CERITERA BIJAK
Seekor Kura-Kura
Seorang nenek sedang berjalan-jalan sambil menggandeng cucunya di jalan pinggiran pedesaan. Mereka menemukan seekor kura-kura. Anak itu mengambilnya dan mengamat-amatinya. Kura-kura itu segera menarik kakinya dan kepalanya masuk dibawah tempurungnya. Si anak mencoba membukanya secara paksa.
“Cara demikian tidak akan berhasil, nak!” kata nenek. “Saya akan
coba mengajarimu.”
Mereka pulang. Sang nenek mencoba meletakkan kura-kura didekat
perapian. Beberapa menit kemudian kura-kura itu mengeluarkan kakinya dan kepalanya
sedikit demi sedikit. Ia mulai merangkak bergerak mendekati si anak.
“Janganlah mencoba memaksa melakukan segala sesuatu, nak!”,
nasehat nenek. “Berilah kehangatan dan keramahan, ia akan menanggapinya.”
Ingatlah selalu nasehat nenek diatas bila anda merasa mulai
dijauhi oleh teman, pacar atau bahkan isteri anda!
Cincin Ajaib
Seorang bapak tua yang memiliki 3 orang putra, sedang bingung. Ia merasa memiliki sebuah cincin yang dianggapnya bertuah karena sejak digunakan selalu membawa keberuntungan & kesuksesan bagi dirinya. Cincin itu rencananya ingin diwariskan kepada salah satu anaknya, tapi dia khawatir anak yg lain akan mrasa iri. Sebagai solusi, ia pergi ke tukang cincin & membuat 2 cincin yang sama seperti cincin ajaib miliknya.
Keesokan harinya, ia memanggil ketiga putranya, lalu berkata,
“Anak2ku, cincin ini sama baiknya, siapa yg memakainya maka dia akan
beruntung”.
Tak lama berselang, sang bapak tua itu meninggal dunia. Seiring
berjalannya waktu, ketiga putranya tahu bahwa hanya satu cincin yang asli.
Mereka lalu pergi ke
seorang hakim yang bijaksana untuk mencari tahu mana cincin yang asli &
meminta jalan keluar dan pembuktian.
Setelah merenung &
berpikir, hakim bijaksana itu berkata: “Aku tidak dapat menolong kalian, tapi
aku tahu sebuah cara utk memastikan cincin yg asli.”
Pakailah cincin kalian
masing2..
Kalian yang hrs membuktikan bahwa cincin kalian asli, yaitu dengan bertindak
& bekerja dengan baik sehingga kalian menjadi orang yang beruntung”.
Ketiganya bertekad
untuk membuktikan cincin mrk yg asli & bertuah.
Mereka berusaha membuktikan pada diri sendiri bahwa keberhasilan &
keberuntungan mrk adalah karena cincin ajaib asli pemberian bapak mereka.
Setelah beberapa tahun
berlalu, sukses demi sukses mereka raih bersama. Akhirnya merekapun sadar &
mengerti bahwa bukan cincin yang membuat mereka sukses, melainkan karena mereka
sendiri.
Bukan sesuatu di luar
diri Anda yg membuat Anda sukses atau beruntung. Bukan cincin Anda, busana
Anda, atau apapun yg Anda kenakan.
Tetapi yg menentukan
keberhasilan adalah keuletan, Doa, bersyukur,dan Usaha diri Anda sendiri.
Anak Kecil Penjual Bunga
Di sebuah pusat perbelanjaan ada seorang anak perempuan kecil yang menjual bunga mawar kepada orang-orang yang lewat. Anak itu biasa berjualan di sana dari siang hari hingga petang.
Suatu siang saat melewati pusat perbelanjaan, anak kecil itu
mendekatiku. ‘Om mau beli bunga mawar, Om? Bisa buat istri atau pacarnya Om,
murah kok lima ribu aja.’ kata anak itu. Kutolak dengan halus tawaran itu
karena aku terburu-buru. Sempat kulihat di keranjang anak itu masih tersisa
sekitar dua puluh tangkai mawar.
Sore harinya aku lewat pusat perbelanjaan itu lagi dan melihat
si anak kecil masih menawarkan bunganya. Ia menawarkan bunga lagi padaku,
tampaknya lupa siang tadi telah menawarkan bunga. Kutengok keranjangnya masih
sekitar empat belas tangkai mawar.
Aku iba dengannya tapi karena aku masih memiliki urusan dan
tidak membutuhkan bunga, kutolak dengan halus lalu kuberi anak itu selembar
uang lima ribu. Anak itu mengambil uangku lalu memberikannya pada seorang
pengemis di dekat sana.
Kutanya anak itu, ‘Kenapa uangnya dikasih ke pengemis? Adik
nolak rezeki?’
Anak itu menjawab, ‘Saya ke sini karena disuruh ibu jualan, yang
ke sini buat minta-minta pengemis itu. Om salah kasih rezeki.’
Seorang anak sedang
bermain dan menemukan kepompong kupu-kupu di sebuah dahan yang rendah.
Diambilnya kepompong tersebut dan tampak ada lubang kecil disana.
Anak itu tertegun
mengamati lubang kecil tersebut karena terlihat ada seekor kupu-kupu yang
sedang berjuang untuk keluar membebaskan diri melalui lubang tersebut. Lalu
tampaklah kupu-kupu itu berhenti mencoba, dia kelihatan sudah berusaha
semampunya dan nampaknya sia-sia untuk keluar melalui lubang kecil di ujung
kempompongnya.
Melihat fenomena itu,
si anak menjadi iba dan mengambil keputusan untuk membantu si kupu-kupu keluar
dari kepompongnya. Dia pun mengambil gunting lalu mulai membuka badan kepompong
dengan guntingnya agar kupu-kupu bisa keluar dan terbang dengan leluasa.
Begitu kepompong
terbuka, kupu-kupu pun keluar dengan mudahnya. Akan tetapi, ia masih memiliki
tubuh gembung dan kecil. Sayap-sayapnya nampak masih berkerut. Anak itu pun
mulai mengamatinya lagi dengan seksama sambil berharap agar sayap kupu-kupu
tersebut berkembang sehingga bisa membawa si kupu-kupu mungil terbang menuju
bunga-bunga yang ada di taman.
Harapan tinggal
harapan, apa yang ditunggu-tunggu si anak tidak kunjung tiba. Kupu-kupu
tersebut terpaksa menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak di sekitarnya
dengan tubuh gembung dan sayap yang masih berkerut serta tidak berkembang
dengan sempurna. Kupu-kupu itu akhirnya tidak mampu terbang seumur hidupnya.
Si anak rupanya tidak
mengerti bahwa kupu-kupu perlu berjuang dengan usahanya sendiri untuk
membebaskan diri dari kepompongnya. Lubang kecil yang perlu dilalui akan
memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu masuk ke dalam sayap-sayapnya sehingga dia
akan siap terbang dan memperoleh kebebasan.
Kentang, Telur, dan Biji Kopi
Pada suatu hari, ada seorang anak perempuan yang mengeluh kepada
ayahnya bahwa hidupnya sengsara dan bahwa dia tidak tahu bagaimana dia akan
berhasil. Dia lelah berjuang dan berjuang sepanjang waktu.Tampaknya hanya salah
satu dari masalahnya yang dapat ia selesaikan, kemudian masalah yang lainnya
segera menyusul untuk dapat diselesaikan.
Ayahnya yang juga seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi
tiga panci dengan air dan menaruhnya di atas api yang besar. Setelah tiga panci
tersebut mulai mendidih, ia memasukkan beberapa kentang ke dalam sebuah panci,
beberapa telur di panci kedua, dan beberapa biji kopi di panci ketiga.
Kemudian ia duduk dan membiarkan ketiga panci tersebut di atas
kompor agar mendidih, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kepada putrinya.
Putrinya mengeluh dan tidak sabar menunggu, bertanya-tanya apa yang telah
ayahnya lakukan.
Setelah dua puluh menit, ia mematikan kompor tersebut. Ia
mengambil kentang dari panci dan menempatkannya ke dalam mangkuk. Ia mengangkat
telur dan meletakkannya di mangkuk.
Kemudian ia menyendok kopi dan meletakkannya ke dalam cangkir.
Lalu ia beralih menatap putrinya dan bertanya, “Nak, apa yang kamu lihat?”
“Kentang, telur, dan kopi,” putrinya buru-buru menjawabnya.
“Lihatlah lebih dekat,
dan sentuh kentang ini”, kata sang ayah. Putrinya melakukan apa yang diminta
oleh ayahnya dan mencatat di dalam otaknya bahwa kentang itu lembut. Kemudian
sang ayah memintanya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang
kulitnya, ia mendapatkan sebuah telur rebus. Akhirnya, sang ayah memintanya
untuk mencicipi kopi. Aroma kopi yang kaya membuatnya tersenyum.
“Ayah, apa artinya
semua ini?” Tanyanya.
Kemudian sang ayah
menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi masing-masing telah menghadapi
kesulitan yang sama, yaitu air mendidih.
Namun, masing-masing
menunjukkan reaksi yang berbeda.
Kentang itu kuat dan
keras. Namun ketika dimasukkan ke dalam air mendidih, ketang tersebut menjadi
lunak dan lemah.
Telur yang rapuh,
dengan kulit luar tipis melindungi bagian dalam telur yang cair sampai
dimasukkan ke dalam air mendidih. Sampai akhirnya bagian dalam telur menjadi
keras.
Namun, biji kopi tanah
yang paling unik. Setelah biji kopi terkena air mendidih, biji kopi mengubah
air dan menciptakan sesuatu yang baru.
“Kamu termasuk yang
mana, nak?” tanya sang ayah kepada putrinya.
“Ketika kesulitan
mendatangimu, bagaimana caramu dalam menghadapinya? Apakah kamu adalah sebuah
kentang, telur, atau biji kopi?”
Pesan Moral dari
cerita ini adalah Dalam hidup ini, Banyak sesuatu yang terjadi di sekitar kita.
Banyak hal-hal yang terjadi pada kita. Tetapi satu-satunya hal yang benar-benar
penting adalah apa yang terjadi di dalam diri kita.
Tukanng Bangunan
Alkisah, seorang Tukang Kayu yang merasa sudah tua dan berniat untuk pensiun dari profesinya sebagai Tukang Kayu yang sudah ia jalani selama puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tuanya bersama istri serta anak cucunya. Sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, ia sebelumnya menyadari bahwa ia akan kehilangan penghasilan rutin yang setiap bulan ia terima. Bagaimana pun itu, ia lebih merasakan dan mementingkan tubuhnya yang sudah termakan usia karena ia merasa tidak dapat lagi melakukan aktivitas seperti tahun-tahun sebelumnya.
Suatu hari, kemudian ia mengatakan rencana
ingin pensiun kepada mandornya. “Saya mohon maaf Pak, tubuh saya rasanya sudah
tidak seperti dulu, saya sudah tidak kuat lagi untuk menopang beban-beban berat
di pundak saya saat bekerja..”.
Setelah sang mandor mendengar niat Tukang Kayu
tersebut, ia merasa sedih. Karena sang mandor akan kehilangan salah satu Tukang
Kayu terbaiknya, ahli bangunan handal yang dimiliki dalam timnya. Namun apalah
daya, mandor tidak dapat memaksa untuk mengurungkan niat si Tukang Kayu untuk
berhenti bekerja.
Terlintas dalam fikiran sang mandor, untuk
meminta permintaan terakhir sebelum dirinya pensiun. Sang mandor memintanya
untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk yang terakhir kalinya. Untuk
sebuah proyek dimana sebelum Tukang Kayu tersebut berhenti bekerja.
Akhirnya, dengan berat hati Tukang Kayu
menyanggupi permintaan mandornya meskipun ia merasa kesal karena jelas-jelas
dirinya sudah bicarakan akan segera pensiun.
Di balik pengerjaan proyek terakhirnya, ia
berkata dalam hati bahwa dirinya tidak akan mengerjakannya dengan segenap hati.
Sang mandor hanya tersenyum dan mengatakan pada Tukang Kayu pada hari pertama
ketika proyeknya dikerjakan, “Seperti biasa, aku sangat percaya denganmu. Jadi,
kerjakanlah dengan yang terbaik. Seperti saat-saat kemarin kau bekerja
denganku. Bahkan, dalam proyek terakhir ini kamu bebas membangun dengan semua
bahan-bahan yang terbaik yang ada”.
Tukang Kayu itupun akhirnya memulai pekerjaan
terakhirnya dengan malas-malasan. Bahkan dengan asal-asalan ia membuat rangka
bangunan. Ia malas mencari, maka ia menggunakan bahan-bahan bangunan
berkualitas rendah. Sangat disayangkan, karena ia memilih cara yang buruk untuk
mengakhiri karirnya.
Hari demi hari berlalu, dan akhirnya, rumah
itupun selesai. Ditemani Tukang Kayu tersebut, sang mandor datang memeriksa.
Ketika sang mandor memegang gagang daun pintu depan hendak membuka pintu, ia
lalu berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu”.
Betapa kagetnya si Tukang Kayu. Ia sangat
menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia
akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Akibatnya, sekarang ia harus
tinggal di sebuah rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.
Hidup
adalah proyek yang kau kerjakan sendiri.
Suara Dari Kejauhan
Hari itu Tino bersama
ayahnya mengisi liburan jalan-jalan hutan lindung yang tidak jauh desanya. Tino
sangat senang karena baru pertama kali jalan-jalan ke tempat itu.
Entah mengapa
tiba-tiba kaki Tino tersandung akar sebatang pohon dan jatuh. “”Aduh!”
Jeritannya Tino memecah keheningan hutan itu. Tino terkejut ketika mendengar
suara dikejauhan menirukan suaranya, “”Aduhh!””
Mendengar suara itu,
Tino kecil berteriak“”Hei, siapa kamu?”” Dan jawaban yang terdengar adalah
“”Hei, siapa kamu?”” karena kesal mengetahui suaranya ditirukan, Tino
berseru “Pengecut kamu!” Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana
membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, “apa yang
terjadi?”
Dengan penuh kearifan, sang ayah tersenyum, “Anakku, coba
perhatikan” lelaki itu berkata keras, “”Saya kagum padamu!”” suara dikejauhan
menjawab, ““Saya kagum padamu!”” Sekali lagi sang ayah berteriak “”Kamu sang
juara!”” Dan suara itu kembali menjawab, ““Kamu sang juara!””
Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap tidak
mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, “Suara itu adalah GEMA, tetapi
sesungguhnya itulah KEHIDUPAN”.
“Kehidupan memberikan umpan balik atas semua ucapan dan
tidakanmu, nak”, jelas sang ayah. “Dengan kata lain, kehidupan kita adalah
sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin banyak
mendapatkan cinta didunia ini, ya ciptakanlah cinta didalam hatimu. Bila kamu
menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkanlah kemampuan
didalam dirimu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau
berikan padanya. Ingat anakku, hidup bukan sebuah kebetulan, tetapi sebuah
bayangan dari dirimu sendiri”, tutur sang ayah…
Malaikat Penjaga
Suatu hari ada seorang bayi yang akan dilahirkan ke dunia.
Sang bayi bertanya kepada Tuhan “Para Malaikat mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tapi bagaimana cara saya hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah?”
Tuhan menjawab “Saya telah memilih satu malaikat untukmu, ia
akan menjaga dan mengasihimu.”
Sang bayi berkata “Tapi disini..,di surga…..yang saya lakukan hanya bernyanyi
dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia.”
Tuhan menjawab lagi “Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum
untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi
lebih bahagia.”
Sang bayi bertanya lagi, “Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang
berbicara kepadaku, saya tidak mengerti bahasa mereka?”
Tuhan menjawab “Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa
yang paling indah yang pernah kamu dengar; dan penuh kesabaran dan perhatian
dia akan mengajarkan bagaimana kamu berbicara.”
“Saya mendengar di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?”
“Malaikatmu akan melindungimu,walaupun hal itu mengancam jiwanya.”
“Pasti saya akan merasa sedih karena tidak melihatMu lagi.”
“Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku, dan akan
mengajarkan kepadamu bagaimana kau bisa kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya
aku selalu berada disisimu.”
Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari bumi dapat terdengar, dan
sang anak bertanya perlahan kepada Tuhan, “Tuhan……jika saya harus berangkat
sekarang, bisakah Engkau memberitahu aku nama malaikat tersebut?”
Jawab Tuhan, “Kamu akan memanggil malaikatmu….. IBU…”
Lima Menit Lagi
Ada seorang nenek yg duduk di dekat seorang pria. Mereka sedang
mengamati anak dan cucunya bermain di taman kota.
“Lihatlah, gadis kecil yg berbaju kuning itu cucuku,” kata sang
nenek sambil menunjuk ke arah gadis kecil yg sedang bermain ayunan.
“Wah cantik sekali cucu anda,” jawab pria itu. “Anda lihat anak
laki-laki yg sedang bermain pasir mengenakan jaket berwarna cokelat? Dia
anakku,” ujar pria itu.
Sambil memandangi jam tangannya, pria itu memanggil anaknya dan
menyuruhnya untuk segera pulang.
“Ayah, beri aku waktu lima menit lagi ya. Aku belum puas bermain,” kata anaknya
dengan wajah memelas.
“Baiklah, lima menit lagi,” jawabnya.
Sang anak kembali bermain pasir dengan riangnya. Lima menit
kemudian, pria itu berdiri dan memanggil anaknya kembali, “Nak, ayo pulang,
sudah lima menit berlalu.”
Lagi-lagi anaknya memohon, “Ayah, lima menit lagi ya. Kan hanya
lima menit saja. Boleh ya, ayah.”
Pria itu hanya menggangguk menyetujui permintaan anaknya.
“Wah, anda ternyata seorang ayah yg sabar ya,” kata nenek itu.
Pria itupun terseyum kecil lalu menjawab, “Anak sulungku
terbunuh oleh sopir yg ugal-ugalan saat sedang bermain di taman. Aku tidak
pernah mempunyai waktu yg cukup untuk menemainya bermain. Untuk sekarang ini,
aku akan memberikan seluruh waktuku yg ada untuk anakku meskipun hanya lima
menit lagi. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yg sama.
Mungkin bagi anakku, dia mendapat bonus waktu lima menit untuk
bermain pasir, bermain ayunan dan bermain yg lainnya. Padahal sesungguhnya
akulah yg mendapat waktu tambahan untuk bisa terus melihatnya bermain,
menikmati kebersamaan dan melihat canda tawanya.”
Hidup ini bukanlah suatu perlombaan. Hidup adalah tentang
membuat skala prioritas. Prioritas apa yg kita miliki saat ini? Berikanlah pada
seseorang yg kita kasihi, lima menit saja dari waktu yg kita miliki dan kita
pastilah tidak akan menyesal selamanya.
Komentar
Posting Komentar