DI PERSIMPANGAN JALAN !
Setiap saat saya dihadapkan pada situasi dan kondisi dimana saya
dituntut untuk memilih. Berat memang ketika harus memilih apalagi yang tersedia
sama-sama memiliki plus minusnya. Saat-saat seperti itu, saya seolah berdiri
disebuah persimpangan jalan dan saya bingung jalur mana yang mesti ku lalui.
Situasi seperti itu menuntut kepekaan untuk mendengar apa kata
suara hati. Ya ! suara hati mestinya menjadi kompas yang menunjukan jalur yang
tepat, sebab ketika salah jalur resikonya tersesat atau menemui jalan buntu.
Saya menjumpai beberapa anak yang baru selesai menamatkan
pendidikannya di SMA / SMK dan sedang berjuang masuk PT. Aneh bin ajaib
kebanyakan anak-anak calon mahasiswa yang saya jumpai, saat ditanya tujuan
kuliah atau cita-cita mereka bahkan tidak memiliki cita-cita, pokoknya kuliah.
Mereka (calon mahasiswa) berada dipersimpangan jalan dan sangat
dibutuhkan kompas sehingga mereka tidak salah memilih jurusan/asal memilih
jurusan / asal kuliah / asal sekolah.
Kenyataan menunjukan bahwa mereka yang asal memilih jurusan,
seusai sekolah / kuliah, ia kembali ke persimpangan jalan, bahkan ia lebih
linglung kearah mana ia harus mulai langkah pertama. Terkadang ada yang
akhirnya menemui jalan buntu, mau kembali ke titik awal, rasanya berat dan
tidak mungkin.
Dipersimpangan jalan ada sekian cabang dan hanya ada satu jalur
yang mesti dilalui saat itu, dan pilihan itu membutuhkan kepekaan dalam
mendengar apa kata suara hati. Pengalaman menunjukan bahwa terkadang saya
menelan pil pahit karena salah memutuskan jalur yang saya lalui. Pil pahit itu
seharusnya tidak menjadi milik saya kalau saja aku mendengarkan suara hati
lewat bisikan angin malam.
Sekali lagi, ketika berada diprsimpangan jalan, jangan paksakan
diri untuk melangkah kalau kalau masih ada keraguan.
Tanus Korbaffo, 15.19
2021-05-03
Komentar
Posting Komentar