KALENDER MUSIM DALAM TATANAN MASYARAKAT ATOEN METO- TIMOR - NTT
KALENDER MUSIM DALAM
TATANAN MASYARAKAT ATOEN METO-TIMOR - NTT
Penulis di kebun kecilnya di Kupang, saat musim jagung muda
Saudara pembaca yang
budiman dan dicintai Allah, beberapa saat lalu saya menulis tentang atoen meto
dan tradisinya. Tulisan kali ini tentang kalender musim dalam tatanan
masyarakat atoen meto,Timor-NTT.
Setiap masyarakat adat
memiliki kalender musimnya tersendiri, sama halnya dengan atoen meto di daratan
Timor, NTT. 75 % atoen meto hidup dari bercocok tanam (bertani/berkebun) dan beternak.
Karena hidup dari
bercocok tanam, maka wajib hukumnya mengetahui tanda-tanda alam atau kalender
musim. Pada prinsipnya atoen meto mengenal dua musim yakni maputu (panas) dan
ulan (hujan).
Dalam dua musim inilah
seorang atoen meto menyusun kalender kerjanya. Atoen meto mengenal “neno/neon”
(hari) dengan sebutannya, yakni :
- neon
mese (hari senin)
- neon nua (Selasa),
- neon
teno (Rabu),
- neon
ha (Kamis),
- neon
Nima (Jumat),
- neon
ne (Sabtu) dan
- neno
naek (Minggu).
Atoen meto juga
mengenal Funan (bulan);
- fun
mese (Januari)
- fun
nua (Februari)
- fun
teno (Maret)
- fun
ha (April)
- fun
nima (Mei)
- fun
ne (Juni)
- fun
hitu (Juli)
- fun
fanu (Agustus)
- fun
sio (September)
- fun
bo (Oktober)
- fun
bo’esam mese (November) dan
- fun
bo’esam nua (Desember).
Dalam neno dan
funan-funan inilah seorang atoen meto menyusun kalender musimnya / kerjanya.
Seorang pengajar pasti mempunya kalender tahunan, kalender semester dan
kelender bulanan dan jadwal harian. Demikian juga seorang atoen meto mempunyai
program tahunan dan program bulanan, mungkin juga program mingguan.
Kalender musim atoen
meto sudah tertata rapih seirama dengan dua musim yakni ulan dan maputu.
Kalender musim atoen meto, yakni:
- Musim
pait (tebas). Pait ini terjadi pada fun nima sampai fun fanu, selanjutnya
- Musim
konot (bakar lahan). Musim konot dan fo,e terjadi pada fun fanu sampai fun
boesam mese. Seusai musim konot atau fo.e dilanjutkan dengan
- Musim
senat (tanam). Musim senat ini terjadi pada fun bo.esam mese dan pertengahan
fun bo sampai awal fun bo esam nua.
- Musim
tofas (cabut/besihkan rumput), tofas ini terjadi pada fun akhir bosem mese
dan akhir fun boesam nua.
- Musim
penam m.natu dan musim sek pena serta hon ane. Musim ini terjadi pada
bulan April dan Mei. Pada musim ini seorang atoen meto akan membuat
semacam pondok kecil di kebun / ladang. Inilah musim pasing indah dan
mengenangkan, karena makanan berkelimpahan dan ladang.
Poan (lahan disekitar
rumah) biasanya ditanami duluan sehingga pada musim penam m.natu, jagung di
sekitar rumah inilah yang masak lebih awal. Anak-anaklah yang pertama kali
menikmati penam m.natu dari poan ini.
Senat ada beberapa
jenis yakni : sen pena, sen laku, sen ane, sen tunis, sen boko,buka dll.
Senat-senat ini tidak
dilakukan bersamaan dan seorang atoen meto sudah profesor dalam menentukan
senat mana di lokasi mana.
Jenis-Jenis Ulan
(Hujan) Dalam Masyarakat Atoen Meto.
Seorang atoen meto
mengenal jenis-jenis ulan (hujan). Jenis-jenis ulan itu adalah :
- Ul
Senat
Atoen meto sudah ahli
dalam menentukan saat yang tepat harus menanam. Tidak semua ulan turun harus
menanam. Ul senat ini tidak terlalu lebat. Atoen meto tahu bahwasannya tanaman
membutuhkan air sekaligus matahari. Ada sebutan “ulan to I n.nao ne nalek”
(tahun ini hujan berjalan normal, sehingga tanaman pasti bertumbuh baik yang
pada akhirnya hasilnya juga pasti baik.
- Ul
Ane
Seperti ul senat, u
lane ini juga tidak terlalu lehat, harus pas pas. Ul ane ini berfungsi untuk
mengeras isi ane (padi). Kalau terlalu lebat isi padi dipastikan rusak, kalau
terlalu sedikit isi ane juga tidak normal.
- Ul
Upu
BMKG biasanya selalu
mengingatkan masyarakat akan badai yang kemungkinan akan melanda beberapa
daerah, dll. Atoen meto mengenal badai ini dengan upu.
Upu ini terjadi pada
musim penam m.natu. Upu oleh atoen meto dikenal up fai fanu (hujan tujuh hari
tujuh malam) disertai petir dan angin kencang. Pada up fai fanu ini seorang
atoen meto dilarang keras menebang pohon, kalau larangan ini tidak diindahkan
akan semakin memperparah situasi.
Ada kepercayaan yang
berkembang di masyarakat atoen meto, ketika upu terjadi pasti banjir
dimana-mana, ada pohon tumbang, lonsor dan bencana lainnya.
Kalau sudah ada
musibah, seperti ada yang terbawa banjir atau ada yang mati tenggelam, badai
itu akan berakhir (mungkin cuman mitos).
- Ula
Kaen Sufa
Ula kaen sufa (hujan bunga
turi/pohon gala-gala). Hujan ini berfungsi agar pohon turi / pohon gala-gala
bisa berbunga. Hujan ini juga tidak terlalu lebat dan juga tidak terlalu
ringan.
- Ul
up sufa
Seperti halnya ula
kaen sufa, ul up sufa juga berfungsi agar upun (mangga) dapat berbunga/berbuah.
Dua jenis ulan kaen sufa dan up sufa biasa membuat suhu udara sangat dingin.
- Ula
Belo
Ula belo ini sejenis
hujan gerimis dan bersifat hujan local. Hujan ini ada yang menyebutnya hujan
sambil lalu. (Belo-monyet). Seperti monyet / kera yang lompat sana lompat sini,
hujan jenis ini juga di satu wilayah hujan, wilayah / tempat lain panas.
Kupang, Sabtu 29 Maret
2025
Kayetanus Kolo
Bersambung……………………………


Komentar
Posting Komentar