Ikatan Katekis Assisi - BKSN 2024bRegio Nustra
BKSN 2024
REGIO NUSA TENGGARA
GAGASAN PENDUKUNG
ALLAH SUMBER KEADILAN
Kitab Nahum dan Kitab Habakuk
Dr. R.F. Bhanu Viktorahadi Pr.
I. SITUASI HIDUP DAN PERTANYAAN ORANG BERIMAN
Dunia dan kehidupan manusia hari ini sedang tidak
baik-baik saja. Pada penghujung 2023 dunia rusuh akibat terjadinya sejumlah
perang. Salah satu yang paling menimbulkan kontroversi adalah perang antara
Israel dan Palestina. Imbasnya sampai ke aneka macam wilayah kehidupan manusia,
terutama wilayah keyakinan. Alam pun sepertinya ingin berpartisipasi meramaikan
rusuhnya kondisi kehidupan. Sejumlah gempa terjadi. Cuaca ekstrem melanda
beberapa daerah.
Sejumlah kondisi tidak baik-baik saja itu juga ikut
merebak. Antara lain, situasi geo-politik di Indonesia menjelang dan pada saat
Pemilu 2024. Adanya ancaman inflasi yang mulai terasa sepanjang 2023, sehingga
dikhawatirkan terjadi resesi ekonomi pada 2024. Ada juga fenomena ‘stunting’
alias pengerdilan. Fenomena ini menjadi isyarat sekaligus bukti bahwa terjadi
proses yang tidak semestinya dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia.
Manusia yang seharusnya tampil sebagai makhluk yang sempurna karena diciptakan
secitra dengan Allah justru pertumbuhannya terhambat dan bahkan tercemar aneka
macam gangguan.
Hampir dapat dipastikan bahwa terjadinya sejumlah
gangguan pada alam yang mengakibatkan gempa dan cuaca ekstrem itu tidak terjadi
dengan sendirinya karena alam menghendakinya. Demikian pula fenomena buruk yang
terjadi dalam kehidupan manusia adalah buah dari kelalaian manusia dalam
menjaga relasinya dengan dirinya sendiri, sesama, dan Allah. Singkatnya, yang
menjadi penyebabnya adalah manusia. Manusia tidak pandai melestarikan, menjaga,
dan merawat alam semesta.
Ketidakmampuan atau kelalaian manusia dalam melestarikan,
menjaga, dan merawat alam semesta dan kehidupannya ini menghadirkan
penderitaan. Dalam kondisi menderita ini muncul aneka macam
pertanyaan terkait dengan Allah. Antara lain, apakah Allah sungguh adil, di
mana peran Allah dalam menciptakan keadilan bagi manusia yang lemah, dan sejauh
mana Allah memulihkan kemuliaan manusia yang hilang akibat ketidakadilan.
Pertanyaan yang terkait dengan manusia juga bermunculan. Antara lain, bagaimana
sikap umat beriman dalam menanggapi kondisi ketidakadilan dan disposisi batin
macam apa yang harus dibangun untuk tetap beriman kepada Allah dalam situasi
sulit itu.
Nabi Nahum dan Nabi Habakuk hadir dalam kondisi
masyarakat yang sedang mengalami penderitaan dan menantikan keadilan Allah
bekerja. Dengan melukiskan penghakiman Allah atas Niniwe, Nahum memandang
penderitaan dalam wujud dan bentuk malapetaka sebagai ajakan untuk
mengembangkan sikap beriman melawan aneka bentuk pembusukan dalam masyarakat. Kitab nubuat Nahum didominasi perasaan dan keyakinan kuat
akan kebesaran dan kedaulatan Yahweh, Allah Israel serta perhatian-Nya yang
penuh kasih kepada orang-orang yang lemah dan tertindas. Sementara itu, Habakuk mengungkapkan bahwa Allah akan
mengakhiri ketidakadilan jika orang beriman sanggup menunjukkan kredibilitas, keadilan, ketegasan, dan kesetiaan dalam
melakukan kebenaran yang berbasiskan pada kasih, kredibilitas, keadilan,
ketegasan, dan kesetiaan untuk memenuhi kehendak Allah.
Nabi Nahum dan Habakuk memang tidak menawarkan
solusi-solusi praktis atau jawaban-jawaban konkret untuk mengatasi penderitaan
dan menegakkan keadilan. Akan tetapi, kedua nabi kecil itu menawarkan suatu
disposisi batin atau sikap iman yang tepat dalam menghadapi aneka macam kondisi
negatif yang berpotensi menjauhkan umat beriman dari Allah. Disposisi batin
atau sikap iman yang tepat ini niscaya akan membantu umat beriman untuk
memahami Allah sebagai sumber keadilan, terutama di saat-saat mengalami
penderitaan.
II. MENDALAMI TEKS KITAB SUCI
Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2024 mengajak umat
beriman Katolik di Indonesia untuk mendalami tema ‘Allah sumber keadilan’.
Kitab Nahum dan Kitab Habakuk menjadi sumber inspirasi dalam pendalaman tema
ini. Pada zamannya masing-masing, kedua nabi kecil itu berjuang bersama umatnya
untuk mengenali dan memahami cara Allah memulihkan dan menegakkan keadilan.
Guna mengenali dan memahaminya umat akan mendalami empat sub tema yang
mengambil inspirasinya dari teks-teks pilihan dari Kitab Nahum dan Kitab
Habakuk.
2.1 Nabi Nahum
Judul kitabnya memberi keterangan bahwa Nahum adalah
orang Elkos (Nah.1:1). Akan tetapi, di luar kitabnya, tidak satu pun teks
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memakai nama Nahum. Salah satu analisis
menjelaskan bahwa nama ‘Nahum’ berasal dari akar bahasa Ibrani ‘nḥm’. Artinya, ‘melipur’ atau
‘menghibur’. Dua makna ini dapat memberi keterangan bahwa ‘Nahum’ memiliki
makna ‘si pelipur’ atau ‘si penghibur’. Dari situ dapat juga dipahami makna
nama Nahum sebagai ‘orang yang dapat menghibur’. Terkait ‘melipur’ atau
‘menghibur’ ini, pesan pengharapan sebenarnya sudah tampak sejak awal kitabnya.
“TUHAN itu
panjang sabar dan besar kuasa-Nya, tetapi sekali-kali Ia tidak membebaskan
orang bersalah dari hukuman. TUHAN berjalan dalam puting beliung dan badai, dan
awan adalah debu kaki-Nya. TUHAN itu baik; tempat perlindungan pada waktu
kesusahan; Ia memperhatikan orang-orang yang berlindung pada-Nya” (Nah.
1:3, 7).
Pesan pengharapan pada awal kitab ini tampak dalam
keseluruhan kitab yang memuat tiga bab ini. Pengharapan itu muncul secara
dramatis dan optimis. Munculnya pesan pengharapan dalam kitab ini memastikan
bahwa yang menjadi konteksnya adalah situasi dan kondisi ancaman yang
menimbulkan tanggapan atau reaksi keras terutama terhadap ketidakadilan dan
penindasan yang dilakukan oleh kekuatan asing (Nah. 1:13; 2:2.13-14; 3:1).
Kekuatan asing yang dimaksud adalah bangsa Asyur yang
terkenal karena kekerasan dan kekejamannya. Terhadap penindas yang keras dan
kejam ini, sang nabi menunjukkan perlawanannya sebagai representasi sikap dari
orang sebangsanya. Seiring dengan itu, sang nabi juga menyampaikan suatu
kesadaran bahwa penindas ini terlalu kuat untuk dilawan rakyat kecil Yehuda.
Oleh karena itu, ia terus menyampaikan pesan optimismenya dengan memperlihatkan
Allah sebagai panglimanya. Sebagai Panglima, Allah menjadi pejuang yang
berupaya untuk memulihkan dan menegakkan keadilan bagi umat-Nya.
2.2 Nabi Habakuk
Judul kitab ini tidak memberi informasi kepada pembaca,
baik asal-usulnya, maupun nama ayahnya. Periode waktu hidup dan aktivitasnya
pun gelap. Kenyataan bahwa konteks dan latar belakangnya sangat gelap ini
menjadi sesuatu yang sangat mengherankan karena Habakuk justru hadir secara
utuh dan penuh pada semua bagian kitab sebagai seorang nabi yang bergelut
dengan dinamika zamannya. Akan tetapi, ketiadaan informasi konteks dan latar
belakangnya dapat menjadi simbol bahwa nabi ini adalah seorang tokoh yang
melampaui lingkup sejarah dan masanya.
Habakuk menjadi gambaran sosok yang sanggup menyibukkan
dirinya ke dalam setiap keprihatinan historis masanya sekaligus berusaha
menangkap dan menghadirkan kehendak Allah dalam setiap kesempatan hidupnya.
Berdasarkan komposisinya, para ahli memperkirakan bahwa kitab ini berada pada
konteks waktu antara akhir abad ketujuh dan awal abad keenam. Acuannya adalah
sejarah terkait penindasan Babilonia yang mengakibatkan kerusakan tak
terperikan. Penindasan ini ditanggapi Habakuk dengan mengobarkan ancaman bagi
para penindas dalam bentuk doa bernada ratapan (Hab. 3:1-19).
Habakuk adalah seorang anak zaman. Dalam bentangan waktu
yang cukup panjang, sang nabi membatasi dirinya pada aktivitas menangkap,
mendengarkan, dan mewartakan Sabda Allah. Seperti nabi sezamannya, Yeremia,
Habakuk mengambil inisiatif dengan bertanya kepada Allah, menuntut jawaban, dan
membuka cakrawala harapan. Nubuat-nubuatnya mewujud dalam dialog antara dirinya
sebagai nabi dan Allah. Dialog itu mendatangkan pengajaran untuk orang-orang
sezamannya dan untuk generasi masa depan. Nubuatnya bagaikan buah permenungan,
refleksi, dan doa yang tak berkesudahan. Nubuatnya memang singkat tetapi
menjadi salah satu nubuat yang paling mendalam dari Perjanjian Lama. Hanya
melalui dialog dengan Allah, aneka macam pertanyaan, keberatan, sikap iman, dan
keterbukaan terhadap semua harapan untuk dapat mengenali dan memahami cara
Allah memulihkan dan menegakkan keadilan akan diperoleh seorang beriman.
III. PERTEMUAN
Sepanjang Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2024 umat
beriman mendapat kesempatan untuk mengenal sosok Nabi Nahum dan Nabi Habakuk.
Keduanya termasuk dalam kategori nabi-nabi minor atau nabi-nabi kecil yang
kiprahnya seringkali kurang dikenal. Umat beriman mendapatkan kesempatan
berkenalan dengan keduanya, sekaligus mendalami nubuat-nubuat mereka tentang
Allah sebagai sumber keadilan. Guna mengenali sosok dan nubuat-nubuat kedua
nabi itu umat beriman mendapat kesempatan untuk menggelar empat kali pertemuan.
Setiap pertemuan ada sub-tema yang dapat didiskusikan dan direnungkan
bersama-sama. Keempat sub-tema adalah sebagai berikut:
(1) Allah dasar pengharapan dalam kesulitan (Nah.1:1-8)
(2) Allah memulihkan kemuliaan manusia (Nah. 2:1-2)
(3) Menjadi manusia yang benar supaya tidak mengalami hukuman (Hab.
2:1-5)
(4) Menjadi manusia
yang bersukacita karena Allah yang adil (Hab. 3:1-19)
Pada pertemuan pertama, dengan bantuan nubuat Nahum
(Nah.1:1-8) umat beriman dapat melihat bahwa kehendak Allah bekerja dengan
merusak segala bentuk ketidakadilan. Setelah segala wujud dosa yang menyebabkan
ketidakadilan itu dihalau dan dihancurkan, Allah membangun dan menata kembali
kehidupan yang menghadirkan keselamatan.
Pada pertemuan kedua, didiskusikan ketidakadilan yang
membuat kemuliaan manusia hilang. Supaya kembali pada martabatnya, manusia
harus merebut kembali dan memulihkan kembali kemuliaannya. Untuk itu, manusia
beriman harus memohon Allah untuk membantunya dalam memulihkan kemuliaannya
yang hilang. Melalui nubuatnya Nahum mengungkapkan bahwa Allah akan memulihkan
kemuliaan manusia sebagaimana Ia memulihkan kemuliaan Yakub, seperti kemuliaan Israel
(Nah. 2:1-2).
Pada pertemuan ketiga, dengan bantuan nubuat Habakuk umat
beriman mengenali gagasan ‘orang benar’. Dengan mengenali dan memahaminya,
orang beriman akan sampai pada suatu kehidupan yang dilandasi oleh imannya
(Hab. 2:1-5). Guna mendapatkan pemaknaan yang tepat atas ide ‘orang benar’,
Rasul Paulus memberi bantuan dengan permenungannya atas nubuat Habakuk itu
dalam pewartaannya tentang ‘Orang benar akan hidup
oleh iman’” (Rm. :17).
Pada pertemuan keempat atau terakhir, diungkapkan pengalaman-pengalaman positif akan Allah.
Pengalaman-pengalaman semacam itu akan membangkitkan optimisme dalam diri
manusia beriman bahwa hidup yang dijalaninya adalah berkat dan rahmat dari
Allah yang terus-menerus menghendaki hidup manusia berada dalam kondisi damai
sejahtera dan adil. Nubuat Habakuk membantu orang beriman dalam memahami Allah
yang adil (Hab. 3:1-19).
PERTEMUAN
PERTAMA
ALLAH MENJADI DASAR PENGHARAPAN
DALAM KESULITAN
(Nah.1:1-8)
Tujuan:
1. Peserta memahami bahwa Allah merupakan dasar pengharapan
di tengah kesulitan hidup.
2. Peserta mampu mengandalkan Allah dalam segala
situasi kehidupannya.
Gagasan Pokok :
§
Dalam perikop Nah
1:1-8, Nabi Nahum menggambarkan kepedulian TUHAN Allah Israel akan kesusahan
dan kesulitan yang dihadapi umat-Nya yang sedang berada di bawah kekuasaan
Asyria. Gambaran kepedulian Allah itu ditunjukkan lewat kemarahan Allah kepada
bangsa Asyria yang menjadi lawan atau musuh umat pilihan-Nya. Terhadap para
musuh-Nya, TUHAN digambarkan sebagai Allah yang cemburu dan pembalas serta
penuh kehangatan amarah. Allah bertindak adil terhadap mereka, dengan memberi
hukuman yang setimpal dengan kejahatan mereka. Selain itu Allah juga
menunjukkan kebaikan-Nya kepada bangsa pilihan-Nya. Kebaikan Tuhan tersebut
digambarkan melalui ayat berikut: “Tuhan
itu baik; tempat perlindungan pada waktu kesusahan; Ia memperhatikan
orang-orang yang berlindung pada-Nya, bahkan dalam banjir yang melanda. Ia
menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya
dihalau-Nya ke dalam gelap” (Nah 1:7-8).
§ Situasi
hidup manusia tidak terlepas dari aneka bentuk kesulitan. Kesulitan-kesulitan
itu terjadi dalam berbagai bidang kehidupan seperti dalam bidang ekonomi,
sosial, hukum, pendidikan, politik, kesehatan, dll. Ada kesulitan yang timbul
karena kesalahan manusia itu sendiri, maupun juga karena ditimpakan oleh pihak
lain secara tidak adil. Dalam situasi ini, manusia kerap kali mengalami putus
asa, tidak berdaya, pasrah pada nasib, kompensasi pada hal-hal yang tidak
sehat, mempersalahkan Tuhan dan sesama, bahkan bunuh diri.
§ Berhadapan
dengan situasi ketidakberdayaan, umat Regio Nusra diharapkan mampu untuk selalu
mengandalkan Tuhan. Saat mengalami kesulitan dalam kehidupannya, umat hendaknya
senantiasa percaya kepada Allah sebagai sumber pengharapan, dan sumber kekuatan
untuk berjuang mengatasi aneka kesulitan hidup. Sikap mengandalkan Tuhan
membuat umat tidak terjebak dalam keputusasaan dan kepasrahan kepada nasib,
melainkan percaya bahwa dengan kekuatan rahmat Tuhan, mereka sanggup mengatasi
kesulitan hidup.
PELAKSANAAN PERTEMUAN
I. PEMBUKAAN
01. Lagu Pembuka (Lagu yang sesuai)
02. Tanda Salib dan Salam
P : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U : Amin
P : Semoga Tuhan beserta kita
U : Sekarang dan selama-lamanya
03. Kata Pengantar
P : Bapak Ibu dan
saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, kita kembali memasuki Bulan Kitab
Suci Nasional (BKSN). Sepanjang Bulan Kitab Suci Nasional 2024 ini, kita, umat
beriman, mendapat kesempatan untuk mengenal sosok Nabi Nahum dan Nabi Habakuk.
Keduanya termasuk dalam kategori nabi-nabi kecil yang kiprahnya seringkali
kurang dikenal. Terinspirasi dari Nabi Nahum dan Habakuk, umat diajak untuk
merenungkan tema Umum BKSN 2024: “Allah
Sumber Keadilan”, dengan empat sub tema yang akan digumuli dalam empat kali
pertemuan:
(1) Minggu Pertama:Allah
Menjadi Dasar Pengharapan dalam Kesulitan (Nah. 1:1-8).
(2) Minggu Kedua:
Allah Memulihkan Kemuliaan Manusia (Nah. 2:1-2).
(3) Minggu Ketiga:
Menjadi Manusia yang Benar Supaya Tidak Mengalami Hukuman (Hab. 2:1-5).
(4) Minggu
Keempat: Menjadi Manusia yang Bersukacita karena Allah yang Adil (Hab. 3:1-19).
Pada hari ini kita
akan mendalami tema Minggu yang Pertama yaitu Allah Menjadi Dasar Pengharapan dalam Kesulitan (Nah 1:1-8). Sumber
inspirasinya berasal dari Kitab Nahum. Kisah Nabi
Nahum dalam pertemuan pertama ini mengajak kita untuk memahami dan merenungkan
bahwa dalam situasi kesulitan hidup, Allah tetap menjadi dasar pengharapan bagi
bangsa pilihan-Nya.
Mari kita mengawali
pertemuan ini dengan doa.
04. Doa Pembuka
P : Marilah
kita berdoa
Allah Bapa sumber
pengharapan, kami bersyukur atas rahmat kehidupan yang Engkau anugerahkan
kepada kami. Perjalanan hidup kami diwarnai dengan suka dan duka, silih
berganti. Ketika dalam situasi suka, hidup kami penuh semangat namun ketika
dalam situasi sulit, kami sering merasa putus asa dan kehilangan semangat.
Ampunilah kami karena seringkali tidak tahan dalam penderitaan. Kami mohon
bukalah hati dan pikiran kami, sehingga melalui pewartaan Nabi Nahum ini, kami
dimampukan untuk menjadikan Engkau sebagai satu-satunya sumber pengharapan
dalam kehidupan kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu Tuhan kami,
yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dan Roh Kudus Allah sepanjang
segala masa.
U : Amin
II. LANGKAH-LANGKAH
PENGEMBANGAN
A. LECTIO = MEMBACA
05. Membaca Teks Kitab Suci (Nah.1:1-8)
(Fasilitator meminta seorang
peserta untuk membacakan teks Kitab Suci dengan suara lantang dan tidak
tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil
mengikutinya dari Alkitab masing-masing.)
Bacaan dari Kitab
Nahum
1Ucapan ilahi
tentang Niniwe. Kitab penglihatan Nahum, orang Elkos. 2TUHAN itu
Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kobaran amarah.
TUHAN itu pembalas lawan-lawan-Nya dan pendendam kepada musuh-musuh-Nya. 3TUHAN
itu panjang sabar dan besar kuasa-Nya, tetapi sekali-kali Ia tidak membebaskan
orang bersalah dari hukuman. TUHAN berjalan dalam puting beliung dan badai, dan
awan adalah debu kaki-Nya. 4Ia menghardik laut dan mengeringkannya,
dan segala sungai dibuat-Nya gersang. Basan dan Karmel menjadi tandus dan
kembang Libanon menjadi layu. 5Gunung-gunung berguncang di
hadapan-Nya, dan bukit-bukit mencair. Bumi terungkit di hadapan-Nya, dunia
serta seluruh penduduknya. 6Siapa dapat berdiri menghadapi
geram-Nya? Siapa tahan terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala? Luapan
amarah-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu roboh karena Dia. 7TUHAN
itu baik; tempat perlindungan pada waktu kesusahan; Ia memperhatikan
orang-orang yang berlindung pada-Nya, 8bahkan dalam banjir yang
melanda. Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya
dihalau-Nya ke dalam gelap.
Demikianlah Sabda
Tuhan
(Umat menjawab:
Syukur kepada Allah)
06. Mendalami Teks
(Fasilitator mengajak peserta untuk membaca ulang teks tersebut secara
pribadi sambil membiarkan diri disapa oleh Sabda Tuhan. Setelah cukup waktunya,
pemandu mengajak peserta untuk merenungkan sekaligus mendalami teks Kitab Suci
bersama-sama misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun berikut ini.)
(1) Tentang kota manakah nubuat Nahum ditujukan?
(ayat 1)
(2) Apa gambaran tentang murka Allah yang
ditampilkan oleh Nahum? (ayat 2-3)
(3) Apa sikap Allah terhadap kota Niniwe? (ayat
4-6)
(4) Manakah
gambaran tentang kebaikan Allah yang ditampilkan oleh Nahum? (ayat 7-8)
07. Rangkuman
(1) Kitab Nahum memusatkan
perhatiannya pada jatuhnya Niniwe, ibukota kekaisaran Asyur (tahun 612 SM).
Sebagai seorang nabi, Nahum menafsirkan jatuhnya Niniwe sebagai wujud nyata
tergenapinya pengharapan Israel yang sedang dalam kesulitan. Kenyataan bahwa pada
akhirnya Niniwe sebagai pusat kehidupan kekaisaran Asyur jatuh menjadi suatu
bukti nyata bahwa Allah mendengarkan pengharapan Israel yang sedang dalam
kesulitan.
(2) Pada awal
kitabnya, nabi Nahum menegaskan bahwa meskipun bangsa Israel berada dalam penindasan
bangsa Asyur, tetapi Allah menjanjikan pengharapan kepada bangsa pilihan-Nya,
dengan menunjukkan kebaikan hati-Nya. Dengan itu Allah tidak membiarkan
umat-Nya berada dalam penderitaan. Sikap Allah digambarkan dengan jelas, yaitu
Allah menghukum orang yang melakukan penindasan, dan Allah membela orang-orang
tertindas yang berharap kepada-Nya.
(3) Kitab nubuat
Nahum didominasi oleh keyakinan dan perasaan kuat akan kebesaran dan kedaulatan
Allah. Allah menjadi pembela orang-orang yang lemah dan tertindas. Untuk
orang-orang semacam itulah Allah memelihara perasaan kelembutan dan kebaikan.
Nahum yakin bahwa Allah menepati janji-janji yang dibuat untuk orang-orang yang
percaya kepada-Nya (Nah. 1:7). Janji itu menjadi pemenuhan harapan bagi bangsa
Israel yang sedang berada dalam kesulitan, terutama akibat ketidakadilan.
B. MEDITATIO = MERENUNGKAN
08. Merenungkan
(Setelah selesai tahap Lectio dan pendalaman, fasilitator mengajak
peserta melangkah ke tahap meditatio atau merenung. Pertanyaan penuntun untuk
permenungan dan sharing, direnungkan selama kurang lebih 3 menit, dalam suasana
hening lalu disharingkan dengan tuntunan pertanyaan berikut ini. Tidak mesti
semuanya dijawab satu per satu tetapi bisa sharingkan mana pertanyaan yang
sesuai untuk setiap pribadi.)
(1) Nabi Nahum
menggambarkan kesulitan yang dialami oleh bangsa Israel di Niniwe. Apakah saya
juga mengalami kesulitan tertentu yang sangat berat sampai menimbulkan rasa
putus asa? Manakah kesulitan yang dihadapi?
(2) Nabi Nahum
menggambarkan juga kebaikan Allah terhadap bangsa pilihan-Nya di dalam
kesulitan mereka. Apakah saya menyadari kebaikan Allah dalam kesulitan yang
saya alami?
(3) Nabi Nahum
menggambarkan sikap mengandalkan Allah sebagai dasar pengharapan dalam
menghadapi kesulitan. Bagaimana sikap saya dalam hal mengandalkan Tuhan ketika
menghadapi kesulitan hidup?
09. Sharing Pengalaman Iman
(Fasilitator mengajak peserta untuk mensharingkan hasil permenungannya
berdasarkan pertanyaan-pertanyaan penuntun tadi. Agar tidak terlalu lama, maka
sharing ini bisa dibatasi untuk beberapa orang saja. Fasilitator mengingatkan
peserta agar di dalam sharing harus menggunakan kata “saya” atau “aku” dan
bukan” kita” atau ‘kami” untuk menghindari kesan menggurui,
mengajar atau mengkotbahkan orang lain. Fasilitator berperan mengatur jalannya
sharing dan mencatat poin-poin penting dari sharing peserta untuk dijadikan
bahan penegasan.)
10. Penegasan Fasilitator
(1) Kehidupan manusia di dunia ini penuh dengan
dinamika, ibarat roda berputar: kadang-kadang mengalami banyak kemudahan,
kadang-kadang juga mengalami banyak kesulitan, kesusahan dan tantangan;
kadang-kadang merasa sehat dan kadang-kadang sakit. Ada sukacita namun ada juga
dukacita yang menghampiri kehidupan manusia. Di tengah kesulitan yang mendera
kehidupan, manusia sering kali goyah imannya dan putus asa.
(2) Sebagai murid-murid Kristus, kita dipanggil
untuk selalu mengandalkan Tuhan sebagai dasar pengharapan dalam segala situasi
kehidupan. Dalam situasi suka maupun duka kita harus tetap teguh dalam iman,
karena Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa-Nya. Tuhan itu baik; tempat
perlindungan pada waktu kesusahan; Ia memperhatikan orang-orang yang berlindung
pada-Nya.
(3) Hidup yang selalu mengandalkan Tuhan,
membantu kita dalam berjuang menghadapi tantangan dan kesulitan hidup.
C. ORATIO=DOA
(Setelah mendengarkan dan mendalami Sabda Tuhan dan mensharingkan
pengalaman imannya, peserta diajak menanggapi Sabda Tuhan dengan menyampaikan
doa permohonan. Fasilitator mengajak peserta untuk menyampaikan doa secara
spontan sebagai tanggapan pribadi atas Sabda Tuhan. Setelah semua peserta
menyampaikan doa-doa permohonannya, fasilitator mengajak para peserta untuk mendoakan doa “Bapa Kami”.)
D. ACTIO=AKSI ATAU TINDAK NYATA
(Fasilitator mengajak peserta untuk merencanakan aksi atau tindakan
nyata)
P : Sesuai
dengan sub tema Minggu Pertama, marilah kita merencanakan aksi bersama: Buat
apa, siapa, bersama siapa, kapan, di mana dan bagaimana?
III. PENUTUP
11. Doa Penutup
P : Marilah kita berdoa,
Allah yang Maha Baik, kami telah merenungkan Sabda-Mu melalui warta nabi
Nahum. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah meneguhkan kami dengan
Sabda-Mu sehingga kami tidak mudah putus asa dalam situasi sulit dan menderita.
Kami percaya bahwa Engkau adalah sumber pengharapan dalam setiap kesulitan dan
penderitaan yang kami alami. Semoga dengan inspirasi Sabda-Mu ini, kami selalu
mengandalkan Dikau dalam segala situasi hidup. Dengan pengantaraan Kristus
Tuhan kami.
U : Amin.
12. Tanda Salib
13. Lagu Penutup
PERTEMUAN KEDUA
ALLAH MEMULIHKAN KEMULIAAN MANUSIA
(Nah 1:12-2:2)
Tujuan:
1. Peserta memahami
martabat dan kemuliaan manusia seturut pewartaan Nabi Nahum.
2. Peserta mampu
menjaga, menghargai, menghormati martabat manusia.
Gagasan Pokok :
§ Dalam teks Nah 1:12-2:2, Nabi meramalkan kehancuran
Niniwe dan Yehuda yang bersekongkol melawan Israel (Kerajaan Utara). Bahwa
Allah akan membabat habis dan menghancurkan mereka. Bagi Niniwe, meskipun
sebagai kerajaan yang besar, tetapi Allah akan menurunkan malapetaka yang akan
menghancurkan mereka. Sementara untuk Yehuda, Allah akan memutuskan rantai
keturunan dan ritual peribadatan mereka. Untuk Yakub/Israel, Allah akan
memulihkan kebanggaan Yakub dan memberikan kemuliaan. Melalui nubuat ini, Nahum
menegaskan kutukan dan hukuman bagi Niniwe dan Yehuda yang berkolaborasi
melawan Israel. Sementara bagi Israel, Nahum menegaskan tentang ganjaran
kemuliaan. Allah menghukum mereka yang menindas dan merendahkan martabat orang
lain, sementara bagi yang ditindas, Allah akan memulihkan martabat dan
menganugerahkan kemuliaan.
§
Pelecehan dan perendahan martabat manusia
tidak hanya pengalaman masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian pengalaman Gereja
masa kini. Ada berbagai persoalan perendahan martabat manusia yang terjadi
dalam konteks Gereja Nusa Tenggara. Dalam konteks politik, pemilihan umum
sebagai momen demokrasi, diwarnai dengan berbagai kecurangan. Rakyat tidak
bebas menyatakan pilihannya karena adanya tekanan dan praktik uang. Kekurangan
dan keterbatasan ekonomi membuat orang terjebak dalam migrasi yang masif dan
perdagangan manusia dengan segala konsekuensinya baik positif maupun negatif.
Praktik perdagangan manusia semacam ini merupakan kejahatan dan melanggar HAM
karena korban tidak diperlakukan sebagai manusia seutuhnya tetapi hanya menjadi
komoditas yang dijual untuk menghasilkan uang. Kenyataan sebagaimana
digambarkan di atas menunjukkan bahwa, praktik pelecehan martabat manusia juga
sedang terjadi dalam lingkup Gereja Nusra.
§
Kita adalah bagian dari Gereja Nusra. Kita tidak boleh hanya menjadi
penonton yang pasif, membiarkan pelecehan martabat manusia terus berlanjut.
Sebagai tanggapan atas pewartaan Nabi Nahum, kita semua diajak untuk bertobat.
Hal ini merupakan ajakan bagi kita untuk menjaga martabat dan eksistensi diri
kita sebagai makhluk yang bermartabat. Selanjutnya, kita disadarkan untuk
memberikan animasi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam kasus pelecehan
martabat manusia baik itu pemerintah, aparat keamanan dan keluarga-keluarga
kita. Gerakan animasi ini tidak semata berasal dari diri kita tetapi
diinspirasikan oleh nubuat Nahum bahwa Allah selalu berpihak kepada mereka yang
kecil, lemah dan tak berdaya.
PELAKSANAAN
PERTEMUAN
I. PEMBUKAAN
01. Lagu Pembuka (Lagu yang sesuai)
02. Tanda Salib dan Salam
P : Dalam nama
Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U : Amin
P : Semoga Tuhan
beserta kita
U : Sekarang dan
selama-lamanya
03. Kata Pengantar
P : Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih
dalam Tuhan
Minggu yang lalu kita telah mendalami sub tema pertama: “Allah
Dasar Pengharapan Dalam Kesulitan (Nah. 1:1-8)”. Sebelum kita memulai
pendalaman iman ini, kita dengarkan laporan aksi nyata yang sudah kita sepakati
bersama. Mohon diinformasikan secara singkat.
(Fasilitator
memberi kesempatan kepada seorang pengurus kelompok untuk memberikan informasi
tentang pelaksanaan aksi nyata).
Sekarang kita hendak mendalami dan merenungkan sub tema
minggu kedua Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) yakni: “Allah Memulihkan
Kemuliaan Manusia” (Nah. 1:12-2:2). Dalam pertemuan ini Nabi Nahum mengajak
kita untuk merenungkan bahwa dosa yang dilakukan manusia itu merusak martabat
sesama manusia sebagai citra Allah. Allah selalu memihak kepada mereka yang
lemah dan tertindas. Mari kita hening sejenak untuk memohon kehadiran Tuhan
dalam pendalaman iman BKSN ini..
04. Doa Pembuka
P :
Marilah kita berdoa
Allah Bapa sumber kekudusan, Engkau tidak berkenan kepada
orang-orang yang melakukan kejahatan dan dosa, yang menindas sesamanya dengan
kejam. Engkau akan bertindak dan mengenyahkan kejahatan karena Engkau adalah
Allah yang Maha Adil. Saat ini kami ingin mendalami Sabda-Mu untuk memberikan
pencerahan dan kekuatan bagi orang yang mencari Engkau dengan tulus. Kami
mohon, hadirlah bersama kami agar kami memahami apa yang Engkau kehendaki dalam
hidup kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan kami yang hidup
dan berkuasa bersama dengan Dikau dan Roh Kudus Allah, sepanjang segala masa.
U : Amin
II. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN
A. LECTIO =
MEMBACA
05. Membaca Teks Kitab Suci
(Nah. 1:12-2:2)
(Fasilitator
meminta seorang peserta untuk membacakan teks Kitab Suci dengan suara lantang
dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian
sambil mengikutinya dari Alkitab masing-masing.)
Bacaan dari Kitab Nahum
12Beginilah firman TUHAN: "Sekalipun
mereka utuh dan begitu banyak jumlahnya, tetapi mereka akan hilang terbabat dan
mati binasa; sekalipun Aku telah merendahkan engkau, tetapi Aku tidak akan
merendahkan engkau lagi. 13Sekarang, Aku akan mematahkan gandarnya
yang memberati engkau, dan akan memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat
engkau." 14Terhadap engkau, inilah perintah TUHAN: "Tidak
akan ada lagi keturunan dengan namamu. Dari rumah allahmu Aku akan melenyapkan
patung pahatan dan patung tuangan; kuburmu akan Kusediakan, sebab engkau
hina." 15Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang
membawa berita, yang mengabarkan berita damai sejahtera. Rayakanlah hari rayamu,
hai Yehuda, bayarlah nazarmu! Sebab tidak akan datang lagi orang dursila
menyerang engkau; ia telah dilenyapkan sama sekali!
1Pendobrak maju
terhadap engkau; jagalah benteng, awasilah jalan, ikatlah pinggangmu kuat-kuat,
kumpulkanlah segala kekuatan! 2Sesungguhnya, TUHAN akan memulihkan
kemuliaan Yakub, seperti kemuliaan Israel; sebab para perampas telah
merampasnya dan membinasakan carang-carangnya.
Demikianlah Sabda Tuhan
(Umat menjawab: Syukur kepada Allah)
06. Mendalami Teks
(Fasilitator mengajak
peserta untuk membaca ulang teks tersebut secara pribadi sambil membiarkan diri
disapa oleh Sabda Tuhan. Setelah cukup waktunya, pemandu mengajak peserta untuk
merenungkan sekaligus mendalami teks Kitab Suci bersama-sama misalnya dengan
pertanyaan-pertanyaan penuntun berikut ini.)
(1) Kepada siapa
nubuat yang disampaikan oleh Nabi Nahum? (judul perikop)
(2) Apa isi nubuat
yang disampaikan Nabi Nahum kepada Niniwe? (ayat 12-13)
(3) Apa isi nubuat
yang disampaikan Nabi Nahum kepada Yehuda? (ayat 14-15)
(4) Siapakah yang dimaksudkan dengan “pendobrak”
dalam bab 2 ayat 1? (Maksudnya adalah musuh bangsa Asyur, yaitu bangsa
Babilonia. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 612 SM, bangsa Babel menghancurkan
ibu kota Asyur yaitu Niniwe)
07. Rangkuman
(1) Ramalan Nahum
ini berkaitan dengan hukuman yang ditujukan kepada Niniwe dan Yehuda yang
bersekongkol untuk melawan Israel. Persekongkolan jahat ini akan berdampak
negatif baik bagi Niniwe maupun Yehuda yang akan mengalami kehancuran.
Sedangkan bagi kerajaan Israel, Allah akan berpihak kepada mereka dan
memulihkan kemuliaan serta martabat mereka. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
kekuatan manusia itu terbatas dan lemah. Akibatnya, saat musuh yang datang
menyerang lebih kuat, maka manusia seringkali tidak dapat bertahan. Pada
akhirnya, manusia harus menyerah kalah. Satu-satunya yang dapat mengalahkan
musuh yang kuat adalah Tuhan, Allah Israel (Nah. 2:2a).
(2) Dalam kitab Nahum, Allah Israel kerapkali
digambarkan sebagai Panglima Perang (Nah. 1:9.14; 2:13; 3:5-6). Sebagai
Panglima Perang, Allah menurunkan semua senjata berupa tanda-tanda alam, seperti puting-beliung,
badai, dan gunung-gunung batu yang roboh (Nah. 1:3b-6). Gambaran
meluluhlantakkan kekuatan-kekuatan besar itu menjadi cara untuk menghidupkan
kembali semangat sekaligus mendorong mereka memiliki kepercayaan diri dalam
merebut kemenangan melawan musuh, terutama di saat kesulitan dan
keputusasaan.
(3) Pesan pengharapan Nahum tampak pada ungkapan
“Tuhan akan memulihkan kemuliaan Yakub, seperti kemuliaan Israel”. Nama Yakub
juga sering disebut sebagai Israel. Dalam hal ini, Yakub menunjuk pada nama
diri seorang yang belum bersama Allah. Sedangkan Israel menunjuk pada nama diri
orang yang sama setelah ia disertai Allah.
B. MEDITATIO
= MERENUNGKAN
08. Merenungkan
(Setelah selesai tahap
Lectio dan pendalaman, fasilitator mengajak peserta melangkah ke tahap
meditatio atau merenung. Pertanyaan penuntun untuk permenungan dan sharing,
direnungkan selama kurang lebih 3 menit, dalam suasana hening lalu disharingkan
dengan tuntunan pertanyaan berikut ini. Tidak mesti semuanya dijawab satu per
satu tetapi bisa sharingkan mana pertanyaan yang sesuai untuk setiap pribadi.)
(1) Apakah saya juga, secara sadar atau tidak sadar, melakukan
pelecehan atau perendahan terhadap martabat sesama saya?
(2) Apa yang bisa saya buat untuk keluar dari tindakan saya melecehkan
atau merendahkan martabat sesama saya?
(3) Apa yang saya buat untuk memulihkan martabat manusia dari berbagai
praktik pelecehan terhadap martabat manusia di sekitar saya?
09. Sharing Pengalaman Iman
(Fasilitator mengajak
peserta untuk mensharingkan hasil permenungannya berdasarkan
pertanyaan-pertanyaan penuntun tadi. Agar tidak terlalu lama, maka sharing ini
bisa dibatasi untuk beberapa orang saja. Fasilitator mengingatkan peserta agar
di dalam sharing harus menggunakan kata “saya” atau “aku” dan bukan” kita” atau
‘kami” untuk menghindari kesan menggurui, mengajar atau mengkotbahkan
orang lain. Fasilitator berperan mengatur jalannya sharing dan mencatat
poin-poin penting dari sharing peserta untuk dijadikan bahan penegasan.)
10. Penegasan Fasilitator
(1) Pelecehan
martabat manusia sungguh-sungguh sedang terjadi di kalangan umat Nusra.
Pelecehan itu muncul dalam berbagai bentuk seperti Tindak Pidana Perdagangan
Orang (TPPO), Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Migrasi dengan konsekuensi
negatifnya, dan pelecehan seksual.
(2) Menanggapi
kasus pelecehan martabat manusia, dalam terang pewartaan Nabi Nahum, kita
diajak untuk merintis jalan pertobatan baik secara internal maupun eksternal.
Secara internal, kita perlu menyadari diri kita sendiri sebagai makhluk yang
bermartabat. Secara eksternal, baik personal maupun kolektif, kita mengupayakan
animasi tentang harkat dan martabat manusia.
C. ORATIO=DOA
(Setelah mendengarkan
dan mendalami Sabda Tuhan dan mensharingkan pengalaman imannya, peserta diajak
menanggapi Sabda Tuhan dengan menyampaikan doa permohonan. Fasilitator mengajak
peserta untuk menyampaikan doa secara spontan sebagai tanggapan pribadi atas
Sabda Tuhan. Setelah semua peserta menyampaikan doa-doa permohonannya,
fasilitator mengajak para peserta untuk
mendoakan doa “Bapa Kami”.)
D. ACTIO=AKSI ATAU
TINDAK NYATA
(Fasilitator mengajak
peserta untuk merencanakan aksi atau tindakan nyata)
P : Sesuai dengan sub tema Minggu Pertama, marilah
kita merencanakan aksi bersama: Buat apa, siapa, bersama siapa, kapan, di mana
dan bagaimana?
III. PENUTUP
11. Doa Penutup
P : Marilah kita berdoa,
Allah yang Maha Rahim, kami telah merenungkan dan
mendalami Sabda-Mu yang mengajak kami untuk bertobat dan memulihkan kembali
martabat serta kemuliaan kami yang hilang akibat dosa kami. Kami mohon,
berkatilah kami agar dalam hidup selanjutnya kami mampu bekerja sama dengan
semua orang dan lembaga terkait demi mewujudkan pemulihan kemuliaan martabat
manusia. Kami panjatkan permohonan ini dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami.
U : Amin.
12. Tanda Salib
13. Lagu Penutup
PERTEMUAN KETIGA
MENJADI MANUSIA YANG BENAR
SUPAYA TIDAK MENGALAMI HUKUMAN
(Hab.
2:1-20)
Tujuan:
1. Peserta memahami
bahwa orang benar tidak mendapat hukuman karena hidup oleh iman.
2. Peserta
mewujudkan imannya secara benar dalam hidup sehari-hari.
Gagasan Pokok :
§
Perikop Hab. 2:1-20
menampilkan dialog antara nabi Habakuk dengan Allah. Habakuk menyampaikan
beberapa pertanyaan dan keluhan secara terbuka kepada Tuhan sekaligus
menantikan jawaban dari Tuhan. Habakuk akhirnya mendapat jawaban dari Tuhan
bahwa orang yang membusungkan dada adalah orang yang tidak lurus hatinya,
tetapi orang benar akan hidup oleh kepercayaannya kepada Tuhan (Hab. 2:4).
Dalam perikop ini Tuhan juga mengecam para pemberontak yang berlaku tidak benar
(Hab. 2:6.9.12.15.19). Senada dengan ini, Rasul Paulus mendukung ide tentang
orang benar bahwa “orang benar akan hidup oleh iman” (Rm. 1:17; Gal. 3:11).
§
Gereja Katolik di Regio Nusra berhadapan
dengan banyak peristiwa yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran. Salah
satu yang paling menonjol adalah merebaknya berbagai kasus tindakan kekerasan,
baik kekerasan fisik, verbal maupun penelantaran, misalnya, Kekerasan Dalam
Rumah Tangga dan di sekolah, kasus penganiayaan dan pembunuhan, penelantaran
terhadap perempuan dan anak-anak, tekanan karena tuntutan belis yang tinggi,
dan sebagainya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada jarak antara ‘kebenaran
iman’ dan ‘perwujudan iman’ dalam kehidupan sehari-hari. Pelaku kekerasan
cenderung hidup dalam konsep kebenaran menurut versinya sendiri, memaksakan
kehendak, melihat orang lain sebagai pihak yang salah dan bertindak main hakim
sendiri.
§
Sebagai umat Katolik, kita bisa belajar dari
kisah nabi Habakuk. Melalui Habakuk, Allah memberikan gambaran tentang
bagaimana menjalani hidup sebagai orang benar karena memiliki sikap percaya
atau iman. Upaya menjadi orang benar dapat ditempuh melalui ketegasan atau
keberanian untuk menolak tindakan kekerasan, memperjuangkan nilai kebenaran,
keadilan dan damai serta penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.
PELAKSANAAN
PERTEMUAN
I. PEMBUKAAN
01. Lagu Pembuka (Lagu yang sesuai)
02. Tanda Salib dan Salam
P : Dalam nama Bapa
dan Putra dan Roh Kudus
U : Amin
P : Semoga Tuhan
beserta kita
U : Sekarang dan
selama-lamanya
03. Kata Pengantar
P : Bapak Ibu dan saudara-saudari yang terkasih
dalam Tuhan,
Kita telah mendalami sub tema kedua yaitu: “Allah Memulihkan
Kemuliaan Manusia” (Nah. 2:1-20). Dalam pendalaman tersebut kita telah
bersepakat untuk melaksanakan aksi nyata secara bersama. Sejauh mana rencana
tersebut telah dilaksanakan, mohon diinformasikan secara singkat.
(Fasilitator
memberi kesempatan kepada seorang pengurus kelompok untuk memberikan informasi
tentang pelaksanaan aksi nyata).
Setelah mendalami tentang nabi Nahum pada dua pertemuan
sebelumnya, maka pada pertemuan ketiga dan pertemuan keempat nanti, kita akan
mendalami tentang nabi Habakuk. Pada pertemuan ketiga ini, kita akan mendalami
sub tema ketiga BKSN 2024 yaitu “Menjadi Manusia Yang Benar Supaya Tidak
Mengalami Hukuman“ (Hab. 2:1-20). Dalam pertemuan ini, kita diajak untuk
merenungkan bahwa Allah menghendaki agar
setiap orang beriman mampu menjalani hidup sebagai orang benar supaya tidak
mengalami hukuman dari-Nya. Datanglah kepada Tuhan, percayakan hidup kita pada
Tuhan; kita akan menjadi orang benar. Marilah kita mengikuti kegiatan
pendalaman ini dengan tekun dan dalam suasana sukacita.
04. Doa Pembuka
P :
Marilah kita berdoa
Allah Bapa yang mahakasih, kami bersyukur kepada-Mu
karena Engkau selalu menyertai perjalanan hidup kami. Namun terkadang kami
kurang percaya kepada-Mu yang adalah Allah yang setia menyertai ke mana pun
kami diutus. Maka kami mohon, utuslah Roh Kudus-Mu untuk membimbing dan
menguatkan kami agar di manapun dan
dalam keadaan apapun kami tetap menjalani hidup sebagai orang benar
sehingga dapat memperoleh keselamatan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus
Putra-Mu Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dan Roh Kudus
Allah, sepanjang segala masa.
U : Amin
II. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN
A. LECTIO =
MEMBACA
05. Membaca Teks Kitab Suci
(Hab. 2:1-20)
(Fasilitator meminta
seorang peserta untuk membacakan teks Kitab Suci dengan suara lantang dan tidak
tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil
mengikutinya dari Alkitab masing-masing.)
Bacaan dari Kitab Habakuk
1Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak
di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya
kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. 2 TUHAN
menjawab aku, demikian, “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada
loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. 3Sebab
penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya
dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu
sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. 4Sesungguhnya,
orang yang membusungkan dada tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu
akan hidup oleh percayanya. 5Orang-orang sombong dan khianat dia
yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia akan mengangakan mulutnya
seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga
segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkanya.” 6Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa
mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang
menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya--berapa lama lagi? --dan yang
memuati dirinya dengan barang gadaian. 7Bukankah
akan bangkit dengan sekonyong-konyong mereka yang menggigit engkau, dan akan
terjaga mereka yang mengejutkan engkau, sehingga engkau menjadi barang rampasan
bagi mereka? 8Karena
engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal
akan menjarah engkau, karena darah manusia
yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh
penduduknya itu. 9Celakalah
orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan
rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi,
dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka! 10Engkau telah merancangkan
cela ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi
banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri. 11Sebab batu
berseru-seru dari tembok, dan balok menjawabnya dari rangka rumah. 12Celakalah orang yang
mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di
atas ketidakadilan. 13Sesungguhnya, bukankah dari
TUHAN semesta alam asalnya, bahwa bangsa-bangsa bersusah-susah untuk api
dan suku-suku bangsa berlelah untuk yang sia-sia? 14Sebab bumi akan penuh
dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang
menutupi dasar laut. 15Celakalah orang yang
memberi minum sesamanya manusia bercampur amarah, bahkan
memabukkan dia untuk memandang auratnya. 16Telah engkau kenyangkan
dirimu dengan kehinaan ganti kehormatan.
Minumlah juga engkau dan terhuyung-huyunglah. Kepadamu akan
beralih piala dari tangan kanan TUHAN, dan cela besar akan
meliputi kemuliaanmu. 17Sebab kekerasan
terhadap gunung Libanon akan menutupi engkau dan pemusnahan binatang-binatang
akan mengejutkan engkau, karena darah manusia
yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh
penduduknya itu. 18Apakah gunanya
patung pahatan, yang dipahat oleh pembuatnya? Apakah gunanya
patung tuangan, pengajar dusta itu? Karena pembuatnya percaya
akan buatannya, padahal berhala-berhala bisu belaka yang
dibuatnya. 19Celakalah orang yang
berkata kepada sepotong kayu: "Terjagalah!" dan kepada sebuah batu
bisu: "Bangunlah! " Masakan dia itu mengajar? Memang
ia bersalutkan emas dan perak, tetapi roh tidak ada sama
sekali di dalamnya. 20Tetapi TUHAN ada di dalam
bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di
hadapan-Nya, ya segenap bumi!
Demikianlah Sabda Tuhan
(Umat menjawab: Syukur kepada Allah)
06. Mendalami Teks
(Fasilitator mengajak
peserta untuk membaca ulang teks tersebut secara pribadi sambil membiarkan diri
disapa oleh Sabda Tuhan. Setelah cukup waktunya, pemandu mengajak peserta untuk
merenungkan sekaligus mendalami teks Kitab Suci bersama-sama misalnya dengan
pertanyaan-pertanyaan penuntun berikut ini.)
(1) Mengapa nabi
Habakuk berdiri di tempat pengintaian dan bertahan di menara? (ayat 1).
(2) Apa yang
diperintahkan Tuhan kepada Habakuk sebagai jawaban atas seruannya? (ayat 2).
(3) Hal apa yang
membuat orang benar itu tetap hidup? (ayat 4)
(4) Sebutkan
kecaman Allah terhadap perbuatan manusia yang tidak benar! (ayat 6, 9, 12,
15, 19).
07. Rangkuman
(1) Perikop Hab.
2:1-20 mengisahkan dialog antara nabi Habakuk dengan Allah pada masa-masa sulit
dan berat yaitu terjadi penyerangan oleh bangsa Babel dan mereka berada dalam
pemerintahan raja Israel (raja Yoyakhim) yang berlaku jahat di mata Tuhan.
Dalam situasi itu, ternyata Habakuk tetap menunjukkan iman yang kuat kepada
Tuhan. Ia datang kepada Tuhan, menyampaikan keluhan dan tetap percaya
menantikan jawaban dari Tuhan. Jawaban Tuhan menguatkan Habakuk bahwa “orang
yang membusungkan dada tidak lurus hatinya, tetapi ‘orang benar’ akan hidup
oleh percayanya” (Hab. 2:4). Ini juga bisa dikaitkan dengan nama Habakuk
sendiri, yang berarti “seseorang yang memeluk” atau “seseorang yang
bergantung”. Makna ini sesuai dengan sikap nabi Habakuk yang bergantung kepada
Tuhan sebagai penolong dan penyelamatnya.
(2) Tuhan juga memberikan tanggapan bahwa hukuman
akan diberikan kepada Babel pada waktunya nanti. Karena itu, Habakuk tidak
perlu kuatir (Hab. 2:6-20). Pada masanya, kesombongan dan kelaliman para
penindas akan membawa mereka kepada kejatuhan, begitu pun sebaliknya kemenangan
bagi yang tertindas (Hab. 2:9-20). Hal ini digambarkan dalam perikop dengan
munculnya kata "celaka" sebanyak lima (5) kali yang berisikan kecaman
Tuhan terhadap bangsa Babel yang tidak benar. Mereka adalah orang-orang yang
korup (ayat 6), penjara (ayat 8), pengambil untuk yang rakus, penipu dan curang
(ayat. 9-11), perampas berdarah dan pelaku tindakan ketidakadilan (ayat 12),
manipulatif dan penghina kehormatan manusia (ayat 15-16) serta penyembah
berhala (ayat 18-19).
B. MEDITATIO
= MERENUNGKAN
08. Merenungkan
(Setelah selesai tahap
Lectio dan pendalaman, fasilitator mengajak peserta melangkah ke tahap
meditatio atau merenung. Pertanyaan penuntun untuk permenungan dan sharing,
direnungkan selama kurang lebih 3 menit, dalam suasana hening lalu disharingkan
dengan tuntunan pertanyaan berikut ini. Tidak mesti semuanya dijawab satu per
satu tetapi bisa sharingkan mana pertanyaan yang sesuai untuk setiap pribadi.)
(1) Apakah ada pengalaman pribadi saya tentang Tuhan yang membela saya
ketika saya berbuat yang benar?
(2) Hal-hal mana saja yang membuat saya berada jauh dari sebutan
sebagai orang benar?
(3) Apakah hidup saya selama ini sudah benar sesuai dengan Firman
Allah? Ceritakan pengalaman Anda!
(4) Upaya apa saja yang saya
lakukan untuk membangun sikap iman yang tekun-setia bertahan supaya dapat
menjadi orang benar?
09. Sharing Pengalaman Iman
(Fasilitator mengajak
peserta untuk mensharingkan hasil permenungannya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan
penuntun tadi. Agar tidak terlalu lama, maka sharing ini bisa dibatasi untuk
beberapa orang saja. Fasilitator mengingatkan peserta agar di dalam sharing
harus menggunakan kata “saya” atau “aku” dan bukan” kita” atau
‘kami” untuk menghindari kesan menggurui, mengajar atau mengkotbahkan
orang lain. Fasilitator berperan mengatur jalannya sharing dan mencatat
poin-poin penting dari sharing peserta untuk dijadikan bahan penegasan.)
10. Penegasan Fasilitator
(1) Kadangkala
kita mengalami bahwa meskipun kita berbuat benar, kita malah menderita atau
diasingkan. Menjadi orang benar memang tidak mudah karena akan berhadapan
dengan banyak sekali tantangan dunia. Namun, orang yang setia kepada Tuhan akan
selalu mendapatkan bantuan atau perlindungan dari Tuhan.
(2) Praktik-praktik
kekerasan ada dalam kenyataan hidup kita di Nusra. Seperti nabi Habakuk, kita
dipanggil untuk berjuang melawan semua praktik ketidakadilan dan tindakan
kekerasan itu dengan datang berlindung
(mencari jawaban) pada Tuhan. Kita juga diajak untuk mewujudkan jati diri
sebagai orang benar dalam hidup setiap hari. Hal ini dapat kita lakukan dengan
menunjukkan ketegasan atau keberanian untuk menolak segala bentuk tindakan
kekerasan, memperjuangkan nilai kebenaran, keadilan dan damai serta penghargaan
terhadap harkat dan martabat manusia.
C. ORATIO=DOA
(Setelah mendengarkan
dan mendalami Sabda Tuhan dan mensharingkan pengalaman imannya, peserta diajak
menanggapi Sabda Tuhan dengan menyampaikan doa permohonan. Fasilitator mengajak
peserta untuk menyampaikan doa secara spontan sebagai tanggapan pribadi atas
Sabda Tuhan. Setelah semua peserta menyampaikan doa-doa permohonannya,
fasilitator mengajak para peserta untuk
mendoakan doa “Bapa Kami”.)
D. ACTIO=AKSI ATAU
TINDAK NYATA
(Fasilitator mengajak
peserta untuk merencanakan aksi atau tindakan nyata)
P : Sesuai dengan sub tema Minggu Pertama, marilah
kita merencanakan aksi bersama: Buat apa, siapa, bersama siapa, kapan, di mana
dan bagaimana?
III. PENUTUP
11. Doa Penutup
P : Marilah kita berdoa,
Allah Bapa yang Maha Baik, kami bersyukur kepada-Mu
karena kami boleh diberi kesempatan untuk mendalami Firman-Mu pada pertemuan
ketiga Bulan Kitab Suci Nasional ini. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau
mengingatkan kami untuk selalu hidup secara benar sesuai iman kepada-Mu agar
kami tidak mendapatkan hukuman, baik hukuman dari negara maupun hukuman dari-Mu
sendiri. Kami mohon, sertailah dan kuatkanlah kami dengan rahmat-Mu agar dapat
melaksanakan hidup sebagai orang benar. Kami mohon kepada-Mu dengan
pengantaraan Kristus Tuhan kami.
U : Amin.
12. Tanda Salib
13. Lagu Penutup
PERTEMUAN KEEMPAT
MENJADI MANUSIA YANG BERSUKACITA
KARENA ALLAH YANG ADIL
(Hab. 3:1-19)
Tujuan:
1. Peserta memahami
bahwa keadilan Allah itu mendatangkan sukacita.
2. Peserta mampu
mewujudkan iman dengan sukacita akan Allah yang adil.
Gagasan Pokok :
§ Dalam teks Hab. 3:1-19, nabi Habakuk melukiskan bahwa
keagungan Tuhan meliputi langit dan bumi. Allah yang adil tidak ingin manusia
hidup dalam ketidakadilan, sehingga dalam doanya Habakuk melukiskan murka Allah
kepada bangsa-bangsa yang berlaku tidak adil. Habakuk tidak tinggal diam dan
putus asa, melainkan berjuang mencari keadilan ketika melihat bangsanya
tertindas, di antara situasi diserang oleh bangsa Babel dan pemerintahan raja
Yoyakim yang lalim. Habakuk menyampaikan doa kepada Allah agar orang-orang yang
berbuat jahat itu segera dihukum dan ia mendambakan pemulihan secepat mungkin
atas bangsanya. Allah menjawab doa Habakuk. Karena itu, Habakuk menutup
nubuatnya dengan puisi doa kepada Allah yang adil. Habakuk menyatakan bahwa di
tengah situasi yang buruk, ia tetap bersukacita dan percaya bahwa kebaikan dan
kekuatan Allah yang menyelamatkan itu akan tetap menyertai bangsanya.
§
Persoalan ketidakadilan itu sering terjadi
pada berbagai bidang kehidupan sosial di wilayah kita regio Nusra. Dalam bidang
politik, misalnya terdapat banyak politik uang menjelang pemilihan umum dan
pembagian bantuan sosial yang tidak merata. Dalam bidang perekonomian misalnya,
terdapat pemberian upah kerja di bawah standar minimum. Selain itu dalam bidang
budaya misalnya ada pesta yang berkepanjangan dan tuntutan belis pernikahan
yang tinggi. Selain itu, masih terdapat juga persoalan ketidakadilan terjadi
dalam bentuk perjudian, pencurian dan mental malas bekerja
§
Berhadapan dengan persoalan ketidakadilan
tersebut, kita perlu belajar dari nabi Habakuk yang berjuang mengokohkan iman
sembari memuji Tuhan yang Maha Adil. Kita perlu memiliki militansi iman dengan
tidak mudah putus asa tetapi selalu tekun berdoa kepada Allah yang adil dan
menumbuhkan semangat bekerja. Kita tetap memiliki keyakinan iman bahwa Allah
tetap bertindak adil mendampingi kita sehingga kita bisa menjadi manusia yang
bersukacita
PELAKSANAAN
PERTEMUAN
I. PEMBUKAAN
01. Lagu Pembuka (Lagu yang sesuai)
02. Tanda Salib dan Salam
P : Dalam nama
Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U : Amin
P : Semoga Tuhan
beserta kita
U : Sekarang dan
selama-lamanya
03. Kata Pengantar
P : Bapak Ibu dan saudara-saudari yang terkasih
dalam Tuhan.
Dalam pertemuan ketiga, kita telah mendalami sub tema tentang: “Menjadi
Manusia Yang Benar Supaya Tidak Mengalami Hukuman” (Hab. 2:1-5). Dalam
pendalaman tersebut kita telah bersepakat untuk melaksanakan aksi nyata secara
pribadi maupun secara bersama. Untuk mengetahui sejauh mana rencana tersebut
telah dilaksanakan, mari kita dengarkan informasi singkat tentang
pelaksanaannya.
(Fasilitator
memberi kesempatan kepada seorang pengurus kelompok untuk memberikan informasi
tentang pelaksanaan aksi nyata).
Pada hari ini kita akan mendalami dan merenungkan sub
tema keempat dan terakhir yakni “Menjadi Manusia Yang Bersukacita Karena Allah
Yang Adil” (Hab. 3:1-19). Dalam pertemuan ini, kita diajak oleh Nabi
Habakuk untuk merenungkan bahwa Allah
itu Maha Adil. Untuk itu, sebagai orang beriman, kita pun selalu diajak
untuk menjadi orang yang bersukacita. Sebelum kita membaca, merenungkan dan
mendalami teks Kitab Suci, marilah kita mengawali pertemuan ini dengan doa.
04. Doa Pembuka
P :
Marilah kita berdoa
Allah Bapa yang Maha Kuasa dan Kekal, puji syukur kami
haturkan ke hadirat-Mu atas berkat dan perlindungan-Mu terhadap kami. Saat ini
kami hendak mendalami dan merenungkan Firman-Mu. Bukalah pikiran dan hati kami
agar dapat memahami sabda-Mu yang mengingatkan kami akan keadilan-Mu sehingga
kami pun bersukacita karena Engkau Allah yang Maha Adil. Pujian dan syukur ini
kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Yesus Kristus Putra-Mu yang hidup
dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus Allah, sepanjang segala masa.
U : Amin
II. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN
A. LECTIO =
MEMBACA
05. Membaca Teks Kitab Suci
(Hab. 3:1-19)
(Fasilitator meminta
seorang peserta untuk membacakan teks Kitab Suci dengan suara lantang dan tidak
tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil
mengikutinya dari Alkitab masing-masing.)
Bacaan dari Kitab Habakuk
1Doa Nabi Habakuk.
Menurut nada ratapan. 2TUHAN, telah kudengar kabar
tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya TUHAN, kukagumi! Hidupkanlah itu
di zaman ini, nyatakanlah itu di zaman ini; dalam murka ingatlah akan
kasih sayang! 3Allah datang dari negeri
Teman dan Yang Maha Kudus dari pegunungan Paran. Sela.
Keagungan-Nya meliputi langit, dan bumi penuh dengan pujian
kepada-Nya. 4Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya
dari tangan-Nya dan di situlah tersembunyi kekuatan-Nya. 5Di
depan-Nya berjalan sampar dan wabah mengikuti jejak-Nya. 6Ia
berdiri, dan berguncanglah bumi; Ia melihat dan bangsa-bangsa dibuat-Nya
gemetar, hancur luluhlah gunung-gunung yang ada sejak purbakala, dan
bukit-bukit yang berabad-abad menjadi rata. Itulah lintasan-Nya berabad-abad. 7Aku
melihat kemah-kemah orang Kusyan di bawah tekanan, dan tenda-tenda tanah
Midian bergetar. 8Terhadap sungai-sungaikah, ya TUHAN,
terhadap sungai-sungaikah murka-Mu menyala-nyala? Atau terhadap
lautkah amarah-Mu ketika Engkau mengendarai kuda-Mu dan
kereta kemenangan-Mu? 9Busur-Mu telah Kaubuka telanjang,
telah Kauisi dengan anak panah. Sela. Keluarlah sungai-sungai dari bumi
yang telah Kaubelah. 10Melihat Engkau, gunung-gunung gemetar, air
bah menderu lalu; samudra dalam memperdengarkan suaranya dan mengangkat
tangannya. 11Matahari, bulan berhenti di tempat kediamannya, ketika
cahaya anak-anak panah-Mu yang melayang laju, karena kilauan tombak-Mu yang
berkilat. 12Dalam kegeraman Engkau menginjak-injak bumi, dalam murka
Engkau mengirik bangsa-bangsa. 13Engkau bergerak maju untuk
menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan yang Kauurapi. Engkau meremukkan
pemimpin kaum fasik melucuti bagian bawah sampai lehernya. Sela. 14Engkau
menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala tentaranya, yang datang seperti
badai untuk menyerakkan aku dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan
orang tertindas secara tersembunyi. 15Dengan kuda-Mu, Engkau
menginjak-injak laut, timbunan air yang bergelora. 16Ketika aku
mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, bergetarlah bibirku; rasa
nyeri masuk ke dalam tulang-tulangku, dan langkah kakiku gemetar. Dengan tenang
akan kunantikan hari kesusahan, yang akan menimpa bangsa yang menyerang kami. 17Sekalipun
pohon ara tidak berbunga, pokok anggur tidak berbuah, dan hasil pohon zaitun
mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing
domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu dalam kandang, 18
aku akan bersukacita di dalam TUHAN, bersorak-sorai di dalam Allah
Penyelamatku. 19ALLAH Tuhanku itu kekuatanku; Ia membuat kakiku
seperti kaki rusa, Ia membuat aku mampu berjalan di tempat tinggi
Demikianlah Sabda Tuhan
(Umat menjawab: Syukur kepada Allah)
06. Mendalami Teks
(Fasilitator mengajak
peserta untuk membaca ulang teks tersebut secara pribadi sambil membiarkan diri
disapa oleh Sabda Tuhan. Setelah cukup waktunya, pemandu mengajak peserta untuk
merenungkan sekaligus mendalami teks Kitab Suci bersama-sama misalnya dengan
pertanyaan-pertanyaan penuntun berikut ini.)
(1) Apa yang
dikatakan Habakuk dalam doa dan harapannya kepada Tuhan? (ayat 2).
(2) Apa
simbol-simbol yang muncul dalam puisi doa Habakuk? (ayat 4-6.8-11.19).
(3) Kata-kata mana
saja yang sering diulang-ulang dalam puisi doa Habakuk? (cahaya, bumi,
sungai, gunung, anak panah, gemetar/bergetar, murka).
(4) Apa kata-kata
Habakuk yang menunjukkan sikap harapan akan Tuhan Allah yang menyelamatkan? (ayat
17-19).
07. Rangkuman
(1) Perikop ini
berisi tentang doa berupa puisi dari nabi Habakuk untuk memuji keagungan Allah
yang memakai kekuatan-kekuatan alam. Allah bersedia menghukum musuh dan
menyelamatkan umat-Nya. Dengan puisi doanya, nabi Habakuk menunjukkan bahwa
Allah sendirilah yang berjuang melawan bangsa asing dan mengakhiri kekaisaran
yang jahat. Habakuk menutup kitab nubuatnya dengan nada harapan. Ia melihat
bahwa Allah terus-menerus mengusahakan yang terbaik untuk umat yang beriman
kepada-Nya. Harapan itu tumbuh dan
berkembang bukan pertama-tama karena telah menerima aneka macam hal baik
menurut sudut pandang manusiawi. Harapan itu tumbuh dan berkembang justru
karena ada dialog secara terus-menerus dengan Allah, Sang Penyelenggara
Kehidupan, sekaligus Sang Sumber Keadilan.
(2) Doa Habakuk dalam bentuk puisi tersebut penuh
dengan simbol-simbol alam, misalnya sampar berjalan dan wabah mengikutinya,
matahari dan bulan berhenti di tempat kediamannya. Selain itu juga ada
kata-kata tertentu yang diulang-ulang, seperti cahaya, bumi, sungai, dan
sebagainya. Simbol-simbol alam tersebut mau menunjukkan keagungan Allah sebagai
Pencipta dan Penyelamat.
(3) Doa
merupakan usaha yang terus-menerus dari manusia untuk berdialog dengan Allah.
Hanya melalui dialog dengan Allah, maka aneka macam pertanyaan, keberatan,
sikap iman dan keterbukaan terhadap semua harapan untuk dapat mengenali,
menafsirkan, dan memahami jalannya sejarah akan diperoleh seorang beriman.
(4) Habakuk
menunjukkan pengharapan dan sukacitanya akan Allah Maha Adil yang melimpahkan
keselamatan. Terhibur dengan hal itu, maka nabi Habakuk menyerukan ayat-ayat
terakhir dengan penuh harapan. Sekalipun bangsanya mengalami aneka kesulitan,
namun Habakuk tetap berharap bahwa Allah adalah kekuatan mereka. Dan harapan
Habakuk itu mampu mendatangkan sukacita iman.
B. MEDITATIO
= MERENUNGKAN
08. Merenungkan
(Setelah selesai tahap
Lectio dan pendalaman, fasilitator mengajak peserta melangkah ke tahap
Meditatio atau merenung. Pertanyaan penuntun untuk permenungan dan sharing,
direnungkan selama kurang lebih 3 menit, dalam suasana hening lalu disharingkan
dengan tuntunan pertanyaan berikut ini. Tidak mesti semuanya dijawab satu per satu
tetapi bisa sharingkan mana pertanyaan yang sesuai untuk setiap pribadi.)
(1) Kondisi-kondisi atau situasi-situasi ketidakadilan seperti apa
yang membuat saya kehilangan sukacita?
(2) Pengalaman apa saya yang membuat saya bersukacita atas sikap Allah
yang adil?
(3) Bagaimana kegiatan doa dan aktivitas rohani lainnya memberikan
kekuatan bagi iman saya?
09. Sharing Pengalaman Iman
(Fasilitator mengajak
peserta untuk mensharingkan hasil permenungannya berdasarkan
pertanyaan-pertanyaan penuntun tadi. Agar tidak terlalu lama, maka sharing ini
bisa dibatasi untuk beberapa orang saja. Fasilitator mengingatkan peserta agar
di dalam sharing harus menggunakan kata “saya” atau “aku” dan bukan” kita” atau
‘kami” untuk menghindari kesan menggurui, mengajar atau mengkotbahkan
orang lain. Fasilitator berperan mengatur jalannya sharing dan mencatat
poin-poin penting dari sharing peserta untuk dijadikan bahan penegasan.)
10. Penegasan Fasilitator
(1) Kondisi-kondisi
yang membuat manusia kehilangan sukacita biasanya terjadi dalam kehidupan yang
serba sulit, susah dan menderita. Perjalanan sejarah kelam dan penuh nestapa
terjadi pada berbagai bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya dan
keluarga. Selain itu ada juga persoalan yang lain misalnya kemarau panjang,
virus ternak, cuaca ekstrem, banjir bandang, gunung meletus dan sebagainya.
Kisah nabi Habakuk mengajak kita untuk merenungkan bahwa meskipun semua
tampaknya tenggelam dalam kehancuran atau kematian, namun iman kepada Allah
selalu membantu umat beriman untuk tetap berharap pada bantuan-Nya.
(2) Kesadaran
untuk menjadi manusia yang bersukacita karena Allah yang adil itu muncul jika
manusia memiliki pengalaman iman akan Allah dalam hidupnya. Di mana ketika
orang mengalami kesulitan, Allah hadir memberikan pertolongan dan ketika menghadapi bahaya, Allah hadir
menyelamatkan. Kesadaran ini muncul jika manusia selalu membangun relasi dan
dialog dengan Allah dalam doa dan sikap iman yang penuh syukur kepada Allah
yang adil. Jika tidak bersyukur maka manusia akan kehilangan sukacitanya.
(3) Hal yang perlu
diupayakan dan dilakukan manusia untuk memiliki iman yang tangguh adalah dengan
cara tekun berdoa dan tetap berjuang terutama dalam situasi krisis atau
masa-masa sulit. Sesungguhnya, iman yang benar adalah iman yang terus-menerus
menaruh kepercayaan kepada Allah yang adil.
C. ORATIO=DOA
(Setelah mendengarkan
dan mendalami Sabda Tuhan dan mensharingkan pengalaman imannya, peserta diajak
menanggapi Sabda Tuhan dengan menyampaikan doa permohonan. Fasilitator mengajak
peserta untuk menyampaikan doa secara spontan sebagai tanggapan pribadi atas
Sabda Tuhan. Setelah semua peserta menyampaikan doa-doa permohonannya,
fasilitator mengajak para peserta untuk
mendoakan doa “Bapa Kami”.)
D. ACTIO=AKSI ATAU
TINDAK NYATA
(Fasilitator mengajak
peserta untuk merencanakan aksi atau tindakan nyata)
P : Sesuai dengan sub tema Minggu Pertama, marilah
kita merencanakan aksi bersama: Buat apa, siapa, bersama siapa, kapan, di mana
dan bagaimana?
III. PENUTUP
11. Doa Penutup
P : Marilah kita berdoa,
Allah Bapa yang Maha Kuasa dan Kekal, kami telah
merenungkan dan mendalami Firman-Mu dalam pertemuan keempat ini. Kami mohon
semoga Roh Kudus-Mu yang telah Engkau curahkan kepada kami mampu menuntun
langkah kami dalam mewujudkan iman yang benar agar menjadi manusia yang
bersukacita karena Engkau sungguh Allah yang Maha Adil. Dengan pengantaraan
Kristus Tuhan kami, kini dan sepanjang masa.
U : Amin.
12. Tanda Salib
13. Lagu Penutup

Komentar
Posting Komentar