntunan pertanyaan berikut ini. Tidak mesti semuanya dijawab satu per satu tetapi bisa sharingkan mana pertanyaan yang sesuai untuk setiap pribadi.)

(1)   Kondisi-kondisi atau situasi-situasi ketidakadilan seperti apa yang membuat saya kehilangan sukacita?

(2)   Pengalaman apa saya yang membuat saya bersukacita atas sikap Allah yang adil?

(3)   Bagaimana kegiatan doa dan aktivitas rohani lainnya memberikan kekuatan bagi iman saya?  

09. Sharing Pengalaman Iman

(Fasilitator mengajak peserta untuk mensharingkan hasil permenungannya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan penuntun tadi. Agar tidak terlalu lama, maka sharing ini bisa dibatasi untuk beberapa orang saja. Fasilitator mengingatkan peserta agar di dalam sharing harus menggunakan kata “saya” atau “aku” dan bukan” kita”  atau  ‘kami” untuk menghindari kesan menggurui, mengajar atau mengkotbahkan orang lain. Fasilitator berperan mengatur jalannya sharing dan mencatat poin-poin penting dari sharing peserta untuk dijadikan bahan penegasan.)

 

10. Penegasan Fasilitator

(1)   Kondisi-kondisi yang membuat manusia kehilangan sukacita biasanya terjadi dalam kehidupan yang serba sulit, susah dan menderita. Perjalanan sejarah kelam dan penuh nestapa terjadi pada berbagai bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya dan keluarga. Selain itu ada juga persoalan yang lain misalnya kemarau panjang, virus ternak, cuaca ekstrem, banjir bandang, gunung meletus dan sebagainya. Kisah nabi Habakuk mengajak kita untuk merenungkan bahwa meskipun semua tampaknya tenggelam dalam kehancuran atau kematian, namun iman kepada Allah selalu membantu umat beriman untuk tetap berharap pada bantuan-Nya.

(2)   Kesadaran untuk menjadi manusia yang bersukacita karena Allah yang adil itu muncul jika manusia memiliki pengalaman iman akan Allah dalam hidupnya. Di mana ketika orang mengalami kesulitan, Allah hadir memberikan pertolongan dan  ketika menghadapi bahaya, Allah hadir menyelamatkan. Kesadaran ini muncul jika manusia selalu membangun relasi dan dialog dengan Allah dalam doa dan sikap iman yang penuh syukur kepada Allah yang adil. Jika tidak bersyukur maka manusia akan kehilangan sukacitanya.

(3)   Hal yang perlu diupayakan dan dilakukan manusia untuk memiliki iman yang tangguh adalah dengan cara tekun berdoa dan tetap berjuang terutama dalam situasi krisis atau masa-masa sulit. Sesungguhnya, iman yang benar adalah iman yang terus-menerus menaruh kepercayaan kepada Allah yang adil.

 

C.   ORATIO=DOA

(Setelah mendengarkan dan mendalami Sabda Tuhan dan mensharingkan pengalaman imannya, peserta diajak menanggapi Sabda Tuhan dengan menyampaikan doa permohonan. Fasilitator mengajak peserta untuk menyampaikan doa secara spontan sebagai tanggapan pribadi atas Sabda Tuhan. Setelah semua peserta menyampaikan doa-doa permohonannya, fasilitator mengajak para peserta  untuk mendoakan doa “Bapa Kami”.)

 

D.   ACTIO=AKSI ATAU TINDAK NYATA

(Fasilitator mengajak peserta untuk merencanakan aksi atau tindakan nyata)

P   :  Sesuai dengan sub tema Minggu Pertama, marilah kita merencanakan aksi bersama: Buat apa, siapa, bersama siapa, kapan, di mana dan bagaimana?

                       

III. PENUTUP

11. Doa Penutup

P   : Marilah kita berdoa,

Allah Bapa yang Maha Kuasa dan Kekal, kami telah merenungkan dan mendalami Firman-Mu dalam pertemuan keempat ini. Kami mohon semoga Roh Kudus-Mu yang telah Engkau curahkan kepada kami mampu menuntun langkah kami dalam mewujudkan iman yang benar agar menjadi manusia yang bersukacita karena Engkau sungguh Allah yang Maha Adil. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami, kini dan sepanjang masa.

U  : Amin.

12. Tanda Salib

13. Lagu Penutup

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOAL – SOAL PERSIAPAN UJIAN AKHIR KELAS IX MATA PELAJARAN PEND.AGAMA KATOLIK & BUDI PEKERTI SMP KATOLIK ST.THERESIA KUPANG TAHUN 2025

Perjalanan Panjang Paroki St.Fransiskus Assisi Kolhua Kupang, Dari 1 KUB Sampai Menjadi Satu Paroki

Setelah 22 Tahun Mengabdi, Hari Ini Berakhir !