Mengenal Orang Jawa, Sunda, Betawi Dan Madura ( Penghuni Pulau Jawa)
Mengenal Orang Jawa, Sunda, Betawi Dan Madura
( Penghuni Pulau Jawa)
Tahun 2000 silam, saat
masih kuliah di Malang saat libur kami jalan-jalan ke Jakarta. Suatu pagi saya
di perkenalkan ke tetangga kalau saya datang dari Jawa. Dalam hati saya
bertanya, Jakarta juga bagian dari pulau Jawa mengapa saya di perkenalkan
demikian ?
Saat di Malang kami
memiliki tetangga orang Madura, dalam berbagai kesempatan ia selalu
memperkenalkan diri sebagai orang Madura bukan orang Jawa, padalah Madura
bagian dari Jawa Timur.
Hal yang sama, 3 tahun
lalu saya menjadi MC untuk orang nikah, kebetulan istrinya orang Jawa dan si
laki-laki orang NTT. Saat itu saya coba menyanyikan lagu sewo tuto yang di
populerkan oleh Didi
Kempot dan saya minta si
perempuan untuk melanjutkan. Saat itu si pengantin perempuan protes dia bukan
orang Jawa tetapi orang Sunda.
Jawa adalah sebuah
pulau di Indonesia yang terletak di kepulauan Sunda Besar dan merupakan pulau
terluas ke-13 di dunia. Jumlah penduduk di Pulau Jawa sekitar 150 juta. Pulau
Jawa dihuni oleh 60% total populasi Indonesia.
Pulau Jawa memiliki
luas sekitar 126.700
km dengan populasi sekitar 160.293.748 jiwa,
dengan jumlah populasi itu menjadikan Pulau Jawa sebagai Pulau dengan jumlah
penduduk terbanyak dan terpadat di Indonesia. Jawa; Pulau ini di huni oleh paling tidak oleh empat
etnis besar yaitu, Jawa, Sunda; Madura;
Betawi.
Keempat etnis besar
ini memiliki sejarah, karakter yang berbeda. Untuk mengetahui perbedaan keempat
etnis besar di pulau Jawa ini, marilah ikuti
ulasan berikut ini
1. Etnis Jawa
Nama jawa berasal
dari kata "Yava" yang artinya jelai atau tanaman padi-padian. Hal ini
mengarah kepada nama pulau yavadwipa yang sekarang disebut pulau Jawa. Pusat
peradaban orang Jawa ada di dekat gunung-gunung aktif yang subur.
Kabarnya Jawa feodal. Hal ini dapat kita nilai dari bahasanya. Orang Jawa terkenal pekerja keras, ambisius, dan
cukup serius. Orang Jawa ini dikenal
banyak memiliki pencapaian seperti membangun Candi Borobudur, Candi Prambanan,
Kompleks Dieng, dan lain sebagainya.
Selain itu orang Jawa juga tercatat memiliki jejak imperialis dilihat dari Kerajaan Singasari dan Majapahit. Orang Jawa juga terkenal mau hidup susah dan gemar merantau.
Stereotip negatif orang Jawa yang paling umum adalah tidak terus terang dan bermuka dua. Dalam sejarah orang Jawa, dikenal ahli dalam serangan tiba-tiba dan gerilya.
Sebut saja Perang Diponegoro, Perang Majapahit melawan Mongol, Perang Bubat dan hampir semua perang yang terjadi berawal dari orang Jawa yang menyerang tanpa pernyataan perang.
Selain itu, Nenek Moyang bangsa Jawa juga terkenal dengan siasat politik tusuk menusuknya. Hal itu dapat kita lihat dalam sejarah bahwa orang Jawa sering berperang dengan sesamanya dikenal sebagai bangsa yang ekspansionis.
2. Orang Sunda
Nama Sunda berasal dari kata "Sund" yang artinya bercahaya. Hal ini mengarah kepada karakter kulit orang Sunda yang lebih putih ketimbang pendatang dari Cola India maupun tetangga mereka yakni orang Jawa.
Pusat peradaban orang Sunda ada di dataran tinggi dan orang-orang Sunda umumnya memiliki kulit yang lebih terang.
Orang Sunda terkenal dengan Keegaliterannya, Tradisi egaliter atau tradisi mengakui bahwa manusia itu sederajat. Orang Sunda lebih demokratis, egaliter termasuk dalam hidup berumah tangga.
Orang Sunda terkenal lebih santai dan humoris walau tidak sebanyak orang Jawa, orang Sunda sangat terkenal di bidang Entertainment.
Tentunya ini bukan hanya dikarenakan tampang mereka yang rupawan, namun juga humor mereka yang diterima semua kalangan.
Stereotip negatif orang Sunda yang paling umum adalah malas, kurang ambisius, dan hanya mengandalkan wajah.
Dalam sejarah kerajaan-kerajaan Sunda tidak begitu ekspansionis bahkan walaupun ada wilayahnya yang dicaplok oleh orang Jawa.
Stereotip mereka yang kurang ambisius ini mungkin lahir dari keengganan banyak orang Sunda untuk merantau karena menganggap tanah Pasundan sendiri sudah sangat mencukupi untuk mereka. Ditambah lagi kondisi tanah Pasundan yang jarang perang antar Kadipaten.
3. Orang Jakarta – Betawi
Orang Betawi tinggal di wilayah Jakarta dan daerah sekitarnya. Kemunculan Betawi sendiri pertama kali pada abad ke-18 sebagai sebuah komunitas dari sejumlah etnis yang tinggal di Batavia (sekarang Jakarta)
Ada beberapa versi soal asal-usul kata Betawi. Salah satunya dari nama lawas Jakarta, Batavia. Nama Betawi berasal dari kata Batavia, yang lama-kelamaan berubah menjadi Batavi, kemudian berubah menjadi Betawi.
Secara historis, suku Betawi lahir karena adanya percampuran genetik atau akulturasi budaya antara masyarakat yang tinggal di Batavia. Setelah terjadi akulturasi budaya, adat-istiadat, tradisi, dan bahasa, akhirnya muncul sebuah komunitas besar di Batavia yang dinamakan Betawi.
Petani Betawi kerap membuat orang-orangan sawah untuk mengusir burung. Orang-orangan ini diberi baju serta topi supaya tidak ada burung yang berani mendekat..
Merik untuk disimak bahwa ketika panenan tiba, para petani Betawi akan bergembira, yang dirayakan dengan mengarak barongan disebut ondel-ondel. Ondel-ondel ini diarak dengan membunyikan gamelan. Saat ini, ondel-ondel menjadi ciri khas tersendiri bagi orang-orang Betawi.
Orang Betawi Berbicara blak-blakan atau ceplas ceplos. Mereka cenderung pada inti pembicaraan dan tidak suka bertele-tele.
Tak jarang jika orang lain yang mendengar gaya bicara orang Betawi menganggap mereka kasar dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Orang Betawi Suka mengenakan pakaian tradisional. Orang dewasa yang lahir di lingkungan Betawi sangat suka menggunakan pakaian tradisional karena menjadi ciri khas bangsa sejak dulu.
Masyarakat Betawi dikenal memiliki kebiasaan tidak suka merantau dan lebih suka bekerja di wilayahnya sendiri. Orang Betawi Suka berpantun dan jago pencak silat Mereka juga dikenal tegas dan berani. Hal itu dapat dilihat dari cara mereka berbicara pada orang lain, dimana mereka terlihat sangat menggebu-gebu, bahkan cenderung frontal untuk mengemukakan maksud dan tujuannya.
Dalam pergaulan sehari-hari, orang Betawi sering menyebut diri sebagai orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong
4. Orang Madura
Orang Madura berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya (Pulau Puteran, Pulau Gili Iyang, Pulau Sapudi, Pulau Gili Raja, Pulau Giligenting, Pulau Raas, dan lain-lain). Suku Madura adalah suku perantau yang banyak tersebar di beberapa wilayah-wilayah Indonesia. Selain di Indonesia, beberapa orang Madura perantauan juga dapat ditemui di negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura.[2]
Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang mempunyai etos kerja yang tinggi, ramah, giat bekerja dan ulet, mereka suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang perantauan asal Madura umumnya berprofesi sebagai pedagang, misalnya: berjual-beli besi tua, pedagang asongan, dan pedagang pasar
Orang Madura dikenal dengan intonasi bicaranya yang keras dan terdengar kasar. Walaupun begitu mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).[butuh rujukan] Sekali pun berpendapatan kecil pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji.
Orang Madura memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura, tetapi tradisi ini lambat laun melemah seiring dengan terdidiknya kaum muda di pelosok desa, dahulu mereka memakai kekuatan emosional dan tenaga saja, tetapi kini mereka lebih arif dalam menyikapi berbagai persoalan yang ada.
…….Dari berbagai sumber…..
Kupang, 11 Juli 2024
Kayetanus Korbaffo
(Guru SMPK Sta.Theresia Kupang/Penulis)
Komentar
Posting Komentar