Tumbuh Bersama
Tumbuh Bersama !
Semenjak Juli 2025 saya memutuskan untuk berhenti mengajar setelah
23 tahun mengabdi sebagai seorang guru. Setelah berhenti mengajar saya focus menanam
/ berkebun dan beternak. Dengan profesi baru sebagai petani, saya belajar
banyak tentang arti hidup sederhana, tidak lagi di kejar waktu dan mengejar
waktu. Tidak lagi harus mengikuti alurnya sebuah lembaga tetapi lebih banyak
mengatur diri sendiri dan focus untuk urusan keluarga kecil.
Tahun ini saya berkebun, beberapa saat lalu kebun dibersihkan dan
ditanami jagung serta kacang-kacangan. Saya begitu bahagia ketika menyaksikan
tanaman mulai tumbuh subur. Menariknya saat tanaman (jagung) mulai tumbuh
rumputpun ikut tumbuh. Ada yang menyarankan untuk membasmi rumput dengan
pestisida. Saya mencoba menggunakan obat pembasmi rumput, ternyata kelihatannya
gersang, musim hujan tetapi kelihatanta seperti musim kemarau. Makanya saya
berhenti menggunakan pestisida dan bertekad membersihkan rumput secara manual.
Rumput tidak di tanam namun rumput berebut tumbuh bersama
jagung dan tanaman lainnya. Setiap saat saya membersihkan namun setelah
beberapa waktu kemudian,rumputpun tumbuh lagi, bahkan lebih subur dari jagung.
Di kebun saya membuat satu pondok kecil nan sederhana, ya
sekedar beristrahat saat hujan atau ketika panas terik. Kemarin saya kedatangan
tamu, karena hujan kami berdua masuk di pondok kami dan berceritera
banyak. Dalam ceritera kami satu nama
menjadi focus pembicaraan kami untuk beberapa saat. Orang yang kami ceriterakan
memang terkenal pekerja keras dan pantang menyerah. Dalam ceritera kami itu
sang tamu saya merasa prihatinan dengan orang itu. Saya mencoba meyakinkannya bahwa
memang orang itu rajin, namun tamu saya tetap tidak setuju dan merasa
prihatin dan bahkan ia mengungkapkan “kerja bunuh diri”.
Menjelang siang saya bergegas kembali untuk bersiap
menjemput pangeran kami di sekolah. Di tengah jalan saya bertemu seseorang, ia
bertanya kepada saya, “dari mana” ?. Ketika mengetahui saya dari kebun, ia
berucap “ kalau saya seperti pak, saya tidak akan kerja kebun”. Untuk apa
cape-cape kerja kebun. Saya meyakinkannya kalau memang hidup harus kerja, dia
tetap berucap kalau saya seperti pak, saya tidak akan kerja kebun.
Seperti rumput yang tumbuh bersama jagung yang saya tanam,
bahkan rumput lebih subur dari jagung, dalam kehidupn ini juga hidup beriringan
orang jahat dan orang baik. Di antara si rajin ada si pemalas. Ya ! karena ada
penjahat maka ada si baik hati, karena ada si rajin maka ada si pemalas.
Dalam hidup ini memang selalu hidup berpasangan, ada siang
ada malam, ada yang indah ada yang mengeramkan. Ada si baik hati ada si
durhaka. Memang ! kita tidak mungkin meyakinkan si buta warna akan indahnya
pelangi, kita tidak mungkin meyakinkan lalat akan indah bunga mawar. Bagi lalat
yang paling mengenakan adalah setumpukan sampah.
Seperti rumput yang tumbuh subur diantara tanaman jagung
meski tidak ditanam, si pemalaspun hidup tanpa beban diantara orang rajin,
bahkan kelihatannya lebih sehat dari si rajin. Sampai tatanan ini kita sepakat
bahwasanya yang baik dan yang jahat hidup bersama dalam satu dunia. Disinilah
kita dituntut untukm memilih dan mamilah sebab terkadang si jahat tampilannya
menawan, di depan mungkin omongannya manis tapi prilakunya mesti diwaspadai.
Seperti rumput yang tumbuh subur diantara jagung atau padi meskipun
selalu di bersihkan, si jahatpun pasti hidup enjoi di antara yang baik…
Bello, 28 Januari 2026
Tanus Korbaffo

Komentar
Posting Komentar