Bergurulah Pada Yang Mengalami Bukan Yang Mengatakan !
Bergurulah Pada Yang Mengalami Bukan Yang Mengatakan !
Kalau ingin berguru arti sebuah penantian, tanyakan pada ibu
Tiwi yang menanti dengan cemas kelahiran putra pertamanya. Kalau ingin belajar
soal sakit hati, belajarlah pada Risti yang diputus pacarnya setelah 3 tahun
berpacaran. Kalau ingin belajar apa itu kesabaran, belajarlah pada ibu Lia yang
suaminya pergi sore pulang pagi. Kalau ingin belajar apa itu terlambat,
belajarlah pada penumpang pesawat yang tiba di bandara dan pesawat itu baru
terbang 1 menit.
Kalau mau belajar apa itu pengorbanan, belajarlah pada Yesus
Sang Guru Ilahi yang mencintai sampai terluka bahkan mencintai sampai tetesan
darah terakhir di palang penghinaan. Lewat Yesus yang saya Imani sebagai Tuhan
dan Guru, saya belajar memberi diri meski pemberian saya itu tak sebanding
dengan pengorbanan-Nya.
Memang ! kalau ingin padi segudang, jalan satu- satunya adalah
menguburkan 100 KG padi ke tanah. Kalau menginginkan lezatnya buah advokad,
maka satu buah advokad ditanganmu harus ditanam. Yesus menyadari pentingnya
pengosongan diri, pentingnya merelekan diri dalam makam untuk menghasilkan buah
melimpah.
Buah lezat nan menggiurkan yang diambil si Adam mestinya
dikembalikan ke posisinya. Dinamika pengembalian ke posisi awal tidak semudah
membalikan telapak tangan.
Perjalanan menghantar kembali buah yang dipetik tanpa
sepengetahuan sang Empunya melalui perjalanan berliku nan terjal disertai
tetesan darah dan taruhannya adalah nyawa.
Sekali lagi, bergurulah pada yang mengalami, jangan berguru pada
yang mengatakan. Yesus yang kita Imani bukan hanya mengatakan tapi merasakan
pedihnya arti sebuah pengorbanan.
Bello, 2 April 2021
Memaknai Jumat, Agung
Mencintai Sampai Terluka (Makan Bersama)
Kami 10 bersaudara, 6 perempuan dan 4 laki-laki. Keluarga saya
sangat sederhana, bersama kedua orangtua kami tumbuh dan berkembang dalam satu
gubuk sederhana (Rumah bulat beratapkan ilalang). Justru dari dari rumah bulat
sederhana itu kami tumbuh dan berkembang dalam cinta. Karena rumah kami sangat
sederhana tidak ada meja makan.
Saya masih ingat ! Saat makan bersama kakak sulung atau mama
membagi dipiring kami masing-masing, maka dipastikan adil. Saat ada daging,
buah-buah, dirumah oleh mama disediakan piring yang terbuat dari tempurung
kelapa atau anyaman lontar, dilarang ambil sebelum pembagian selesai. Biasanya
kalau danging sedikit atau buahan tidak cukup untuk kami semua, maka yang kecil
atau bungsu paling berhak untuk itu.
Dusun kecil di kaki bukit, Oetfo namanya di huni oleh 11 KK
wakttu itu, yang masih memiliki hubungan keluarga. Tamu yang datang ke dusun
kecil itu, menjadi tamu bersama dan dipastikan diterima dengan baik.
Ketika ada orang dari dusun kecil itu yang hendak ke Kefa, maka
yang lain akan titip, entah mau beli sabun, gula atau barang lainnya. Kalau ada
kk yang sebut saja menyembelih seekor ayam atau babi kecil, dagingnya akan
dibagi untuk 11 KK yang ada di dusun itu.
Sumber air untuk kami minum hanya ada satu, itupun digunakan
oleh semua orang desa, debit airnya tidak besar namun menghidupkan ratusan
jiwa.
Kebiasaan yang tidak pernah akan saya lupakan, adalah makan
bersama. Ada balai, yang oleh orang Timor-Dawan disebut lopo. Lopo inilah yang
menjadi tempat pertemuan atau untuk makan bersama. Setiap kk membawa yang
dimasak dirumah lalu dinikmati bersama di lopo itu dengan sukacita.
Saat makan bersama itulah orang tua memberi nasehat-nasehat
sederhana yang harus kami ikuti atau saat makan bersama itulah persoalan yang
dihadapi didusun kami itu diselesaikan. Orang tua selalu mengingatkan kami yang
masih kecil untuk menghormati makanan, karena makanan itu diperoleh dengan
susah payah.
Mencintai sampai terluka, kalimat sederhana yang kaya makna. Cinta sesuatu yang mudah diucapkan tapi penerapannya lebih berat dari batu kali. Cinta antara mulut dan tindakan mestinya senada. Cinta tidak butuh wejangan – wejangan menakjukan tapi butuh tindakan nyata. Orang tua saya di dusun kami saat itu rata-rata tidak bersekolah namun teladan hidup mereka jauh lebih hebat dari seorang professor.
Yesus Sang Juru selamat benar-benar mencintai sampai terluka.
Apa yang dikatakan itulah yang dilakukan, yang dilakukan itulah yang Ia
katakan.
Di Meja makan Sang Guru meninggalkan/mewariskan sesuatu yang
luar biasa yaitu cinta. Yesus mencintai yang dicintai sampai terluka. Kakek
saya di dusun kecil kami 40 tahun silam bilang, cinta sejati terukur ketika
yang dicintai/pasangan berada pada posisi tak beruntung, bukan sebaliknya
mencintai dengan kalkulasi untung rugi.
Bello, 1 April 2021
Catatan kecil dalam memaknai Kamis Putih
Komentar
Posting Komentar